Uje : Pecandu Narkoba Menjadi Pecandu Agama

03 Oct 2019 15:08   Feature
Uje : Pecandu Narkoba Menjadi Pecandu Agama

Narkoba membuat seseorang kecanduan olehnya. Beberapa artis bolak-balik tinggal di  hotel prodeo karenanya. Tapi Uje sadar bahwa narkoba telah memporak-porandakan  hidupnya menjadi gelap gulita selama 12 tahun lamanya. Hal itu memotivasinya menjadi ustadz supaya terlepas dari rayuan maut narkoba. Dakwah dengan hati akhirnya sampai ke hati, yang membuat dia disayangi oleh umat mulai masyarakat biasa, artis, pejabat, non islam bahkan media.

Uje kecil

Uje dibesarkan oleh keluarga yang taat dengan agama. Ayahnya, H. Ismail Modal mendidik semua anaknya disiplin agama. Ketika anaknya lupa shalat dan mengaji, tidak segan memberi snksi tegas kepada anaknya.

Dia memiliki keinginan kuat untuk menjadikan anaknya sosok ustadz. Hal itu mengantarkan Uje menimba pendidikan di Pondok Pesantren Modern Daar El Qolam, Ginting, Bolaraja, Tangerang.

Ketika masuk di pesantren, minat agama meningkat karena dia rajin membaca Al-Qur’an dengan alunan suara yang merdu dan mengikuti pengajian. Minat seni mulai membara pada jiwanya, karena dia berhasil menjuarai lomba Adzan, MTQ dan Qosidah.

Namun karena merasa terkungkung dengan aturan pesantren, membuatnya  menjadi santri yang bandel. Ketika temannya shalat berjamaah, dia sibuk tidur. Dia juga bolos nyantri karena menonton di bioskop. Al hasil sering mendapat hukuman, kepalanya dibotaki.

Merasa tak nyaman dengan hukuman itu. Membuatnya untuk keluar pesantren. Meskipun ayahnya sangat kecewa dan marah, tapi masih mau memindahkanya di MA (Madrasah Aliyah), berharap kebandelannya berkurang.

Masa Kelam Uje

Sekolah di MA, tidak membuatnya menjadi baik namun semakin memburuk menuju masa kelamnya.

Ayahnya yang masih kecewa dengannya. Membuat dia merasa tertekan, sehingga dia berusaha bergaul dengan teman sebayanya di MA.  Dalam benaknya, anak-anak MA yang dibesarkan di lingkungan agama pasti baik, hal itu membuatnya mudah percaya.

Saat istirahat, Uje diajak temannya di kantin. Disana dia ditawari gratis barang yang bisa membahagiakannya di tengah stres. Mudah percaya membuat dia mencobanya.

Sekali mencoba, membuatnya ketagihan. Sering kali dia bolos, nongkrong ke kantin hanya untuk mengkonsumsi narkoba dengan sembunyi-sembunyi.

Kelakuan itu yang membuat pihak MA, tidak bisa mentolerir sehingga dia dikeluarkan dari sana.

Melanjutkan di sekolah baru. Ulahnya semakin menjadi-jadi. Dia mulai berkenalan dengan dugem, miras, semakin mesra dengan narkoba. Bahkan alunan musik di diskotek membuatnya bergoyang-goyang bak penari handal, sehingga di dapuk sebagai penari malam di beberapa diskotik, dan menjadi model.

Merasa sudah  bisa berkerja, dia melupakan tugas belajar. Saking capeknya karena sering pulang malam, membuatnya tidak masuk sekolah, hanya ketika ada ujian aja masuk. Tujuan dia sekolah hanya mendapat ijazah saja, meskipun  begitu dia tetap lulus.

Uje melanjutkan sekolah di Akademi Broadcasting, Rawamangun, Jakarta Timur. Dia mulai belajar akting, akhirnya dia mendapat peran pertamanya di sinetron Pendekar Halilintar.

Ayahnya yang menonton merasa kecewa, karena anaknya tidak menjadi ustadz seperti yang diharapkan, malah menjadi artis. Baginya artis adalah dunia hitam yang menyesatkan. Dia sangat menentang keinginan Uje.

Uje yang merasa bahwa dunia entertaint adalah dunianya, tidak terima di tentang oleh ayahnya. Membuatnya pergi dari rumah. Nomaden dari satu kost teman satu ke teman yang lain.

