Balada Pelajar Indonesia di Luar Negeri: Pantau Covid Tanah Air

Feature

Sabtu, 24 Juli 2021 23:00 WIB

Amerika Serikat, India, dan Prancis masuk ke dalam daftar lima besar negara di dunia dengan kasus covid-19 tertinggi. Di tiga negara tersebut, ada pelajar Indonesia yang tengah mengenyam pendidikan tinggi. Mereka adalah Diyanah Afifah Ramadhaniyati, Naufal Rizkulloh, Ulfah Aulyah Idrus, dan Reza Fadli Hamdani.

Diyanah dan Ulfa menempuh master di Amerika Serikat, Naufal di India, dan Reza di Prancis. Berikut pemaparan kisah mereka.

Menjaga Kesehatan Mental

Hidup jauh dari orangtua serta teman terdekat membuat para pelajar Indonesia harus mandiri menjaga kesehatan mental mereka. Terlebih, saat ini kondisinya pandemi. Apalagi mereka menempuh pendidikan di tiga negara dengan kasus Covid-19 tertinggi dunia.

“Saya nggak terlalu nyari informasi terkait covid, misal kasusnya naik berapa dan lain-lain. Agar nggak stres saya nonton Netflix dan video lucu. Selain itu makan makanan enak. Menjaga mental penting, karena kalau down berpengaruh ke badan dan malah bisa sakit,” kata Naufal melalui Zoom Meeting pada Jum'at, 23 Juli 2021.

Senada dengan Naufal, Reza mengisi waktunya dengan bermain gim online. Selain itu berbincang dengan teman se-asramanya. “Saya nggak terlau ambil pusing atas pandemi ini. Yaudahlah jalani aja. Kalau bosen ya tinggal main gim dan ngobrol sama teman,” ucapnya.

Jaga Kesehatan dengan Taati Protokol Kesehatan

Selain menjaga mental, keempat pelajar Indonesia ini juga menjaga kesehatan mereka dengan mentaati protokol. Mulai dari memakai masker hingga menggunakan hand sanitizer. Selain itu, tak lupa juga melakukan aktivitas fisik dengan berjalan kaki.

“Tetap pakai masker, kecuali di tempat publik yang terbuka. Amerika sendiri kan sudah melonggarkan masker bagi yang sudah vaksinasi. Selain itu rutin minum vitamin setiap hari dan kadang jalan serta jogging di sekitar kompleks. Biasanya 2-3 kali,” kata Diyanah.

Senada dengan perempuan kelahiran 1996 itu, hal serupa juga dilakukan Naufal, Reza dan Ulfa. Tak hanya memakai masker, untuk menjaga imun mereka bertiga pun berolahraga setiap minggunya.

“Biasanya dua hari sekali, bisa skipping atau jalan-jalan sore,” sahut Naufal.

“Kadang jogging dan zumba selama 30 menit. Sleain itu juga jalan-jalan. Di dekat asrama saya ada hutan dan danau, jadinya asyik dan nyaman,” celetuk Ulfa.

“Sama sih, kalau saya jogging seminggu tiga kali. Per jogging setengah jam. Selain itu ngelakuin workout sampai 4 ronde,” timpal Reza.

Dipasok Sembako dan Vitamin oleh KJRI di India

Selama pagebluk, Naufal sering berkomunikasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di India. KJRI rutin menanyakan kabar serta memasok sembako pun vitamin kepadanya.

“Saya sama diplomat udah kayak teman. Sering dikirim sembako, madu, vitamin, obat-obatan dan masker,” tuturnya.

Naufal Rizkulloh (kiri atas), Ulfah Aulyah Idrus (kiri bawah) dan Diyanah Afifah Ramadhaniyati (kanan bawah) (Foto: Mutqiyyah Rizqi/Ngopibareng.id)
Naufal Rizkulloh (kiri atas), Ulfah Aulyah Idrus (kiri bawah) dan Diyanah Afifah Ramadhaniyati (kanan bawah) (Foto: Mutqiyyah Rizqi/Ngopibareng.id)

Pantau Kasus Covid di Indonesia

Kendati tidak berada di tanah air, keempat mahasiswa itu selalu memantau perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar keluarga mereka masih di sana. Salah satunya keluarga Didi. Tak hanya itu, jika tak ada aral melintang Didi ada rencana untuk bertolak ke nusantara setelah dua tahun di negeri paman sam itu.

“Mantau perkembangan kasus di Indo, sekaligus kebijakan terkait traveling. Kalau di sini belum ada kesempatan magang, kemungkinan mau balik. Makanya gencar nyari berita terkait hal itu,” katanya.

Naufal melontarkan hal serupa. Naufal memantau perkembangan kebijakan pemerintah dalam menghambat penyebaran covid.

“Saya masuk grup RT di desa, jadi tahu kondisi terkini. Selain itu mantau kebijakan terbaru, saat ini PPKM ya. Fokusnya mantau informasi penanganan covid sih,” katanya.

Saksikan Amerika Bangkit hingga Berhemat dalam Sebulan

Bagi Didi, momen yang membuatnya terbayang-bayang adalah kenangan saat 4 Juli 2021. Didi berkunjung ke monument di area Washington DC untuk melihat perayaan kemerdekaan Amerika Serikat.

“Di saat covid ini yang paling memorable itu pas 4th July. Ngelihat orang memadati monument tanpa masker. Rasanya kayak nyaksiin Amerika bangkit lagi setelah melawan badai covid,” katanya.

Berbeda dengan Didi, momen paling berkesan buat Reza adalah ketika bulan puasa. Dalam satu bulan, Reza mampu berhemat. Jika diubah ke rupiah pria kelahiran Yogyakarta itu hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 500 ribu saja.

“Waktu puasa itu sering diajak kayak remaja masjidnya warga sini. Mereka orang Prancis tapi kulitnya hitam. Baik banget, ngajak buka puasa dengan sajian yang nggak tanggung-tanggung. Ada susu satu liter, makan beserta lauk daging, hemat banget pokoknya,” katanya.

Tim Editor

Berita Terkait

Kamis, 10 November 2022 21:38

Ikhtiar Pemkot Surabaya Perangi Kemiskinan Lewat Padat Karya

Senin, 24 Oktober 2022 07:57

“Saya Mengawal 5.000 Bal Tembakau ke Jerman Naik Kapal”

Minggu, 23 Oktober 2022 16:30

Tragedi Kanjuruhan, Babak Baru Sepak Bola Nasional

Jumat, 21 Oktober 2022 10:05

Diperlukan Rasa Cinta untuk Mengolah Tembakau Besuki

Bagikan Berita :