Apa Opsi bagi Agus Yudhoyono?

Apa Opsi bagi Agus Yudhoyono?

DITULIS USER

Hazairin Pohan
ngopiOPINI 20 Feb 2017 WIB

PILKADA tahap pertama telah berakhir dengan hasil Paslon 2 dan 3 maju ke babak final untuk pemungutan suara 19 April 2017. Hasil resmi real count sedang ditunggu.

Kedudukan kurang lebih seimbang antara Paslon 2 dan Paslon 3 dan ironisnya menempatkan Paslon 1 Agus-Sylvi yang kalah menjadi kekuatan pengimbang sekaligus penentu. Dengan jumlah suara sekitar 18-19 persen, suara pendukung Agus-Sylvi dengan mudah mengubah skor akhir Pilkada ronde kedua: Paslon Ahok-Djarot dengan suara 42 persen, atau Paslon Anies-Sandi dengan suara kurang lebih 40 persen berharap suara Agus-Sylvi berpindah ke pihak mereka.

The game is not over yet? Ini bagus untuk menjamin dinamika yang sehat. Ketiga Paslon masih memainkan peran mereka. Tetapi posisi pengimbang sekaligus penentu ini belum tentu nyaman bagi Paslon 1, terutama untuk menentukan ke mana dukungan dilimpahkan. Atau, Agus kini lebih asyik memandang ke depan dan menganggap lamaran Paslon 2 dan 3 tidak menjadi prioritas?

Apa yang menyita perhatian Agus Harimurti Yudhoyono sekarang ini?

Pertama, setelah kalah Tim Paslon 1 lebih memprioritaskan evaluasi, what went wrong? Mengapa setelah cukup lama bertengger menjadi calon yang paling tinggi elektabilitasnya tiba-tiba anjlok drastis padahal tidak ada blunder dilakukan? Dan, setelah analisis mendalam maka muncul persoalan yang lebih penting: bagaimana langkah ke depan karena agenda politik terbesar di tahun 2019: pileg sekaligus pilpres jika dipersiapkan dengan baik akan menjadi opportunity.

Salah langkah akan merugikan. Sebaliknya keputusan benar dan strategis diharapkan akan menaikkan perolehan kursi DPR sekaligus untuk memastikan apakah PD —salah satu partai pendukung Agus-Sylvi—mampu mengusung sendiri Capres/Cawapres yang mensyaratkan dukungan 20 persen kursi DPR?

Ini jauh lebih penting dan strategis daripada memikirkan masalah yang tidak urgen apakah mendukung Paslon 2 atau Paslon 3.

Bagaimana menyikapi permintaan dukungan dari Paslon 2 dan Paslon 3? Komunikas politik harus tetap terpelihara. Namun, perlu pemikiran mendalam sebelum mengambil sikap yang tepat.

Di awal Pilkada Agus adalah ‘kuda hitam’, yang malah berpotensi menang menyingkirkan petahana maupun calon pesaing lainnya. Ada kekhawatiran pihak lawan ketika dalam waktu 2 bulan bertarung elektabilitas Agus telah mengalahkan petahana Ahok maupun Anies. Jika Agus dibiarkan melaju maka dengan cepat politik nasional akan berubah dan ini ancaman untuk 2019. Karena itu tidak salah jika ada yang beranggapan ‘pilkada serasa pilpres’ da nada pertaruhan strategis sedang bermain di tingkat nasional. Bahkan, ada taruhan ribuan triliun di balik percaturan Pilkada DKI ini.

Dengan berbagai manuver berat bagi Agus menghadapi kompetitornya — termasuk dugaan berlangsungnya money politics — yang memaksa Agus dengan modal dana yang minim angkat bendera putih. Tidak mungkin Agus ikut taktik money politics karena moral ideologinya menentang keras. Lagipula, apa gunanya menghabiskan dana puluhan triliun yang dimodali para investor dan nanti akan ‘mengikat’ dirinya untuk memberikan kebijakan yang favorable bagi kepentingan pemodal di satu pihak dan mengorbankan janjinya dengan rakyat dengan tagline #JakartaUntukRakyat di lain pihak? Dan, dengan modal dana yang minim pilihan ikut bermain ‘money politics’ itu sesuatu yang musykil bagi Agus.

Kedua, Agus kini lebih sibuk untuk memikirkan langkah strategis ke depan. Meski kalah di ronde pertama namun Agus dipuji tidak saja oleh kawan bahkan semua lawan bahwa telah lahir seorang calon pemimpin masa depan untuk Republik. Ini lebih strategis bagi karir politik yang setelah menghabiskan sedikitnya 16 tahun akhirnya dengan berat hati memutuskan meninggalkan dunia ketentaraan. Kekalahan memang tidak perlu ditangisi, tetapi seperti Agus katakan pada saat mengucapkan selamat kepada pemenang bahwa: “Saya menerima dengan kesatria kekalahan ini dan mengucapkan selamat kepada para pemenang. Allah mungkin memiki rencana yang lebih baik untuk diri saya”.

