Tahun Politik dan Plasebo Efek

25 Apr 2018 13:47   Politik
Tahun Politik dan Plasebo Efek
Untuk Indonesia yang lebih baik

Fenomena Plasebo Efek menjadi ruam dan ramai. Pasalnya seorang Dokter dikatakan melangar kode etik nya. Ya, dr. Terawan Agus Putranto. Dalam terapinya diindikasikan Plasebo. Plasebo, secara harafiah berarti "I will please", yaitu motivasi kesembuhan bagi pasien kemudian diberikan sentuhan atau tindakan. Dan kebanyakan para penderita penyakit terutama osteoartritis atau OA dapat sembuh dari rasa nyeri.

 

Sebenarnya telah diperkenalkan sejak Abad ke-17 silam. Seperti dalam kutipan fenomenal Thomas Jefferson "One of the most successful physician I have ever known has assured me that he used more bread bills, drops of coloured water, and powders of hickory ashes, than of all other medicines put together" Seorang ahli fisika sukses dan terkenal telah meyakinkan saya, bahwa dia menggunakan roti, tetesan air berwarna dan bubuk abu bakar daripada obat-obatan lainnya.

 

Dalam konteks tulisan saya ini, melihat sisi plasebo efek dari kaca mata dialektis politik. Bukan pengertian secara medisnya. Maka plasebo menciptakan efek psikologis, tekanan darah dan kosentrasi aktifasinya buka pengertian sebenarnya ala cuci otak (terapi) dr.Terawan. tetapi lebih pada meringankan efek sampingnya.

 

Saya hanya melihat korelasi dialektif pengertian plasebo efek dengan situasi politik nasional yang kian memanas. Dalam posisi ini, saya objektif murni menjadikan posisi dr.Terawan adalah sebagai super hero atau mampu menciptakan harapan-harapan hidup bagi pasiennya.

 

Bagaimana dengan para calon pemimpin di tahun politik 2018 dan 2019, tentu akan melakukan berbagai upaya dan cara-cara untuk menciptakan plasebonisasi. Ini tren atau model menggerakan sebuah ide berangkat dari ide dan gagasan yang baik. Nah, jika masyarakat menolak seseorang calon pemimpin tersebut. Maka dia berhak, karena itu hak konstitusional. Jangan lagi ada metode cuci otak yang dari bahasa internal profesi kedokteran melangar kode etik. Bahkan seorang dokter pun tidak dapat di intervensi oleh siapapun walau itu seorang presinden. Karena dia berjalan atas nilai-nilai keprofesian (kode etik).

 

Bagaimana posisi rakyat. Tentu mereka berjalan atas landasan nilai-nilai norma (etics law). Karena rakyat telah cerdas. Bahkan di tangan mereka adalah dunia tanpa batas dalam pengertian era digital abad 4.0.

 

The end