Koreanskaya Tragediya

Koreanskaya Tragediya

DITULIS USER

Hazairin Pohan
ngopiOPINI 15 Mar 2017 WIB

JUMAT (10/3) menjadi drama sekaligus tragedi bagi keluarga Park. Sang Presiden, Park Geun-hye, puteri tertua dari Presiden Park Chung-hee dicopot dari jabatan presiden, sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang memperkuat keputusan parlemen (Majelis Nasional) awal Desember 2016 yang lalu.

Dengan keputusan MK, untuk kedua kalinya Park Geun-hye harus meninggalkan kediaman resmi presiden Korea Selatan (Republik Korea) yang dikenal rakyat sebagai ‘Cheong Wa Dae’, atau disebut orang Korea Blue House, sebelum waktunya.

Artikel ini mengadopsi judul novel karya penulis Amerika, Theodore Herman Albert Dreiser (1871 –1945) “American Tragedy” yang popular di zaman komunis Soviet, diadopsi tim propaganda komunis dengan judul “Amerikanskaya Tragediya” (1925). Dan, berkat novel itu Dreiser dinominasi Nobel kesusasteraan di tahun 1930.

Tentu saja, “Koreanskaya Tragediya” saya tulis dengan semangat lain. Yang menyamakan dengan “Amerikanskaya Tragediya” adalah karakter tragis suatu peristiwa kehidupan manusia. Jika Dreiser dipuji oleh propaganda Soviet karena menjelek-jelekkan Amerika, menggambarkan kehidupan penuh ketidakadilan bagi orang-orang Hitam maupun manusia kurang beruntung di Amerika, sebagai tragedi bagi bangsa Amerika. Komunis Soviet ingin mencegah puji-pujian terhadap sistem kapitalisme dan liberalism Amerika dengan menggunakan karya penulis Amerika, Dreiser yang keturunan Jerman, juga adalah pemikir sosialisme dan anggota Partai Komunis Amerika Serikat. Dreiser rajin menggambarkan kegigihan dalam perjuangan, keyakinan dan akhirnya keberhasilan pada tujuan, yang menjadi ciri militansi orang-orang komunis. Dreiser sendiri tadinya beragama katolik, akhirnya menjadi ateis.

Dreiser menulis cerita pendek, "Negro Jeff" (1901), yang diterbitkan di Majalah Ainslee ini. Periode ini dianggap sebagai "titik nadir" hubungan antar-ras Amerika, dengan tingkat tinggi hukuman gantung, yang 1890-1910, tidak diakuiya hak-pilih warga kulit hitam, supremasi kulit putih. Novel kedua “Jennie Gerhardt” diterbitkan pada tahun 1911, bercerita tentang wanita muda itu sebagai protagonis didramatisasi perubahan sosial urbanisasi, ketika orang muda berduyun-duyun pindah dari desa ke kota. “An American Tragedy” sendiri diterbitkan pada tahun 1925, tidak lama setelah Revolusi Bolshevik 1917, menjelang berakhirnya Perang Dunia I.

"Untuk mengamati jenis tertentu kejahatan di Amerika Serikat yang terbukti sangat umum. Tampaknya muncul dari fakta bahwa hampir setiap orang muda dirasuki dari ambisi menjadi seseorang secara finansial dan sosial." Pemburu rente menjadi penyakit" dengan hasil jenis kejahatan khas Amerika, suatu bentuk "pembunuhan untuk uang".

Dreiser sering berperang melawan sensor pemerintah, karena dia menggambarkan penggambaran aspek kehidupan nyata, seperti hubungan seksual, mencela otoritas dan menentang standar pendapat umum yang diterima.

Dreiser pun mulai terlibat dalam beberapa kampanye membela radikal yang ia percaya telah menjadi korban dari ketidakadilan sosial, seperti hukuman mati tanpa pengadilan terhadap Little Frank, salah satu pemimpin buruh dunia, serta dalam kasus Sacco dan Vanzetti, deportasi Emma Goldman, dan pemimpin serikat buruh Thomas Mooney.

