Gus Dur, Pergi Tak Pernah Kembali

Gus Dur, Pergi Tak Pernah Kembali

DITULIS USER

Prof Dr Abdul Haris
ngopiOPINI 19 Feb 2017 WIB

Teringat lagi. 

Kehilangan tokoh yang dihormati. 

30 Desember 2009 tujuh tahun usai.

Semua orang menangisi tanpa henti. 

Orang Tionghua atau orang pribumi. 

Merasa sangat kehilangan kiyai ini. 

 

Gus Dur. 

Pembela siapa pun yang dihina dan disakiti. 

Tidak peduli bangsa dan agama yang diikuti.

Pembela rakyat di bawah jembatan dan di pinggir kali.

Seorang tokoh yang sangat pemberani.

Suarakan kebenaran apapun yang diyakini.

Pemaaf tidak pernah dendam meski kepada Megawati. 

 

Gus Dur. 

Anak zaman yang telah pergi. 

Dia telah tinggalkan sebuah tradisi. 

Keberanian meski berhadapan dengan rezim tirani. 

Tidak segan mengkritik meski diancam mati. 

Hanya Allah SWT saja yang ditakuti.

 

Gus Dur. 

Berharap banyak pada bangsa dan Negara ini. 

Untuk bisa menata dan memperbaiki kembali. 

Sistem politik dan terutama sistem ekonomi. 

Supaya semua masyarakat bisa menikmati. 

Bukan hanya umbar dan beri janji-janji. 

 

Gus Dur. 

Meski engkau telah tiada. 

Kami semua tetap akan percaya. 

Ruhmu bisa melihat kami semua. 

Engkau pasti sering beri komentar dengan kata. 

"Begitu Saja Kok Repot" ya. 

 

Gus Gur. 

Kami sangat rindu.

Kapan bisa bertemu. 

 

Bungurasih, 21 Des 2016

'Abd Al Haris Al Muhasibi

Penulis : Prof Dr Abdul Haris

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.