Jerit Nelayan Paciran Lamongan Sejak Pandemi Covid-19

Feature

Kamis, 27 Agustus 2020 21:49 WIB

Para nelayan Pantai Paciran Lamongan menjerit sejak krisis pandemi Covid-19 melanda wilayah mereka. Banyak di antara para nelayan tidak berani melaut selama masa pandemi ini.

Cuaca buruk semakin memperparah keadaan. Akibatnya, pendapatan mereka mengalami penurunan tajam. Padahal kebutuhan perut tidak bisa dihentikan, sehingga tak sedikit yang terjebak utang.

Sebagai tempat yang dulu dikenal hingga mancanegara sebagai kota nelayan yang menghasilkan rajungan, Pesisir Paciran, Lamongan juga menyimpan banyak kekayaan alam, terutama hasil lautnya.

Wilayah utara Lamongan yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa ini menjadi sumber penghasilan dari 20.058 nelayan. Ikan tongkol, kembung, swangi, teri, rajungan, cumi-cumi, udang, layur, tengiri, merupakan dari  beberapa ragam ikan yang biasa ditangkap oleh para nelayan Paciran.

Kondisi cuaca yang buruk dan keterbatasan modal menjadi sebuah kesulitan. Mau tak mau, utang di warung terus dilakukan demi anak istri supaya tetap kenyang.

Kesulitan ini terus mereka rasakan ketika sang anak yang masih sekolah menggunakan pola pembelajaran  daring, yang menuntut mereka harus mengeluarkan biaya tambahan.

“Pulang nggak dapet apa-apa, anak minta uang tapi nggak bisa ngasih, sesak rasanya.” Ujar Fendi, salah satu nelayan Paciran kepada tim ACT sambil menahan air mata.

Fandi Susanto, di anatara para nelayan yang saat ini mengalami keterpurukan karena terjerat utang. (Foto: Istimewa)
Fandi Susanto, di anatara para nelayan yang saat ini mengalami keterpurukan karena terjerat utang. (Foto: Istimewa)

“Saya sudah menggadaikan motor, nggak bisa mbayar, ya….sudah mau gimana lagi, Butuh buat makan sama modal melaut.” katanya.

“Ndak ada nelayan yang ndak punya utang, hampir 98 persen nelayan di sini pasti berutang. Apalagi ke bank titil, lha siapa lagi yang mau minjemin kalau ndak mereka?” ujarnya.

Tak jauh berbeda dengan Fendi, Muflichun (48) mengaku kesulitan membayar sekolah anaknya, ketika melaut hanya dapat Rp50 ribu, bahkan tak jarang pulang tanpa hasil apa pun.

“Ya gimana, Pak. Pulang ndak bawa apa-apa. Gak ada uang buat bayar sekolah, ya saya bilang ke sekolahnya saya gak bisa bayar,” tutur Muflichun.

Jeritan pilu ini adalah potret keadaan yang terjadi saat ini di pesisir Paciran, keadaan ini tak hanya menimpa Fendi dan Muflichun, hampir mayoritas nelayan pesisir Paciran mengalami hal sama. Bahkan Ridhon (70) bersama istrinya hanya memiliki rumah gubuk 2,5 meter persegi, sebab diusir menantunya dari rumahnya, sebuah rumah kayu untuk menyimpan beberapa peralatan dan sebagai alas tidurnya. Penjualan ikan yang menurun turut menyumbang kesulitan dalam hidupnya.

Suasana perkampungan nelayan Paciran, Lamongan, yang didominasi oleh keluarga prasejahtera akibat pandemi, krisis ekonomi, serta cuaca yang tidak menentu. (Foto: Istimewa)
Suasana perkampungan nelayan Paciran, Lamongan, yang didominasi oleh keluarga prasejahtera akibat pandemi, krisis ekonomi, serta cuaca yang tidak menentu. (Foto: Istimewa)

Persoalan utang, harga tengkulak yang rendah, hingga permasalahan modal inilah yang kerap dihadapi para nelayan, Apalagi banyak nelayan yang sudah tua, tak banyak anak muda yang mau melanjutkan pekerjaan melaut yang digeluti orang tuanya selama ini.

Sebagai salah satu solusi dari permasalahan ini, Global Wakaf–ACT menginisiasi program “Wakaf Modal Usaha Mikro”. Wakaf Modal Usaha Mikro akan memberikan bantuan penyaluran modal untuk para pelaku usaha kecil, termasuk nelayan.

“Tujuan pemberian modal bagi para nelayan itu untuk membebaskan mereka dari jeratan utang dan riba. Harapannya, hasil yang mereka dapat pun penuh berkah,” tutur Mashudi, Program Implimentator ACT Jawa Timur.

Mashudi menambahkan,  Aksi Cepat Tanggap terus mengampanyekan program ini ke seluruh sudut Indonesia, dalam rangka membangun kekuatan UMKM yang kuat dan berkah. Kepada para dermawan yang ingin berpartisipasi dalam program Wakaf Modal Usaha Mikro, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening BNI Syariah nomor 101 0000 262 atas nama Yayasan Global Wakaf dengan melampirkan konfirmasi bukti transfer via Whatsapp ke 081334712660 atau datang langsung ke kantor ACT Jatim yang berlokasi di Jl. Gayungsari Barat X No. 41, Gayungan, Surabaya, Jatim. Telp 031 8290570.

Tim Editor

Rizal A

Reporter

Rizal A

Editor

Berita Terkait

Kamis, 10 November 2022 21:38

Ikhtiar Pemkot Surabaya Perangi Kemiskinan Lewat Padat Karya

Senin, 24 Oktober 2022 07:57

“Saya Mengawal 5.000 Bal Tembakau ke Jerman Naik Kapal”

Minggu, 23 Oktober 2022 16:30

Tragedi Kanjuruhan, Babak Baru Sepak Bola Nasional

Jumat, 21 Oktober 2022 10:05

Diperlukan Rasa Cinta untuk Mengolah Tembakau Besuki

Bagikan Berita :