Harap dicatat, Dreiser juga pemimpin Komite Nasional untuk Pembelaan Tahanan Politik (NCDPP) di Kentucky.

Dreiser adalah seorang sosialis berkomitmen dan menulis beberapa karya nonfiksitentang isu-isu politik. Ini termasuk Dreiser Looks at Russia (1928), hasil perjalanan ke Uni Soviet 1927, dan dua buku menyajikan perspektif kritis di Amerika kapitalis, Tragic America (1931) and America Is Worth Saving (1941) Dia memuji Uni Soviet di bawah Stalin selama ‘Great Teror’ dan pakta non-agresi dengan Hitler. Dreiser bergabung dengan Partai Komunis Amerika pada bulan Agustus 1945. Penulis biografinya, Jerome Loving, menyatakan politik Dreiser sejak awal 1930-an "jelas sesuai dengan tujuan komunis nyata untuk memperjuangkan kaum buruh.” Dreiser meninggal pada 28 Desember 1945, di Hollywood, California, pada usia 74 tahun.

“Amerikanskaya Tragediya” jelas tidak ada kaitannya dengan “Koreanskaya Tragediya”. Tragedi terjadi di mana-mana, terhadap bangsa, etnis, komunitas, negeri, maupun terhadap dinasti, dan Dinasti Park tidak terkecuali. Mungkin, mirip dengan ironi “the Kennedy curse” atau kutukan berturut-turut yang menimpa keluarga Presiden Kennedy ‘sang Camelot’ maka cerita tentang kutukan terhadap dinasti sering dijadikan ‘mitos’ yang mengalahkan ‘fakta’. Mitos ini sering lebih menarik bagi sejarawan untuk menemukan ‘benang merah’ rangkaian peristiwa dengan pendekatan sederhana: curse, atau kutukan.

Jelas, Park Geun-hye jatuh karena inkompetensi, dianggap ‘beban’ daripada ‘aset’ bagi negeri. Karena itu dia deserves to be impeached. Ini soal inkompetensi, ketidakmampuan memelihara Konstitusi, dan aktifitas korup di sekeliling Park, dan bukan karena ‘curse’.

Tidak lama setelah penembakan Presiden Park Chung-hee (1917-1979), ayah Geun-hye yang mengambil kekuasaan melalui kudeta, Park Geun-hye remaja pun meninggalkan Cheong Wa Dae, atau Blue House. Geun-hye setelah ibunya, Yuk Young-soo, tewas ditembak agen Korea Utara yang ingin membunuh Presiden Park Chung-hee, dalam suatu acara di gedung, di tahun 1974.

Setelah ibunya wafat, Geun-hye remaja diminta mendampingi ayahnya, menjadi ‘ibu negara tidak resmi’ dalam menerima tamu-tamu asing atau dalam acara keprotokolan negara.

Di tengah Perang Dingin, sang ibu ditembak mati oleh seorang pembunuh, diduga atas perintah dari sebuah organisasi pro-Korut yang berbasis di Jepang untuk membunuh ayahnya. Menggantikan ibunya, Park, 22, harus berhenti studinya di Perancis karena mendapat ‘tugas baru’ dari ayahnya, Presiden Park Chung-hee.

Lima tahun kemudian, ayahnya dibunuh oleh kepala KCIA, Korean CIA, yang tidak lain adalah teman di masa kecil sang Presiden, Kim Jae-gyu, pada saat sebuah pesta minum.

"Ini adalah sebuah revolusi untuk menghidupkan kembali demokrasi liberal bahwa Park hancur. Warga, silakan menikmati demokrasi," kata Kim dalam argumen terakhirnya sebelum dia dihukum mati. Setelah penembakan sang Presiden dengan pistol yang disembunyikan Kim di toilet, dia menembak pengawal-pengawal Presiden Park, dan melenggang ke luar lalu naik taksi. Dia ditangkap, diadili dan kemudian dihukum mati.

