Bersama Merawat Indonesia

Bersama Merawat Indonesia

DITULIS USER

Naufal Madhure
Politik 03 Dec 2017 WIB

Indonesia, kata itulah yang seringkali membuat saya merenung belakangan ini. Negara yang baru saja merdeka dari kolonialisme ini adalah negara yang sangat besar dan kaya. Kaya akan sumber daya alamnya, juga kaya akan adat dan budayanya. Keragaman adalah ciri utama negara ini. Baik, keragaman suku, budaya, bahasa dan agama. Tentu keragaman ini tidak dimiliki oleh negara-negara selainnya.

Alamnya, juga kaya akan sumber dayanya, sebagaimana saya katakan di atas. Rempah-rempah yang melimpah, batu bara, minyak gas, emas, permata dan sumber daya-sumber yang lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu disini. Dengan kekayaan-kekayan akan sumber daya alam ini, tentu kita bisa dengan mudah mengeksplorasi serta mengelolanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, sehingga menjadi masyarakat yang sejahtera dan makmur.

Kesopanan dan kesantunan adalah watak utama masyarakatnya. Ia adalah modal utama bagi terciptanya keakraban dan kerukunan diantara sesama dalam mengarungi kehidupan Indonesia yang beragam dan majemuk ini. Karena itu, tidak perlu heran, jika agama-agama tumbuh subur di Indonesia tanpa adanya kekerasan-kekerasan, kecuali segelintir. Pluralitas adalah keniscayaan yang harus tetap dijaga dan dirawat, demi terciptanya harmonisasi antar sesama warga Negara Indonesia.

Dalam masyarakat yang majemuk ini, saling menghargai diantara para kelompok, aliran, suku, ras dan agama merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar, karena kemerdekaan ini tidak diperjuangkan oleh satu kelompok, aliran, ras, suku dan agama tertentu, melainkan sebaliknya, diperjuangkan bersama-sama.

Untuk melindungi Indonesia dari kehancuran, kehancuran yang diakibatkan oleh penghianatan, kedzaliman dan pertikaian diantara sesama warga negara yang majemuk ini, maka founding fathers kita segera merumuskan “Pancasila” (dengan segala kontroversi serta dinamikanya) sebagai dasar negara atau world view bagi warga negara Indonesia.

Pancasila dijadikan pijakan dan dasar negara yang sudah final, tentu untuk melahirkan keadilan, persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan tanpa memandang dari kelompok, aliran, ras, suku dan agama apa mereka lahir. Pancasila, dengan Bhinneka Tunggal Ika sebagai jargonnya harus dijunjung tinggi dan menjadi amaliyah keseharian kita sebagai warga negara Indonesia. Keadilan, persatuan dan kesatuan merupakan cita-cita bersama founding fathers negeri ini.

Namun, justru yang terjadi belakangan ini bertolak belakang dan tidak berbanding lurus dengan Indonesia yang ideal dan cita-cita luhur mereka. Sebagaimana kita mafhum, bahwa hari ini, Indonesia sedang mengalami persoalan-persoalan yang sangat kompleks dan cukup pelik. Kompleksitas persoalan ini, dalam tinjauan Nurcholish Madjid (2003), disebut ”krisis multidimensional”, yaitu krisis yang tidak hanya ada pada bagian sesuatu tertentu, tetapi meliputi semua segi kehidupan bangsa. Lebih lanjut, beliau menyebutnya sebagai gambaran tentang kerusakan bangsa dan negara yang menyeluruh.

Supaya persoalan yang sedang menimpa Indonesia ini menjadi cukup jelas di hadapan publik (pembaca), maka penulis akan menyajikan beberapa bagian dari persoalan yang dimaksud dengan merunut pada fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini.

Kekayaan alam yang pada hakikatnya harus dikelolo oleh negara untuk mensejahterakan negara (baca: bangsa Indonesia), alih-alih demi pembangunan dan kemajuan, kini dieksploitasi tanpa ampun oleh para pemilik modal yang berselingkuh dengan oknum birokrat negeri ini. Salah satu contohnya adalah tambang mas di Papua yang dieksploitasi oleh PT. Freeport, Batu Bara, Migas dan lain-lain.

Uang negara, yang sejatinya harus digunakan untuk pembangunan dan kesejahtreraan rakyat, malah dikorupsi tanpa henti oleh oknum-oknum pejabat kita, baik yang ada di lembaga eksekutif, legislatif dan bahkan yudikatif. Ironisnya, tindak kejahatan korupsi ini dilakukan secara berjamaah.  Korupsi sudah menjadi pemandangan yang sangat akrab di negeri ini. Mereka antipati dan apatis dengan kemiskinan yang sedang melilit negeri ini.

Juga, perpecahan dan pertikaian antar kelompok, aliran dan bahkan agama, kian menajam. Kelompok yang satu menghujat dan memfitnah kelompok yang lain. Ada yang menuduh yang lain anti agama (baca: Islam), bahkan kafir, juga ada yang menuduh yang lain anti Pancasila dan NKRI. Ada yang menuduh yang lain sesat, juga ada yang menuduh yang lain radikal. Kebencian dan konflik horizontal kian hari semakin menyesaki dunia keseharian kita.

Di luar sana, juga masih ada banyak persoalan-persoalan yang tak kalah mudharatnya, seperti dekadensi moral di kalangan pemuda dan pelajar kita. Pergaulan bebas, narkoba, pemerkosaan, perampokan dan pembunuhan serta kejahatan-kejahatan lainnya semakin tak terkendali dan merajalela.

Begitu disayangkannya, jika Indonesia harus jatuh dalam kubangan kehancuran yang diakibatkan oleh egoisme masing-masing kelompok, ras, suku dan agama, bahkan oleh hasrat politik para elit di dalamnya. Beribu-ribu nyawa telah dikorbankan demi merebut kemerdekaan tanah air ini dari cengkraman tangan-tangan kotor para penjajah. Jadi terlalu berharga jika Indonesia harus menjadi tumbal keserakahan manusia-manusia amoral di dalamnya.

Persoalan-persoalan yang sangat kompleks dan cukup pelik diatas, tidaklah mudah sebenarnya dicarikan jalan keluarnya, akibat debu tebal persoalan yang menyelimutinya. Tapi meski begitu, kita tidak boleh diam, jika tidak ingin melihat negeri (Indonesia) ini hancur. Hemat saya, satu-satunya jalan keluar persoalan pelik yang sedang menjepit kita ini adalah usaha bersama merawat Indonesia, sebagaimana telah diingatkan oleh Bung Karno beberapa tahun silam dengan istilah “gotong royong. Merawat bersama, menyembukannya dari penyakit kronis yang sedang menimpanya.

Hari ini, kita harus segera sadar, bahwa persoalan Indonesia hari ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh segelintir orang dari masing-masing kelompok, ras, suku dan agama, melainkan harus ada kerja sama (kolektif kolegial) yang integratif dari masing-masing kelompok dan lain-lain yang saya sebutkan diatas. Hal ini senada dengan apa yang pernah disampaikan Bung Karno, samen bundeling van alle krachten van de natie”, “pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa”.  

Bukan waktunya lagi, saling gontok-gontokan antar sesama anak bangsa hanya karena berbeda warna kulit, warna baju, bahasa, kelompok, aliran dan agama. Sudah saatnya, kita yang meyakini “Bhinneka Tunggal Ika” saling berpangku tangan menyelesaikan persoalan-persoalan. Mari tinggalkan egoisme dan buang jauh-jauh perasaan paling benar sendiri demi Indonesia Kita. Mari bersama merawat Indonesia.

 

Penulis : Naufal Madhure

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.