Kisah Haru Relawan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 di Jombang

Feature

Rabu, 14 Juli 2021 22:20 WIB

Pria berbaju hitam duduk di dipan beralaskan triplek. Ia tampak lelah. Di wajahnya mengucur deras keringat. Seraya menghisap sebatang rokok, pria bercelana pendek hitam itu memulai percakapan.

“Maaf ya, saya tadi baru selesai mengurus pohon tumbang. Tadi kelupaan kalau sudah janjian,” kata Stephanus Maria Eduard ramah saat ditemui di Paviliun Kenanga RSUD Jombang di Jalan Jaya Negara, Kepanjen, Minggu, 11 Juli 2021.

Terhitung sejak Selasa, 6 Juli 2021 Paviliun Kenanga menjadi basecamp sementara pria yang akrab disapa Peppy itu bersama 21 temannya. Peppy adalah Koordinator Operasional Lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang.

Sudah seminggu lebih Peppy dan timnya bersiaga di sana menjadi relawan pemulasaraan jenazah covid-19.

Tergerak atas dasar rasa kemanusiaan

Masih teringat jelas di benak Peppy pada Selasa malam. Peppy sempat mendengar isu yang berhembus ada jenazah di RSUD Jombang menumpuk dan tak tertangani. Tak lantas percaya dengan kabar yang ada, Peppy mengecek sendiri rumor yang beredar dengan mendatangi kamar jenazah RSUD Jombang.

Pria kelahiran 1981 itu tak sendiri. Ia ditemani seorang teman bernama Agung. Peppy dan Agung lalu berinisiatif menawarkan bantuan untuk pemakaman jenazah yang ada.

“Saya tergerak aja, masak iya ada jenazah numpuk saya diam saja. Semacam ada panggilan kemanusiaan. Saya dan Agung langsung mendatangi RSUD untuk membantu. Kami ini relawan dan sekali lagi betul-betul pure karena rasa kemanusiaan,” imbuhnya.

Tangani 58 Jenazah dalam 2 Malam

Keesokan harinya, tepat pukul 10.00 WIB pria kelahiran Surabaya itu dikejutkan dengan adanya pemanggilan dari atasan. Peppy diminta untuk kembali ke kantor BPBD yang berlokasi di Jalan KH. Wachid Hasyim No 141 Kepanjen. Peppy dimintai keterangan atas antrean jenazah covid-19 yang viral di media sosial dan menghebohkan warga Jombang. Peppy dan timnya diduga lamban dalam proses pemulasaraan jenazah. Peppy kemudian membantah tudingan itu.

“Saya kaget waktu dipanggil. Kami selalu siaga di sini. Rumor yang menyebut jenazah sampai mengantre karena kami terlalu lambat saya rasa tidak tepat,” katanya.

Bahkan saking inginnya agar proses jenazah agar tidak sampai menumpuk, alumnus Manajemen Perhotelan UK Petra itu mengerahkan timnya dengan membaginya ke dalam tiga regu. Tiap regu berisi enam orang. Pembagian jam kerjanya 2 jam mengurus jenazah dan 4 jam beristirahat.

“Kami dari Rabo hingga Kamis mengurus 58 jenazah langsung agar tidak sampai menumpuk. Kami bagi regunya menjadi tiga. Siklus menangani jenazah dan sisanya istirahat berjalan terus sampai jenazah benar-benar tertangani semua,” bebernya.

Pemulasaraan jenazah covid oleh BPBD Jombang (Dok BPBD Jombang/Ngopibareng.id)
Pemulasaraan jenazah covid oleh BPBD Jombang (Dok BPBD Jombang/Ngopibareng.id)

Susah Bernapas selama 2 Jam

Saat dua jam bertugas, tim BPBD Jombang harus mengenakan pakaian pelindung lengkap. Yaitu pakaian berlapis yang menyesakkan pernafasan. Antara lain pakaian dinas, baju hazmat, handscoon, sarung tangan lateks, masker N95, google eye, face shield, cover shoes, dan sepatu boots. Maklum, mereka beresiko tinggi terpapar covid.

Pasalnya, kala menangani jenazah terbagi dalam tiga fase. Meja tindakan, meja kafan, dan memasukkan ke dalam peti. Pada meja tindakan petugas memandikan jenazah hingga benar-benar bersih. Jenazah lantas dikafani dan dibungkus plastik di meja kafan. Jenazah tersebut lantas diletakkan ke dalam peti dan diantar ke makam.

Di sisi lain, beruntung petugas BPBD mendapatkan fasilitas pengecekan kesehatan gratis agar aman dari covid. Peppy menyebut, ada tes rapid yang dilakukan secara rutin, dan injeksi vitamin.

“Petugas selalu menjalankan tes rapid antigen setap dua minggu sekali. Ada juga injeksi vitamin dan vaksinasi. Jika ada yang positif dan bergejala, akan dirujuk ke RSK Mojowarno. Saat ini sendiri ada 4 petugas yang terkonfirmasi terjangkit,” katanya. 

Rentan Fitnah

Di balik perjuangannya sebagai relawan pemulasaraan jenazah covid, hal yang membuat Peppy sedih adalah berita yang tersebar di masyarakat melalui media sosial. Mantan Asisten Manager Front Office Hotel itu disebut menerima gaji Rp 14 juta dalam sekali pemakaman. Akibatnya ada warga yang menolak membantu timnya dalam mengubur jenazah.

 “Medsos itu beritanya liar. Ada yang nggak mau bantu mengeruk tanah karena kata dia kami digaji Rp 14 juta per pemakaman. Lah, kalau memang benar mungkin mobil kami sudah Alphard. Terlebih kami sudah menangani 600 pemakaman,” katanya dengan tertawa. 

Sementara, agar terbebas dari beban pikiran negatif yang mampu membuat stres Peppy dan tim menyiasati dengan memperbanyak guyonan. Bahkan guyonan itu terkadang berisi curhat para petugas yang dituangkannya dalam tulisan di bagian belakang baju hazmat.

 

Tim Editor

Witanto

Editor

Berita Terkait

Kamis, 10 November 2022 21:38

Ikhtiar Pemkot Surabaya Perangi Kemiskinan Lewat Padat Karya

Senin, 24 Oktober 2022 07:57

“Saya Mengawal 5.000 Bal Tembakau ke Jerman Naik Kapal”

Minggu, 23 Oktober 2022 16:30

Tragedi Kanjuruhan, Babak Baru Sepak Bola Nasional

Jumat, 21 Oktober 2022 10:05

Diperlukan Rasa Cinta untuk Mengolah Tembakau Besuki

Bagikan Berita :