Anies Ini Salah Melulu

15 Nov 2017 14:47   Kolom Hersubeno Arief
Anies Ini Salah Melulu
Ilustrasi Anies salah melulu. (Faizal/ngopibareng.id)

BANJIR di Jakarta ternyata punya selera humor yang cukup tinggi. Banjir di Jakarta bisa memilih kapan harus datang, dan kapan harus pergi. Yang lebih menarik, banjir ternyata juga bisa memilih gubernur. Setidaknya begitulah kesan yang kita peroleh ketika membaca berita di sebuah media online. 

"Maaf-maaf ya. Waktu zaman Pak Ahok, enggak pernah banjir." Judul berita yang ditulis Kompas.com Senin (13/7) cukup menggelitik dan menarik perhatian. http://megapolitan.kompas.com/read/2017/11/13/18163521/maaf-maaf-ya-waktu-zaman-pak-ahok-enggak-pernah-banjir

Di Tribunnews.com media online milik group Kompas Gramedia judulnya diubah menjadi jauh lebih menggelitik. http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/11/13/maaf-ya-waktu-zaman-pak-ahok-enggak-pernah-banjir-baru-kali-ini-aja-setelah-gubernur-baru

Ditulis dengan gaya semi feature, judul tersebut mengutip pendapat warga Jalan Padang, Ulujami, Jakarta Selatan. Rumah warga tersebut berada di pinggiran Kali Pesanggrahan dan terancam banjir. 

Masih mengutip warga, sekitar empat tahun lalu Kali Pesanggrahan dinormalisasi oleh Gubernur Jokowi. Tolong dicatat ya,  oleh Jokowi. Sejak itu mereka sudah tidak pernah kebanjiran. Nah sekarang setelah ganti gubernur baru mereka kebanjiran lagi.

Hidup yang semula aman tentram, semuanya tertata dan terkendali, tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk dalam seketika, karena ganti gubernur baru. So simple. 

Model berita semacam itu banyak kita temui tidak hanya dalam soal banjir. Bersiap-siap lah dengan banjir berita model begini.

Ada dua hal yang perlu dicatat dan digaris bawahi. Pertama,  yang melakukan normalisasi Gubernur Jokowi. Berarti Ahok saat itu  masih menjadi wakil gubernur. Mengapa Ahok yang mendapat kredit? Kok bukan Jokowi?

Kalau menggunakan bahasa marketing, berarti branding Ahok cukup berhasil. Dia sukses membentuk persepsi publik sebagai gubernur dengan kinerja yang jempolan. Jadi apapun yang baik, akan dinisbahkan kepadanya. Sementara semua yang jelek, siapa lagi kalau bukan dilakukan penggantinya.  Sebagai brand, Ahok sudah menjadi top of mind.

Namanya juga persepsi. Belum tentu benar dan sesuai dengan fakta. Sama dengan iklan Rinso yang “mencuci sendiri.” Faktanya si emak juga yang mencuci, tapi dengan menggunakan Rinso. Ha…ha..ha…

Meminjam pribahasa  Madura yang pernah digunakan Gubernur Anies Baswedan saat pidato pelantikan, "Ayam yang bertelur. Itik yang mengerami." Orang Betawi bahkan menyebutnya dengan istilah yang lebih lugas. "Yang baca tahlil siape? Yang dapat berkatnya siape?

Itulah persepsi yang pada zaman now bisa bentuk melalui media sosial, dan tentu saja media massa besar sekelas Kompas.

Kedua, Anies R Baswedan dan Sandiaga Uno baru dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur pada tanggal 16 Oktober 2017. Ketika hujan besar melanda Jakarta dan berbagai wilayah kebanjiran, mereka belum satu bulan menjabat. Apa ya mungkin mereka bisa membereskan banjir? 

Mereka bukan Raden Bandung Bondowoso yang bisa membuat seribu candi dalam waktu satu malam, seperti yang diminta Putri Loro Jonggrang.

Kalau Jakarta saat ini masih macet seharusnya yang disalahkan ya gubernur sebelumnya, Jokowi dan Ahok. Kalau Jakarta masih banjir, seharusnya yang disalahkan para pendahulu Anies-Sandi. 

Anies-Sandi bisa disalahkan bila sampai lima tahun bekerja ternyata tidak ada perubahan yang signifikan pada kemacetan dan banjir di Jakarta.

Tapi apa pentingnya saling menyalahkan? Paling hanya melampiaskan kekesalan karena jagoannya kalah. Lagi pula memendam kemarahan, dendam, tidak baik untuk kesehatan jiwa. Tidak akan membantu mengurangi kemacetan dan banjir. Yang terjadi malah banjir caci maki di medsos.

