Matinya Industri Pertunjukan Kita

Matinya Industri Pertunjukan Kita

DITULIS USER

Hazairin Pohan
ngopiOPINI 02 Apr 2017 WIB

PAGI setelah shalat Subuh pekan lalu, anakku Rizaldy sudah bersiap berangkat ke bandara. Mungkin dia pernah bilang akan pergi bersama teman-temannya ke Singapura, dan dia bilang lagi: “Mau pergi ke Singapura, Ayah.”

Beberapa hari di Singapura, Rizaldy belum kembali. Saya kontak melalui Kakao Talk, medium komunikasi yang popular di Korea, negeri di mana Rizaldy menyelesaikan pendidikan S-2 di KAIST, Daejon City, dia masih di sana.

“Nonton konser apa sih, nak?”

Dia berbicara tentang sebuah grup Inggeris yang aku tak kenal. Wah, zaman yang terlewati, fikirku. Akupun tak tahu ada grup bernama Coldplay yang konsernya terpaksa ditambah sehari lagi karena puluhan ribu orang datang ke Singapura dari berbagai negaraterbanyak — dari Indonesia — dan pertunjukan itu sukses berat. Ini penampilan kedua kalinya Coldplay di Singapura, setelah konser pertama delapan tahun yang lalu.

Pada tour kedua ini, Coldplay terpaksa naik panggung dua kali karena untuk show yang dijadwalkan tanggal 1 April dalam hitungan menit ludes. Terpaksa panitia membuat show tambahan, Jumat 31 Maret, yang juga tiketnya ludes. Tiba-tiba tiket Jakarta- Singapura melonjak mahal dan habis pula. Banyak orang Indonesia bersiasat pergi ke Batam dan dari sana mereka naik ferry atau melanjutkan penerbangan ke Singapura.

Untuk menikmati konser Coldplay ini Rizaldy menghabiskan waktu 5 hari di Singapura.

Setiap ada pertunjukan internasional di Singapura, maka berbondong-bondonglah orang Indonesia berangkat. Mengapa tidak ada konser seperti ini di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, tanya bathinku.

Kemarin, Rizaldy bilang dia pulang hari Minggu (2/4), dan di Singapura menginap di rumah temannya sesama alumni ITB yang kini bekerja di city-state itu. Saya juga tidak faham, untuk menonton konser itu Rizaldy terpaksa rela menguras tabungannya. Dia juga tidak minta uang untuk tiket pertunjukan maupun tiket pulang pergi terbang ke Singapura. Dia tak mau memusingkan ibunya.

Hebat nian pengaruh Coldplay dan upaya Singapura untuk menjadikan negeri pulau itu sebagai pusat industri hiburan tour artis tingkat dunia, dari mulai Broadway, Philharmonic Orchestra, sirkus dan berbagai group music, tarian tingkat dunia. Kabarnya penonton dari berbagai pertunjukan seni ini terbanyak berasal dari Indonesia. Luar biasa.

Cuma yang terfikir olehku, orang-orang Indonesia pergi ke Singapura hanya untuk menonton konser! Setahuku selama ini Singapura salah satunya juga menjadi penampungan para pencoleng negeri.

Bahkan, Rizaldy yang belum bekerja bilang dia menabung untuk bisa menikmati grup dengan penyanyi utama, Chris Martin, dan pemain-pemain band Johnny Buckland, Guy Berriman, dan Will Champion itu. Colplay boleh dibilang group gaek karena terbentuk 21 tahun yang silam, tanpa gonta-ganti pemain. Sayang, tak satupun aku pernah dengan hit mereka. Saya dan teman-teman seusia pastilah dipandang ‘a lost generation’ bagi anak-anak muda kita yang disebut sebagai ‘generasi milenium’.

Jakarta apa kabar? Memang beberapa show juga dilakukan di Jakarta, dan selalu fully-booked. Laris manis. Tetapi mengapa perusahaan pertunjukan seperti ini jarang muncul dari Indonesia? Masa orang Singapura yang kurang ‘nyeni’ itu lebih piawai menjadi penyelenggara seni pertunjukan tingkat dunia? Masa pemerintah cuma bisa cengengesan melihat gejala ini?

Seni pertunjukan ibarat arena kompetisi olahraga bagi atlet. Mereka berlatih dan berlatih hanya untuk menghadapi kompetisi, demi mengukir prestasi. Para artis, seniman, didukung perancang, organisasi dan pendukung acara berlatih dan bersiap secara serius hanya untuk pertunjukan besar untuk menunjukkan kualitas ataukarya baru mereka. Inilah industri. Inilah pasar yang disasar. Dan, pasar yang bernama Indonesia itu luar biasa dan terbesar di ASEAN.

Tetapi, industri tidak berjalan begitu saja seperti hukum pasar. Ada mutu ada penggemar dan ada harganya. Konon dukungan pemerintah tidak kalah penting. Dan, menurut cerita seorang teman yang biasa menjadi host acara-acara artis internasional, Panca, justru di Indonesia yang mematikan itu adalah kurangnya dukungan kebijakan dan tindakan pemerintah.