‘Tangan besi’ Presiden Park Chung-hee yang juga jenderal penuh adalah mimpi buruk bagi para pejuang pro-demokrasi. Park mengubah Konstitusi Korea pada tahun 1972 untuk membuka jalan baginya tetap berkuasa sebagai presiden tanpa pembatasan.

“Aku tidak suka demokrasi. Aku tak punya waktu melayani politisi non-sense yang akan memperlambat jalannya pembangunan Korea. Nanti, ketika aku wafat, silahkan kalian berdemokrasi,” ujar Park Chung-hee di suatu kesempatan.

Di bawah kediktatoran sang ayah banyak lawan politik dianiaya. Bahkan terbunuh. Dengan tuduhan Revolusi Partai Rakyat berbau komunis di tahun 1974, diktator Park tidak segan-segan mengeksekusi tujuh rakyatnya hanya 18 jam setelah mereka diberi hukuman mati. Park berniat menggertak rakyat atau siapapun yang berani menentangnya: eksekusi mati. Park juga menembak mati para koruptor yang menipunya. Menteri atau dirjen jika dipanggil ke Istana akan pucat setengah mati. Bisa-bisa pulang hanya tinggal nama, jika Park dengan jaringan intelijennya mengetahui perilaku para pembantunya yang penipu.

Setelah ayahnya tewas, Geun-hye pun dan adik-adiknya meninggalkan istana tempat kediaman resmi mereka di Blue House, tinggal di sebuah apartemen sederhana di Seoul, bersama saudara-saudara kandungnya. Hubungannya, atau lebih tepat pengaruh Ny. Choi Soon-ill yang koruptif menghantarkan dia pada berakhirnya kekuasaan dan jabatan kepresidenan, sesuai dengan keputusan MK.

Sebelum masuk ke politik pada tahun 1997, Park Geun-hye lebih suka menyendiri, “membangun dinding di sekitar dirinya,” kata adik-adiknya. Sejarawan Korea mengatakan Park lebih suka menyendiri mungkin karena trauma yang dialaminya.

Park Geun-hye diketahui tidak pernah menikah. Dia dikatakan keluarganya sangat tertutup. Dia juga tidak kontak dengan saudara-saudaranya.

Beberapa bulan sebelum pemakzulan dirinya, 1 Desember tahun 2016, museum yang dibangun di rumah kediaman orangtua Park Geun-hye di Gumi dibakar orang. Park Chung-hee memang tokoh kontroversial. Tetapi, di tangannya Korea melakukan transformasi yang luar biasa. Dia menjadi peletak Korea Selatan yang modern sekarang dengan penguasaan ilmu dan teknologi, menjadi kekuatan yang diperhitungkan dunia. Orang Timur biasanya percaya, api yang membakar rumah kakeknya di Gumi itu merupakan ‘omen’ atau tanda-tanda menyangkut sang Presiden.

 

Perseteruan Keluarga

Karena latar belakang pemimpin keras ayahnya, Park Geun-hye oleh majalah Time diberi julukan "Daughter The Strongman" setelah terpilih sebagai presiden pada tahun 2012. Bertentangan dengan harapan rakyat untuk menjadi pemimpin terbersih tanpa korupsi yang melibatkan keluarga –seperti karakter ayahnya, Park Chung-hee—Presiden penyendiri ini terjerat skandal penjualan pengaruh oleh orang kepercayaannya, Ny. Choi.