Jakarta langganan banjir semua juga sudah tahu, bahkan sudah terjadi sejak zaman VOC, zaman old. Makanya mereka membuat kanal-kanal. Banjir Kanal Barat dibangun oleh Belanda dengan tujuan agar aliran sungai Ciliwung tidak melintasi kota Batavia. Zaman Gubernur Sutiyoso dan dilanjutkan Fauzi Bowo dibangun Banjir Kanal Timur. Jakarta tetap saja banjir.

Framing Media

Ngomong-soal  soal banjir, Anies-Sandi sebenarnya sudah lebih dulu kebanjiran, sebelum warga Jakarta direndam banjir.  Mereka sudah kebanjiran kritik dan nyinyiran,  jauh sebelum dilantik dan bekerja. Banjir kritik dan nyiyiran sangat deras  melanda Anies ketika dia menggunakan kosa kata “pribumi,” dalam pidatonya.

Bekerja atau tidak bekerja, menyebut kata  pribumi, atau tidak, Anies-Sandi pasti akan terus dinyinyiri. Meminjam istilah yang sering digunakan polisi, mereka sudah menjadi TO (target operasi).

Mereka diintai, ditunggu-tunggu melakukan kesalahan. Kalau tidak melakukan kesalahan, ya dibuat agar mereka melakukan, atau tampak melakukan kesalahan. Jadi pepatah lama “Anjing menggonggong kafilah berlalu,” masih relevan untuk diterapkan.

Tidak perlu kaget atau marah-marah ketika ada aksi walk out yang dilakukan oleh Ananda Sukarlan. Seorang pianis yang sudah punya kaliber dunia. Itu kan dalam soal bermain musik. Tapi soal kelakuan, soal sopan santun, tata krama, bisa berbeda jauh. 

Yang harus diseriusi bila sebuah media sekelas Kompas mulai ikut “bermain.” Apalagi kalau punya agenda setting, membangun opini dan menggerakkan publik. Bisa gawat.

Kita sering mendengar sebuah istilah yang  disebut sebagai media framing. Secara sederhana framing bisa dijelaskan sebagai cara sebuah media, wartawan membingkai sebuah peristiwa/berita, dengan tujuan menggiring opini, persepsi publik.

Caranya bisa melalui pemilihan judul, angle (sudut pandang) penulisan, pemulihan kutipan (quote), dan pemilihan nara sumber. Di media televisi,  framing bisa dilakukan dengan cara pengambilan sudut (angle) gambar. 

Faktanya bisa sama, namun dengan sudut pengambilan gambar, atau kutipan yang berbeda, makna dan tafsirnya bisa sangat jauh berbeda. Dengan begitu pesan yang sampai kepada publik juga berbeda.

Silakan baca naskah berita berikut yang kebetulan juga ditulis Kompas.com. http://megapolitan.kompas.com/read/2017/11/14/10062781/kadis-memang-ppsu-kelihatan-greng-luar-biasa-di-era-pak-ahok.

Dengan hanya membaca judulnya pesan yang sampai sudah sangat jelas.  Era kepemimpinan Ahok itu sungguh dahsyat, semua bekerja dengan bersemangat (greng). Sementara pada masa Anies? 

Berita tersebut menjadi mempunyai dampak yang lebih dahsyat karena mengutip pendapat seorang kepala dinas yang nota bene adalah anak buah Anies. Seorang kepala dinas dalam konteks media adalah figur penting (key person), dan otoritatif untuk memberi komentar. Kata-kata dan penilaiannya sangat kredibel. Layak kutip.

Namun apakah betul kalimat yang disampaikan oleh sang kepala dinas, seperti yang tertulis di media? Itulah pentingnya media  jujur memberi konteks peristiwa, latar belakang, dan setting sebuah peristiwa.

Kutipan pernyataan warga Jalan Padang yang  khawatir kebanjiran tadi,  bila diberi konteks, latar belakang, setting peristiwa bahwa Anies  belum sampai satu bulan menjadi gubernur, tentu akan berbeda dengan bila dibiarkan telanjang dan berdiri sendiri sebagai sebuah fakta. Kecuali bila semangatnya memang bertujuan menggiring opini,  apapun yang dilakukan oleh Anies selalu salah. 

“Darkness can’t drive out darknes; only light can do that. Hate can’t drive out hate; only love can do that."

Martin Luther King Jr

*) Hersubeno Arief adalah wartawan senior yang kini menjadi konsultan media dan politik