“Iklim sehat itu telah mati dan memusingkan. Bayangkan, Bang. Di sini kalau membuat pertunjukan tingkat apapun, apalagi tingkat dunia kita panitia harus juga memikirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan peningkatan performans di panggung. Soal perizinan, perpajakan (termasuk ‘pajak preman’), keamanan dan kesiapan panggung berskala dunia payah!” kata Panca ketika kami bertemu ngopdar karena sudah lama tidak ketemu di bilangan Senayan pekan lalu.

“Sebagai penyelenggara, soal perizinan dengan berbagai redtape-nya memusingkan. Tidak ada kepastian berapa biaya dan kapan selesai. Izin ada bermacam-macam. Harus memperoleh izin dari Polisi, penguasa kota, imigrasi, pajak dan macam-macam. Untuk urusan Polisi kami harus melakukan ‘pendekatan’ dari mulai tingkat tertinggi sampai ke tingkat Polsek. Belum lagi penggelaran berapa ribu polisi untuk pengamanan, dan ‘jatah tiket’ yang jumlah ribuan tiket gratis harus disiapkan. Ini overhead cost yang tidak ada di negeri Singapura, Malaysia atau Thailand.”

“Ini membuat penyelenggara acara-acara internasional kita kapok, dan mati pelan-pelan karena penyelenggaraan acara seni pertunjukan ini susah dihitung berapa biaya investasi (untuk mencari sponsor), berapa biaya yang dikeluarkan, mencari vendor berkualitas yang reliable, biaya tak-terduga sampai menyedot 30 persen dana yang partner kami di luar negeri pusing. Bahkan kayaknya mereka ‘menuduh’ kami korup, melakukan mark-up untuk mencari keuntungan yang lebih besar,” kata Panca setengah frustrasi.

“Jangankan membuat profit, balik modal saja sudah syukur.”

Tikus-tikus got kini bertebaran di mana-mana, mencari kesempatan. Termasuk di urusan birokrasi, pelayanan dan penyiapan infrastruktur yang memadai. Di sini kita sangat kurang invest, kata Panca.

Panca lalu bercerita bahwa dalam soal-soal yang aneh di Indonesia ini tidak terdapat di Singapura, Malaysia, bahkan Thailand yang kini mulai menanjak peranannya dalam penyelenggaraan show internasional. Penonton Indonesia pun berduyun-duyun pergi ke sana, meskipun akhirnya memakan biaya yang lebih mahal. Belum lagi peningkatan infrastruktur industry pertunjukan yang kian meningkat di negeri-negeri jiran. Kita kalah jauh, dan kayaknya akan mati pelan-pelan, kata Panca.

Berapa banyak kamar hotel terjual, berapa banyak restoran dan kuliner terdorong, souvenir dan berapa banyak tenaga kerja terkait industri pertunjukan yang akhirnya suatu kesempatan yang dirampas oleh negeri-negeri tetangga karena pemerintah kita –meskipun ada yang namanya Badan Industri Kreatif, atau Barekraf—belum menunjukkan keseriusan membina industri pertunjukan yang jika dihitung bukan kecil nilai komersialnya.

“Preman itu ada yang berdasi, ada pula yang kelas jalanan, keduanya sama buas dan ini sangat membuat kita frustrasi karena mereka memang hadir dan ‘menjadi penguasa’ yang siap memangsa kami,” tambah Panca.

Kita sibuk mengurus hal-hal tak penting. Seakan-akan Pilkada bisa berubah menjadi ‘the end of the world’ jika tidak dimenangkan. Apapun caranya.

Ketika pemerintah dan berbagai instansi sibuk mengurusi hal-hal berkaitan dengan Pilkada DKI, mengamankan dukungan, membuat isu-isu yang meresahkan rakyat, atau mengurusi hal-hal tak-penting, media pun asyik menulis analisis-analisis bodong, ketika itu pula berbagai kesempatan kita sebagai bangsa dan negara ‘dirampok’ orang asing, tanpa atau memang kita sasari?

Dalam kesibukan itu, para pencoleng negeri –tertutup atau terbuka terang-terangan—tetap melanjutkan kegiatan mereka dalam keasyikan mencari duit dengan mentalitas ‘business as usual’ dan karena memusingkan kita pun menjadi tidak peduli. Urusan KTP-el saja kita tidak kapabel, dan korupsi merajalela dan dibiarkan dalam semangat bagi-bagi!

Pertunjukan Coldplay di Singapura itu a case in point! Begitulah cara-cara lain bagaimana orang luar merampok negeri kita. Ini baru cara-cara gerilya kecil-kecilan. Kita mungkin hanya ditakdirkan sebagai ‘pasar’ konsumen dan para tenaga di industri kreatif itu dibiarkan mencari jalannya sendiri-sendiri. Ketika pemerintah diminta menjadi lebih dari sekadar ‘wasit yang baik’ pun tidak mampu. Dalam banyak hal!

Maka ‘para tikus pencoleng’ negeri pun menari-nari dengan kendang dan musik mereka sendiri. Kita cuma ‘TST’ saja, dan sibuk tak-menentu. Tanpa disadari kian ‘mendungu’.

Mau ke mana negeri ini dibawa?

Jakarta, 2 April 2017

Penulis : Hazairin Pohan

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.