Maiyah Kehidupan

Maiyah Kehidupan

DITULIS USER

Nasih Farihuddin
ngopiNEWS 15 Jun 2017 WIB

 

Sudah lama saya memendam hasrat untuk menuliskan secarik pengalaman, mengenai sosok yang saya kagumi di Tanah Jawa ini, bil khusus Jawa Timur. Ketika mendengar ada pengajian Mbah Nun, seketika pula saya ingin datang. Waktu itu saya mendapat postingan dari salah seorang teman bahwasanya ada acara Maiyah yang akan dihadiri oleh Mbah Nun. Membayangkan betapa senangnya jika bisa bertemu kembali dengan Mbah Nun, dengan atmosfer yang luar biasa, tanpa membeda-bedakan sekat-sekat kelas, dari yang punya jabatan, masyarakat biasa, mahasiswa, birokrat, semuanya duduk bersama dengan sangat teduh. Saat itu rasanya tak mungkin saya bisa hadir dalam kumpulan masyarakat Maiyah. Karena berlangsung malam hari dan sampai dinihari baru selesai atau bahkan sampai subuh, cuaca juga sedang hujan. Tak punya undangan (saya bukan siapa-siapa, dan bukan orang yang perlu diperhitungkan). Tetapi saya ingin kesana, sekedar meneguk tipis-tipis-tipis hikmah dari setiap tema yang dieksploitasi oleh Mbah Nun dalam Maiyah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak terduga, jam 11 malam sontak ada teman yang nelpon, yang intinya nawari ngajak berangkat ke Maiyah bareng, kebetulan mereka baru sampai surabaya pada maghrib, mereka dari Yogja yang niatnya ke Surabaya untuk liburan dan kebetulan pas ada acara Maiyah, maka sekali dayung dua pulau terlampau kata mereka, lantas mengajak saya bareng ke TKP bersama teman rombongan lainnya didalam mobil. Kedatangan kami serombongan agak terhambat karena macetnya jalanan surabaya, padahal teman saya yang nyetir sudah ngebut mengendarai mobil. Pas nyampek TKP, luar biasa area Balai Pemuda full dengan lautan manusia. Bahkan kamipun udah tak kebagian tempat untuk sekedar duduk bersila. Terpaksa kami berdiri untuk sementara. Sebelum dapat tempat berduduk bersama. Saya melihat lautan manusia begitu tertib, tertata, semua bisa menempatkan diri dengan baik. Dan kamipun langsung menyimak acara yang baru saja di mulai oleh Mbah Nun. Undangan yang hadir, dari Yang mewakili Gubernur, Birokrat, Para Pejabat Daerah, Ulama Ustadz dan tokoh-tokoh lainnya Kyai, dan masyarakat maiyah baik yang dari kota hingga ke pelosok-pelosok, pokoknya seluruh lapisan masyarakat tumplek blek jadi satu . Melihat kharisma Mbah Nun dari dekat, mengalahkan minat saya untuk bertemu dengan presiden RI 1 yang sekarang. Hehe. 
Popularitas serta kecintaan rakyat kepada seorang Emha Ainun Najib, hampir menyamai kecintaan rakyat kepada Presiden Soekarno pada jamannya. Mengingat pada zaman dulu perhatian rakyat kepada mendiang Presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno, ketika kunjungan ke daerah, sedangkan ada pengumuman bahwa pada hari dan jam sekian akan ada pidato presiden, maka sebelum waktunya acara, jalanan menjadi sepi, tak ada seorang yang lalu lalang, karena orang-orang sudah berkumpul ditempat orang-orang yang memiliki radio, karena mereka sangat berharap untuk bisa mendengarkan pidato dari Bung Karno. Meskipun Ainun Nadjib bukanlah seorang presiden. Jadi silahkan teman-tan menarik perbandingan.
Kita jangan pernah lupa, bahwa Mbah Nun inilah termasuk deretan pertama orang-orang yang menjadi katalisator atau jembatan penyambung antara rakyat yang merasa tertindas oleh pemerintahan Pak Harto, yang masih enggan melepaskan jabatannya yang sudah disandangnya 30 tahun sebagai Presiden Republik Indonesia. 
Orang-orang banyak yang membicarakan kharismanya. Ada yang membicarakan gaya oratoriknya. Ada yang membicarakan eksentrik beserta ke-mbelingan-nya (makanya disebut sebagai Kyai Mbeling), Namun bagi saya, melihat Mbah Nun adalah tentang kejeniusannya dan jiwa sosialnya yang peduli pada wong cilik.Di Indonesia, banyak orang genius. Tapi geniusnya hanya dalam satu bidang. Banyak seniman besar. Tapi kesenimanannya hanya di satu seni. Banyak sekali para intelektual. Tapi intelektualitasnya hanya untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Dan banyak kyai, namun hanya bisa dekat dengan kelompoknya yang sealiran madzabnya, yang berlainan madzab dianggapnya bukan orang yang perlu disapa ataupun didekati. Ulama yang senang ngaferke uwong (mengkafirkan orang), dan memecah belah seperti kejadian akhir-akhir ini. Jiwa negarawan nya juga sangat tinggi, yang mengajak masyarakat tetap optimis akan masa depan Indonesia, di tengah ke-bulshi-an pemerintahan.