Bagi Uje, pertentangan ayahnya menjadi motivasi dia untuk mengejar kesuksesan di dunia entertaint. Dia membuktikan prestasinya: Pemeran pria terbaik dalam sepekan sinetron remaja di TVRI; Membintangi berbagai sinteron seperti Sayap patah, Sebening kasih, Opera tiga jaman, dan kerinduan.

Meskipun kecewa dan marah terhadap pilihan Uje, tapi keluarga bangga melihat Uje sukses. “Waktu pertama kali melihat anak saya muncul di teve sebagai pemain, saya menangis...Dia ngaak hanya bagus berakting sampai bisa mendapat piala” kenang ibunda Uje.

Berbagai peran dan sinetron membuatnya lelah. Dia selalu mencari-cari sahabatnya yang mengantarkan kepada kesuksesan karirnya, yaitu nakoba,  bersama geng YPS (Yayasan Pesta Selalu). Banyak pil yang dia makan sampai teler. “Untuk melihat arloji di tangan saja, aku harus mendekatkanya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan jelas” kenang Uje terhadap masa pahitnya.

Musibah datang menghampirinya. Ayah yang dianggap menentang karirnya, meninggal. Dia sangat terpukul dan menyesal belum bisa menjadi anak yang baik seperti yang diharapkan. Bahkan dia tidak mau berpaling di makam ayahnya. Ketika Uje meninggal dimakamkan satu liang lahat bersama ayahnya.

Penyesalan yang mendalam membuatnya merasa tertekan dan bersalah. Namun tidak membuatnya menjauhi narkoba malah mendekati sahabat semunya itu.

Dia sombong karena merasa sukses karir dan banyak uang. Nasihat Ibu, kakak, keluarga terdekat sebagai angin lalu yang tidak dipedulikannya.

Di usia 27 tahun saat menikah dengan Pipik, masih saja kecanduan narkoba.

Cahaya Illahi Menghampiri Uje

Dunia entertaint sudah mengendus Uje sebagai pecandu narkoba. Hingga akhirnya Uje di coret daftar artis. Semua kontrak kerjanya di batalkan. Jatuh miskin. Tak ada teman yang sudi mendekatinya.

Lagi-lagi Narkoba menjadi jalan penyelesaian terbaik menurutnya. Kenyataanya narkoba membuatnya semakin hari semakin gila.

Dia sangat curiga terhadap orang yang mendekatinya, karena siapapun yang mendekatinya dianggap akan membunuhnya. Selama sebulan mengunci kamar. Rasa takut menghantui setiap hari.

Sampai dia takut tidur karena selalu mimpi buruk. “Aku pernah bermimpi sangat aneh, berdiri di puncak satu tangga bersama anak kecil. Aku melihat dunia luluh lantak...” ujar Uje. Bahkan dalam mimpinya dia menyaksikan dirinya menjadi jasad yang disiksa habis-habisan.

Semenjak itu Uje takut mati, takut disiksa karena dosanya yang menumpuk. Dia ingat Allah sembari menghayati kegilaan karena narkoba dan ketakutanya akan mati, sebagai alarm dari Allah supaya dirinya bisa menjadi insan yang baik. Mulailah dia menyesali dan menyadari semua kesalahan yang diperbuatnya.

Uje bersimpuh sembari mengakui kesalahanya kepada ibunya, yang nasihatnya tidak pernah ia dengar. Akhirnya doa ibunya supaya Uje bisa tobat terkabul. Sebagai rasa syukurnya, Uje diajak ibunya utuk umroh bersama.

Uje sangat menikmati perjalanan sipritualnya. Setelah shalat jumat bergegas menuju ke makam rasulullah. Keluar pintu masjid, tiba-tiba Uje sangat berat melangkah bahkan tidak bisa melangkah sama sekali. Dia terjatuh dan bersandar di tembok. Hatinya berteriak minta tolong kepada Allah.

Saat itu pikiranya seperti film yang menanyangkan dosa-dosanya. Mulutnya hanya bisa berkata minta maaf kepada Allah. Dan hatinya berjanji jika dia tetap berbuat maksiat, dia meminta sang Khalik untuk mencabut nyawanya. Dan dia meminta disembuhkan jika dia bisa bermanfaat bagi orang lain.

Allah menyembuhkanya. Saat itu dia berkomitmen kuat untuk menjauh dari jeratan narkoba dan menjadi orang yang berguna sebagai bekal mati.

Perjalanan Dakwah Uje

Keluarga sangat mendukung Uje untuk bertobat. Kakaknya yaitu Ustadz H. Abdullah mengamanatkan kepadanya untuk berdakwah di Jakarta.

