Kasus Ott Lurah Lidah Kulon Murni Pidana

24 Jul 2019 00:13   ngopiBEBAS
Kasus Ott Lurah Lidah Kulon Murni Pidana
Ilustrasi

SURABAYA - Ketua Presedium Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Tri Daya Cakti, Briyan Emanurio mendesak pihak kepolisian Polrestabes Surabaya blak-blakan terkait Operasi Tangkap Tangan Lurah Lidah Kulon, Budi Santoso dan pihak swasta Suroto.

Seyogyanya menurut Briyan pihak kepolisian tidak melimpahkan proses hukum tersebut pada Inspektorat Pemerintah Kota Surabaya. Sebab, kata dia. Kasus tersebut tergolong kasus pidana murni.

"Pemberi dan penerima suap harus dipukul rata, ini pidana murni"kata Briyan, Selasa (23/7).

Penerima suap, yakni Lurah menurut Briyan dapat dijerat menggunakan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan terhadap penyuap (Suroto) dapat  disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Briyan menambahkan, kecuali Suroto melaporkan pada kasus ini adalah merupakan bentuk pemerasan.

"Makanya pihak kepolisian harus blak-blakan menerangkan kronologis perkara ini  dengan gamblang, bukan malah melimpahkan pada Inspektorat," kata dia. 

Seperti diketahui, Lurah Lidah Kulon Budi Santoso terjaring OTT bersama dengan Suroto, makelar tanah yang memberikan suap, pada Kamis malam (18/7) sekitar pukul 19:00 WIB, di Depot Anda, Jalan Simpang Dukuh Permai Selatan III, Surabaya.

Sebelum ditangkap, Suroto mengambil sesuatu dari dalam jok motor yang ia parkir dihalaman Depot Anda dan menuju mobil BS.

Suroto lantas meletakkan uang yang ada di dalam tas kresek hitam ke kursi penumpang depan pada mobil Budi Santoso.

Setelah ditangkap, Pihak kepolisan mengamankan sejumlah barang bukti berupa uang sebesar Rp. 35 Juta beserta Handphone milik Budi Santoso.

Adapun demikian, mobil Budi Santoso oleh polisi tidak disegel atau di Police Line. 

Kasus pidana tersebut oleh polisi dilimpahkan pada inspektorat Pemkot Surabaya. Sehingga, Budi Santoso maupun Suroto sama-sama belum diproses hukum  oleh petugas paska OTT.

Lurah Budi Santoso ini terjaring OTT terkait kepengurusan sertifikat tanah milik Seniti dan Tarimah, warga Lidah Kulon, Surabaya.

Sertifikat milik Seniti dan Tarimah ini terbit dari program PTSL dititipkan Budi Santoso ke notaris Julia Seloadji dengan bukti tanda terima yang dikuasi Budi Santoso.

Untuk mengambil tanda terima penyerahan sertifikat di notaris tersebut, Budi Santoso deal-dealan duit dengan makelar Suroto.

Makelar Suroto sepakat untuk memberikan uang Rp. 50 juta kepada Budi, dengan pemberian pertama sebesar Rp. 35 juta.

Uang tersebut berasal dari calon pembeli dua obyek tanah dari sertifikat hak milik atas nama pemilik Seniti dan [email protected] [Dem].

 

Sumber: Xtrempoint