bermula dari Adam

bermula dari Adam

DITULIS USER

Nasih Farihuddin
ngopiNEWS 15 Jun 2017 WIB
Mula-mula di waktu kecil kita diberitahu bahwa manusia pertama kali hidup indah di Surga. Adam adalah satu-satunya saksi kunci senikmat apa surga. Kemudian, karena suatu alasan, manusia diusir turun ke bumi. Jadinya, seperti inilah kita kini.
Saat di bumi, Adam mengerti kenyataan ini harus dijalani. Allah menghukum dengan cara yang edukatif. Allah memberi kesempatan kedua agar hidup dijalankan lebih bertanggung jawab. Dengan semua ingatan saat di surga, sedapatnya seperti itulah yang akan dibangun Adam di bumi. Bumi adalah usaha dari citra kognitif Adam untuk mereplikasi surga.
Cerita berganti, anak-anak Adam hidup damai. Adam menciptakan aturan agar suasana bumi kondusif. Adam telah melakukan langkah antisipasi. Hingga satu waktu terdengar kabar, salah satu mereka meninggal tak wajar. Seorang anak meninggal di tangan anak yang lain. Alasannya basis, ada ketidakpuasan atas aturan, ada iri hati yang tak terwakili. Aturan demi ketertiban pun bisa membuat orang justru tidak tertib. Kerja keras dan prestasi pun bisa membuat orang iri.
Adam bersedih, meski Allah tidak akan menghukumnya dengan cara pertama. Bumi adalah dataran terendah untuk perintah jadi kholifah. Tidak mungkin Adam dikirim ke dataran lebih rendah lagi. Adam hanya mampu terus berdoa memohon ampun. Dan berharap kelak manusia tidak mengulang kesalahan-kesalahan berikutnya.
Sepeninggal Adam, bumi makin ramai. Nasib semua orang akhirnya diserahterimakan pada hukum alam. Mula-mula individual, kemudian masal, dan berikutnya terbentuk berkelompok dalam proses formasi sosial. Manusia lalu makin pintar, makin mengerti bahwa alam bisa dipelajari sebagaimana juga pada diri mereka sendiri. Kemudian manusia sadar, bahwa semuanya bisa dicapai lewat belajar.
Manusia secara alamiah membentuk kelompok-kelompok, mereka bergerombol dan menjauhkan satu kontingen dari kontingen yang lain. Kontingensi ini berubah jadi kategori ras, suku, dan kebudayaan. Manusia mulai mampu menciptakan batasan dirinya lewat kesepakatan ilmu. Selanjutnya, manusia makin pintar dan makin bisa diajak bicara. Mendialogkan rangkaian penciptaan ini untuk upaya memperbaiki masa depan.
Teologi Bernegara
Bagi Tuhan, manusia itu subjek ujian. Tuhan itu variabel manusia, manusia bukan variabel Tuhan. Manusia diciptakan hanya untuk diuji. Ujiannya satu, bersujud dengan cara benar. Bagaimana cara benar itu? Manusia harus mencarinya sendiri dengan bimbingan akal, agama dan kitab suci. Agama ada banyak, dan kitab suci ada lebih banyak lagi.
Agama pertama berjalan seperti seharusnya. Ia menjanjikan aturan yang relevan dengan jalan keselamatan. Mereka yang tertarik, akan masuk dan berproses. Bagi yang tidak, akan menyusun cara lain untuk bertanding. Tandingan kekuatan fisik jadilah suku dan kerajaan. Tandingan kekuatan yang lebih beradab jadilah kepercayaan atau agama baru. Sejak saat itu, setiap rombongan keselamatan bersaing, bertanding, dan saling mengalahkan.
Orang akhirnya mengenal pentingnya bikin kategori rombongan. Karena dirasa perlu menertibkan banyak kategori, maka muncullah aturan yang lebih memayungi. Lahirlah negara. Tugas negara adalah mengorganisasi banyak rombongan bahwa semuanya harus fokus pada tujuan keselamatan. Kata negara, jalan keselamatan tidak akan terkejar jika waktu habis hanya untuk pertandingan.
Jadi, meski negara tidak lancar bicara tentang keselamatan ukhrowi, ia terbukti lebih menyelamatkan lewat cara dunia. Negara adalah kekuatan duniawi penjaga antar agama-kepercayaan agar mereka tidak terus kembali ke hobi lama, konflik. Faktanya, kebaikan cita-cita agama-kepercayaan tidak dibarengi dengan pengendalian diri. Negara diturunkan Tuhan untuk terus mengingatkan bahwa semua agama-kepercayaan jangan sampai lupa pada kebaikan.
Mentaati negara adalah hal baik. Ketaatan tidak perlu dibahas rumit, taat pada negara-tunduk pada Tuhan. Mentaati negara bararti juga mentaati agama, melestarikan agama, sekaligus terus konsentrasi pada jalan keselamatan. Misi utama agama bukan perang dan berebut status keselamatan terbaik. Misi utama agama cocok dengan misi utama negara. Kerjasama antar keduanya akan selalu mengingatkan pada kisah penciptaan.

Penulis : Nasih Farihuddin

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.