Awal dakwah di masjid Mangga dua. Dibantu Pipik yang menuliskan teks dakwah. Gaji pertamanya Rp. 35.000.

Hidup pasti berliku-liku. Itu yang dirasakan Uje. Pernah dia dimintai tolong oleh Imam masjid dekat rumah, untuk menjadi imam shalat karena bacaan AQ Uje sangat merdu. Suasana mencekam karena belum menjadi Imam para makmum pada kabur. “Ngapain shalat di imami sama tukang mabok” tutur Pipik menirukan kata jamaah.

Bahkan sering kali ceramahnya di tolak dan tidak dipercayai oleh mad’u, karena Uje mantan pemakai. Uje mulai patah arang, kembali terbersit untuk mendekati narkoba, namun di sisi lain takut mati menyelimuti jiwanya, dan teringat janjinya kepada Allah untuk bermanfaat bagi sekitar. Keluarganya terus merangkulnya  untuk bangkit dari kegagalan dakwahnya.

“Tidak butuh menjawab penghinaan dengan penghinaan lagi, cukup jawablah dengan evaluasi diri, gigih melakukan perbaikan diri dan beri bukti yang tidak terpungkiri”. Prinsip itu membuat Uje mulai bangkit menyebarkan dakwah illahiyah. Dia berubah menjadi pecandu agama. Setiap waktu dihabiskan beribadah dan berdakwah.

Satu hari  bisa ceramah 3 kali. Dan setiap minggu diadakan pengajian rutin di rumahnya.

Dia sibuk menyebarkan syiar agama melalui berbagai macam media. Kemampuan vokalnya yang bagus mendorong dia untuk berdakwah lewat musik. Dia menyanyikan lagu Astaghfiullah dalam film Ayat-ayat cinta. ketika  waktu luangnya, dia membuat quote di sosial medianya.

Uje dikenal sebagai ustad yang interaktif, suka bercanda, bahasanya gaul, kontent positif dan menginspirasi. Ceramahnya sangat ditunggu-tunggu. Uje dianggap sebagai seorang teman, jadi mudah bergaul dengan semua kalangan.

Bahkan Uje bisa mengaduk-aduk emosi mad’u. Ketika awal kali dakwah di tv, dia hanya sedikit ceramah dan doa. Dengan penuh penghayatan dan suara yang bisa meluluhkan hati. Membuat mad’u menangis dan merenungi setiap kata  Uje.

Uje menjadi Ustadz yang diterima di berbagai kalangan, yang sangat jarang ditemui di zaman sekarang.

“...Kami pernah undang (Uje) ke Belitung. Saya suka banget khutbahnya, enak sekali di dengar, keren banget...ustad kharismatik” pendapat Ahok sebagai pejabat non muslim tentang Uje.

Uje terkenal di luar negeri. Media ABC, Australia menyebut Uje sebagai sosok ulama sekaligus artis, model, penyanyi, penghotbah yang memberikan pengaruh emosional kepada mad’u.

Uje di kenal sebagai ustadz yang dekat dengan artis. Di mata Ariel yang saat itu terjerat kasus video, mendapat motivasi dari Uje untuk berbaik sangka dan bangkit untuk mencapai impian kedepannya.

Di mata masyarakat,  Uje orang yang dermawan. Pernah saat pulang ceramah, menemui Pak Doding tukang jam yang tidak memiliki kaki kanan tapi semangat hidup tinggi. Saat itu dia sedang menjual kulkasnya karena butuh uang. Dengan ramahnya Uje menawarkan untuk membeli kulkas dengan harga awal pembelian atau harga baru beli.

26 September 2013 Indonesia berduka kehilangan sosok Ustadz yang dekat dengan semua kalangan. Dalam peristirahatanya terakhir sebanyak 2 juta orang berbondong-bondong mendoakan dan mengantarkan ke makam. Bahkan ibu-ibu sampai anak muda menangis menyaksikan berita Uje di tv. Sampai saat ini pun masih ada video-video uje yang menginspirasi mad’u.

Gajah mati meninggalkan gading. Uje meninggal meninggalkan inspirasi, bahwa sebesar-besarnya dosa masa lalu menjadi motivasi untuk memberikan kebaikan di masa depan sebagai bekal untuk mati.

(Sumber:  Kanka Nadia. 2013. Uje berdakwah dengan hati. Rexa Pustaka).