Karena kurang tanggap dan sigap dalam menangani bencana feri Sewol, menewaskan 304 korban yang sebagian besar siswa muda, membayang-bayangi Park Geun-hye. Akhirnya, skandal - melibatkan narkotika, operasi plastik, suap dan ‘agama palsu’—yang menimpa dirinya dan keluarganya membakar kemarahan rakyat. Reputasi Park juga telah ternoda oleh hubungan yang mencurigakan dengan ayah Ny. Choi, yang dikenal sebagai ‘pendeta palsu’, bernama Choi Tae-min. Nasib malang yang misterius terus berlanjut di sekelilingnya. The Yookyoung Foundation, suatu yayasan yang didirikan oleh ibunya, almarhum Yuk Young-soo, telah menjadi pusat gesekan yang terjadi antara dia dengan adik-adiknya Ji-man dan Geun-Ryeong. Adik-adiknya menuduh sang kakak memberikan kekuasaan besar secara sewenang-wenang kepada keluarga Choi untuk mengetuai yayasan itu.

"Mari kita selamatkan kakak kita dari penipuan Choi Tae-min," kata adik laki-laki dan adik perempuan bungsunya, dalam sebuah surat untuk kemudian Presiden Roh Tae-woo.

Di tengah konflik berkepanjangan, Park Geun-hye tidak muncul di pernikahan adik bungsu perempuannya pada tahun 2008. Dari tahun 1989 sampai 2002, Ji-man –sang adik laki-laki—tertangkap enam kali dan ditangkap lima kali, untuk menggunakan narkoba dan pelacur.

Kehidupan keluarga Park memburuk setelah Dong-wook, suami sang adik, Geun-Ryeong, mengungkapkan terjadinya pembunuhan dengan dugaan direncanakan oleh Ji-man, adik laki-laki Geun-hye, di tahun 2007. Kerabat Park lainnya, Yong-cheol dan Yong-soo, yang diduga terlibat dalam pembunuhan percobaan terhadap Shin yang ditemukan tewas pada tahun 2011. Siapa saja yang bersaksi atau mengetahui peristiwa pembunuhan itu juga mati dengan tragis.

Minggu (12/3) ketika saya kembali ke Indonesia dari Seoul, Park Geun-hye, presiden ke-11 Republik Korea meninggalkan kediaman resminya di “Blue House”. Dia menyesal, dan dia menyatakan bertanggung-jawab. Pada hari Senin, kejaksaan mulai memanggil untuk pemeriksaannya.

Sebagai warganegara, dia kini tidak kebal hukum. Pemeriksaan ini –meskipun cukup penting untuk menguak berbagai misteri yang mengelilingi dirinya—telah tertutup dengan kegembiraan rakyat Korea bahwa drama ini telah berakhir. Geun-hye telah mengakhiri karir politiknya. Untuk sementara? Ah, tampaknya orang sepakat berbagai skandal yang menimpa dirinya, termasuk permainan Ny. Choi yang menjerumuskannya ke dalam saga ini telah mengakhiri karir politiknya. Akhir-akhir kehidupan Park sebagai politisi dan menjabat presiden ini tidak begitu indah. Pada hari keputusan final pada pemakzulan-nya, dua lelaki berusia lanjut pengunjuk rasa pendukungnya meninggal. Sekarang, menutup dan era karirnya dan nasib ayahnya yang hinaan, sebagai warganegara Geun-hye kini harus bersiap menghadapi penyelidikan penuntutan dan penghukuman oleh sejarah, karena tak memiliki kekebalan hukum.

“Fiat justitia ruat caelum”, kata Lucius Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM), yang artinya hukum harus ditegakkan, meskipun langit akan runtuh.

Memang, rule of law, bukan rule of power atau kelicinan politisi yang menjadi sendi terpenting demokrasi. Negeri yang berlepotan soal hukum seperti yang terjadi di negeri kita sekarang menjadi cacat bagi ambisi untuk menjadikan Indonesia negeri yang berdaulat yang didirikan the founding fathers untuk kepentingan rakyat, pemilih dan pewaris sah negeri ini sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Penulis : Hazairin Pohan

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.