Terbelit 3 Kasus Penipuan Dan Penggelapan, Sandiaga Tersangka

09 Apr 2019 14:27   Politik
Terbelit 3 Kasus Penipuan Dan Penggelapan, Sandiaga Tersangka
TERBELIT 3 KASUS PENIPUAN DAN PENGGELAPAN, SEHARUSNYA SANDIAGA SUDAH MENJADI TERSANGKA
Rupanya ada maksud lain dari pencalonan diri Sandiaga sebagai Cawapres. Dia hendak cuci tangan dari 3 buah kasus yang sudah komplit daftar saksi dan buktinya.

Rupanya tangan santri dan ulama dadakan ini tidak hanya kotor namun berkubang lumpur. Semuanya tidak lepas dari keserakahan untuk mendapatkan harta kekayaan.

Seyogyanya jika bukan karena posisinya saat ini sebagai Cawapres, Sandiaga sudah mendekam di dalam bui. Petualangan Sandiaga juga terbilang panjang. Mulai proyek pembangunan wisma atlet dengan bendera PT DGI hingga pembelian saham PT Garuda yang terakhir adalah kasus penipuan dan penggelapan.

Namun posisinya yang hingga kini belum menjadi tersangka Sehingga banyak pihak yang menilai jika Sandiaga adalah sosok yang tidak tersentuh oleh hukum (untouchable).

Kasus  teraktual yang menjadi bukti jahatnya Sandiaga Uno adalah kasus Depo Pertamina di Balaraja Banten. Dalam kasus Depo Pertamina itu Sandiaga dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh pemilik PT Pandan Wangi Sekartadji (PWS), Tri Harwanto dan Jhoni Hermanto.

Tidak tanggung-tanggung, dalam laporantersebut, Sandiaga melakukan 3 tindak pidana sekaligus yakni, penipuan, pemalsuan dokumen serta melakukan tindak pidana korupsi.

Para pelapor itu menuturkan jika mereka merasa tertipu oleh Sandiaga. Konon antara kedua belah pihak sempat membuat perjanjian jual beli dengan cara mencicil. Namun tanpa sepengetahuan mereka Sandiaga sempat menyelipkan klausul perjanjian (suppplement aggrement) palsu. Atas dasar perjanjian itulah Sandiaga mencari pembiayaan dari pihak bank baik  bank nasional maupun bank asing.

Selain sengketa dengan PT PWS, Sandiaga juga menggunakan lahan yang bukan miliknya sendiri untuk diberikan PT Pertamina. Konon Sandiaga menggunakan lahan seluas 20 Ha itu untuk pembangunan Depo Pertamina di Balaraja, Banten.

Celakanya lahan yang digunakan oleh Sandiaga itu kemudian hari diklaim sebagai miliki Edward Soeryajaya. Sandiaga dituduh telah menguasai lahan tersebut dengan memalsukan sertifikat tanah No. 31 milik Edward Soeryajaya dengan menerbitkan sertifikat palsu No. 32. 

Tujuan Pemalsuan sertifikat tanah milik Edward itu agar Sandiaga Uno bisa mencairkan klaimnya ke Pertamina sebesar US$ 12.8 juta.

Dengan menggunakan dokumen yang diduga palsu itu, Sandiaga Uno sempat mencairkan uang dari PT Pertamina senilai US $ 6,4 juta atau sekitar Rp 64 M, nilai itu adalah 50 persen dari nilai total klaim sebesar US $ 12,8 juta. Belakangan PT Pertamina menghentikan pembayaran sisa dari klaim yang diajukan Sandiaga, setelah pihak Edward Soeryajaya melayangkan gugatan.

Anehnya hingga saat ini perkembangan kasus itu tidak jelas juntrungannya. Untuk urusan seperti itu bagi Sandiaga bukanlah persoalan yang sulit. Selain memiliki jaringan politik, uang buat Sandiaga bukanlah persoalan.

Maklum pundi-pundinya telah menggelembung dari berbagai proyek yang dimilikinya. Bahkan Sandiaga sempat membeli saham maskapai penerbangan nasional Garuda hingga Rp 300 M. Pembelian itu juga berkongsi dengan Nazarudin.

Uniknya keluarga William Soeryajaya ayahanda dari Edward Soeryajaya sebenarnya memiliki ikatan dengan sejarah hidup Sandiaga sendiri. Konon keluarga pemilik Bank Summa ini ikut membantu ketika Sandiaga masih kuliah diluar negeri.

Karena saat itu ibunda Sandiaga, Mien Sandiaga Uno adalah konsultan diperusahaan Edward Soeryajaya.

Maka banyak pihak yang menilai jika perlakukan Sandiaga terhadap keluarga Edward itu tak ubahnya dengan peribahasa air susu dibalas dengan air tuba. 

Menurut salah satu sumber, saat ini jika Sandiaga tidak ditangkap lebih karena posisinya sebagai Cawapres. Jika Sandiaga ditangkap, dikhawatirkan akan terjadi chaos.

Kita hanya berharap semoga Sandiaga tidak menjadi cawapres. Apa jadinya bangsa ini jika pemimpinnya seorang penipu yang licik. Keluarga angkatnya saja ditipu, apalagi rakyat.