Mbah Nun sosok yang serba bisa, geniusnya adalah jenius yang total, kesenimanannya adalah juga membumi, intelektualitasnya menjangkau seluruh keilmuan, jiwa sosialnya merangkul seluruh lapisan masyarakat dari tingkat petinggi negara hingga rakyat jelata, tanpa membeda-bedakan. Yang beda dimata Mbah Nun adalah orang baik dan orang tidak baik, itu saja menurutanya. Dakwahnya adalah Islam yang kaffah, yang menyeluruh, sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Islam yang santun. Islam yang penuh kedamaian. Islam yang pemersatu bukan Islam yang menceraiberai. Islam yang mengajak kepada Tauhid Yang Satu, bukan Islam yang banyak warna. Maka bagi saya, apa itu Islam? Islam itu ya seperti yang sering didengungkan oleh Mbah Nun, Islam yang meneladani Baginda Nabi SAW. Yang santun. Bukan Islam yang menurut kepentingan dan tafsiran diri, bukan Islam yang untuk kepentingan kelompok, yang penuh dengan intrik-intrik politik dan perpecahan dimana-mana. Yang mengutamakan atribut, bendera serta baju masing-masing. Seketika ada salah seorang Maiyah bertanya, Cak, carane urip sukses niko dos pundi toh pak? Uripku kok soro terus, ga ono perubahan.
Sedikit kutipan Mbah Nun yang sering keluar.Waman yattaqillaha yaj’al lahu makhroja, wayarzuqhu min khaitsu la yahtasib, waman yatawakkal’ala allah fahuwa hasbuhBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..." [Ath-Thalaaq (65) : 2-3] Secara terminologis, kata “taqwa” berarti menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Jadi jika kita bertaqwa kepada Allah SWT, maka Allah menjanjikan 2 hal : 1. Memberi jalan keluar bagi setiap masalah yang dihadapi. 2. Memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya Dan jika kita bertawakkal kepada Allah SWT, maka Allah SWT. akan mencukupkan segala keperluan kita. Lalu apakah yang dimaksud dengan tawakkal? Tawakkal adalah menyandarkan hati dan bergantung harap, atas hidup dan kehidupan kita sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. semata, lain tidak. Mbah Nun lalu melanjutkan dengan gaya khas nya :”Uwong urip kuwi, angger gelem nglakoni rong perkoro iki, wis mesti bakal kepenak uripe. Sing sopo taqwa bakal entuk solusi urip, lan bakal entuk rejeki sing ra disongko-songko. Lan sing sopo tawakkal, bakal kecukupan kabeh keperluane ! Iki dudu aku sing omong, nanging Allah piyambak sing menjamin” Sebagaimana Rasulullah SAW pernah membacakan dua ayat ini kepada Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Seandainya manusia mengambil ayat ini sebagai landasan dia di dalam mencapai kebutuhan hidupnya, maka (dua) ayat ini cukup." Maka sandarkan segala urusannya kita di dunia kepada Allah, artinya seberapa besar tawakkal kita maka, sebesar itu pulalah Allah akan mencukupkan kebutuhan kita. Jika teman-teman punya hajat, atau urusan, dan segala macam perkara problema duniawi yang sulit diurai, maka perbaikilah taqwa dan tawakkal kepada Allah SWT. Janji FirmanNya sudah sangat jelas. Jika kita bertaqwa (menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya), maka niscaya Allah akan membukakan jalan keluar bagi kita. Dan Allah SWT. akan memberi rezeki kepada kita, dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Kitaa tak perlu pusing-pusing, tak perlu stress memikirkan segala kebutuhan kita. Mari kita berusaha menjadi orang yang bertaqwa dan belajar menjadi orang yang tawakkal. Semoga kita senantiasa dimudahlan segala urusan. Dilancarkan semuanya serta diberi hidup yang berkah, atas ridhoNya. Amin Sebagai pamungkas tulisan, Mbah Nun berbicara: ”Kamu sekalian tak perlu ingat aku, tak perlu mengenangku, tak perlu mendewa-dewakan aku. Aku ini sama sepertimu, manusia yang masih selalu khilaf dan banyak dosa. Lha kok kamu mau berkiblat ke aku, ya salah besar noh. Tetapi yang harus selalu kamu ingat dalam hatimu, dalam pikiranmu, dan dalam jiwamu setiap saat, adalah Allah SWT. dan Rasulullah SAW !” Aku sama sepertimu, yang dalam hidup ini harus terus mencari dan mencari kesucian, sepanjang waktu, dengan berbuat baik kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

Penulis : Nasih Farihuddin

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.