Surat Cinta Untuk Ahok

Surat Cinta Untuk Ahok

DITULIS USER

Naufal Madhure
Ngopi News 12 Mar 2018 WIB

Saya bingung, hendak memulai surat ini dari mana. Hendak menggambarkan kekaguman yang tak pernah padam pada Ahok ini dengan gambaran yang bagaimana. Kekaguman ini bukan seperti kekaguman yang biasa melekat di dada kebanyakan orang. Bukan. Kekaguman ini, kekaguman yang lain. Saya lebih suka menyebutnya “cinta”. Iya surat ini adalah surat cinta untuk Ahok yang jauh di luar sana.

Bapak Ahok yang saya cintai, izinkan saya menulis sepucuk surat cinta kepada bapak. Meski saya tidak pernah bertemu bapak, tetapi saya mencintai bapak, layaknya kumbang yang mencintai bunga-bunga di depan teras rumah saya. Oke, semoga bapak sehat dan baik-baik saja di sana.

Kecintaan ini lahir bukan karena bapak seorang keturunan cina, bukan karena seorang non-muslim, juga bukan karena minoritas. Bukan sama sekali. Tapi, karena bapak punya etos kerja yang tinggi, sesuai dengan semangat kerja yang diajarkan agama (Islam) saya.

Asal bapak tahu, bagi saya, tidak penting dari mana bapak lahir, apa ras bapak, apa ormas bapak, dan apa agama bapak. Yang paling penting bagi saya dari bapak adalah komitmen bapak dalam membangun negara ini. Bapak memiliki kecerdasan, gagasan, juga keberanian. Bapak  itu tidak kasar, sebagaimana acapkali dituduhkan banyak orang terhadap bapak. Tetapi anda itu tegas, Pak.

Pertama kali saya mengenal bapak, pada waktu menjadi cawagub bapak Jokowi di Jakarta. Sedikut pun tidak ada rasa kagum kepada bapak waktu itu. Saya juga tidak terlena dengan janji-janji kampanye bapak bersama bapak Jokowi. Karena saya menganggap janji-janji anda itu adalah janji palsu, lagi busuk, sebagaimana janji kebanyakan para elit pemimpin kita.

Tapi, kekaguman ini lambat laun hadir. Ia tumbuh bagai benih yang lambat laun membesar dan menguat di dasar hati yang paling dalam, seiring banyaknya janji kampanye yang bapak hadirkan ke dunia nyata kita. Saya jadi sadar, ini bukan mimpi dan bapak adalah pemimpin sejati.

Bapak punya gagasan brilliant dalam membangun dan menata kota Jakarta. Tidak saja pembangunan fisik yang anda hadirkan, tetapi juga pembangunan mental, terutama mental pejabat. Mental penjilat, mental preman, mental pengemis, juga mental perampok dan perompak yang selama ini menghegemoni Jakarta, lambat laun bapak hanguskan.

Sedikitpun, tidak ada rasa takut dalam diri bapak untuk melawan mafia-mafia anggaran pembangunan Jakarta, juga para koruptor yang doyan makan uang rakyat. Tak sejengkal pun bapak surut mengahadapi mereka. Saya masih ingat, iya, ingat sekali suatu momen, dimana bapak sedang bertengkar hebat dengan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang katanya terhormat itu, tepat pada rapat paripurna pengesahan anggaran pembangunan daerah.

Pada waktu itu, bapak berhasil menemukan banyak anggaran (anda menyebutnya anggaran siluman) yang diselundupkan oleh oknum anggota DPRD Jakarta. Bapak buka kebobrokan itu di depan publik anggota DPRD. Tak sedikit pun nyalimu ciut menghadapi mereka yang jumlahnya begitu banyak menyesaki ruang sidang.

Jujur, pada waktu itu juga saya sangat malu kepada anda. Karena anggota DPRD Jakarta yang mayoritas muslim dengan beraninya menyelipkan anggaran siluman tanpa melalui pembahasan dan mekanisme yang berlaku sebagaimana mestinya. Sedangkan bapak yang non-muslim dengan semangat menggebu-gebu meminta anggaran (siluman) dihapus. Beragam ancaman pun sontak menggelinding santer tertuju pada bapak. Tapi, tak sedikit pun bapak ciut, sebagaimana kebanyakan pejabat kita yang lain. Bapak memang hebat, Pak. Saya semakin cinta pada bapak.

Pejabat-pejabat pemerintah yang malas bekerja, yang doyan makan uang pungli, bapak kasih peringatan. Dan yang bandel, bapak pecat. Bapak memang tegas. Pejabat-pejabat nakal memang harus dikasih shock terapi, biar tidak seenaknya jadi pejabat. Makan uang rakyat, tetapi malas melayani rakyat. Emang negara ini milik nenek moyang kalian.

Tapi sayang, musibah menimpa bapak. Bapak dituduh melecehkan al-Qur’an, melecehkan Islam, dan umat Islam. Bapak didemo beribu-ribu umat Islam dengan berjilid-jilid pula. Lantas anda dipenjara. Tapi saya tetap salut pada anda.

Dalam kondisi yang tidak nyaman, bapak tetap sabar dan tersenyum, terutama ketika menghadapi vonis hakim yang menyatakan bapak harus dipenjara. Pertanda, bapak legowo dan menghargai hukum. Sungguh, saya menyayangkan peristiwa itu. Pemimpin sevisioner bapak harus mendekam dipenjara.

Meski sekarang bapak mendekam di penjara, tetapi bagi saya, anda tetap hidup di dada saya, juga di pikiran saya. Anda menginspirasi saya, bahwa jadi orang itu tidak boleh menjadi penjilat dan bermuka topeng. Harus berani lapar demi satu keadilan. Bapak adalah purnama yang menerangi gelapnya malam dengan sinar menentramkan.

Jika harus saya tulis semua kecintaan beserta kerinduan yang menguasai hati ini, niscaya kertas ini tidak akan cukup. Karena cintaku pada bapak laksna lautan tak berujung dan langit tak bertepi. Maka saya akhiri surat ini dengan satu kesan dari saya, bahwa bapak itu bukan saja pemimpin DKI Jakarta, tetapi juga pemimpin kita, pemimpin Indonesia. Demikian surat cinta ini saya buat. Sungguh saya mencintaimu, Pak Ahok. Salam!

Jika berkenan, balaslah surat cinta ini meski hanya dengan sebaris oretan tinta hitammu. Kabarnya, bapak rajin menulis (surat) dari dalam penjara. Saya tunggu balasan suratmu, Pak.

 

 

Penulis : Naufal Madhure

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.