Pada poin yang sangat menginspirasi, Agus mengajak kaum muda untuk jangan berhenti mencoba, jangan takut kegagalan. Pidato singkat ini menggema ke seluruh nusantara, menginspirasi kaum muda untuk bangkit, belajar dan berkarya. Modal dasar ini perlu dikembangkan dengan cermat.

“Saya juga mengajak generasi muda untuk berbuat yang terbaik, jangah pernah takut gagal, jangan pernah takut kalah. Berbuatlah yang terbaik karena banyak yang bisa diperjuangkan generasi muda Indonesia," ucap Agus mendalam.

Momen ini dan reaksi sangat positif dari publik mendorong kubu Agus-Sylvi dan para petinggi Partai Demokrat tidak saja memberikan ‘panggung’ kepada Agus dan mendorongnya agar tidak berhenti sampai di sini saja. Agus, sekiranya memutuskan masuk ke Partai Demokrat besutan ayahnya dapat menjadi aset dan sangat diharapkan akan mampu mendongkrak suara Partai Demokrat pada Pileg 2019. Sebuah suksesi yang berhasil dari ‘dinasti Yudhoyono’ dan tak banyak elit politik yang mampu melahirkan ‘safe landing’ bagi putera mahkotanya.

Ketiga, Agus perlu mempertimbangkan dinamika dan aspirasi yang ada di puluhan kubu relawan dan simpatisan. Pendukung Agus di luar 4 partai pendukung ini sangat beragam, lebih besar dan lebih banyak adalah dari kalangan relawan dan simpatisan. Yang menjadi persamaan dari semua pendukung kelompok ini di awal adalah mereka tertarik dengan figur Agus sendiri. Mereka bekerja dengan keyakinan bahwa Agus —sebagai alumnus terbaik TNI—memiliki potensi kepemimpinan yang luar biasa bagus: penjamin NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan kebhinekaan yang tidak kebetulan merepresentasikan keluarga Muslim dan tidak terkontaminasi pula dengan masa lalu. Semua partai pendukung dan para relawan dan simpatisan memiliki platform yang sama: nasionalis relijius dan pro rakyat yang sepakat dengan hashtag #JakartaUntukRakyat telah menawarkan antitesa model pembangunan penggusuran.

Setelah kegagalan di ronde pertama, maka 4 partai pendukung kembali ke markas besar masing-masing untuk menentukan sendiri pilihan kebijakan mereka: apakah mendukung Paslon 3 atau Paslon 2 atau stay neutral? Semua partai berdaulat untuk memutuskan langkah mereka. Pilihan kebijakan ini memiliki kelebihan kekurangan dan risiko yang harus dihitung dengan cermat, baik jangka pendek (2017) maupun untuk jangka panjang (2019).

Tetapi bagaimana dengan relawan dan simpatisan AHY-Sylvi?

Keberadaan relawan dan simpatisan ini datang spontan, dengan harapan dan keyakinan yang sama bahwa dalam situasi dan kondisi Jakarta sekarang Agus menawarkan alternatif yang lebih baik dan karena itu mereka optimis akan menang. Setidaknya, mereka berpendapat bahwa tidak ada ruginya untuk mencoba. Terbukti, Agus di bulan Oktober dengan elektabilitas masih nol koma sekian persen namun menjadi ‘a rising star’ pada bulan Desember 2016, lanjut ke Januari bahkan di awal Februari 2017, sebagai Paslon yang memiliki elektabilitas tertinggi, begitu laporan dari semua survei-survei besar dan diakui oleh media mainstream.

Platform yang sama “nasionalis relijius” namun banyak varian di antara para relawan. Jelas, namanya relawan yang datang dari berbagai penjuru komunitas lintas etnis, agama, profesi maupun kondisi sosial ekonomi bukan perkara gampang untuk menjadikan mereka di bawah satu komando.

Masing-masing dari puluhan komunitas relawan atau simpatisan memiliki komandan masing-masing secara independen dan berdaulat. Jadi tidak mungkin Agus memberikan perintah tunggal untuk dukung Paslon 3 atau Paslon 2. Ini opsi yang tersisa: memberikan independensi kepada semua relawan dan simpatisan membaca situasi politik sekarang dan menentukan pilihan sendiri berdasarkan keyakinan, kepercayaan Paslon mana yang paling cocok dengan platform dan terbaik untuk masa depan Jakarta.

Lagipula mengapa harus mengarahkan pada komunitas dengan warna yang jelas dan kecenderungan memilih calon gubernur Muslim? Survei juga menyebutkan lebih dari 60 persen penduduk Jakarta menginginkan pemimpin yang baru. Kecenderungan bahwa semua komunitas relawan dan simpatisan mengarah dukungan mereka ke Paslon No. 3. Jika demikian maka tidak ada urgensi untuk mengarahkan mereka karena mereka sudah punya pilihan dan preferensi yang tidak berbeda dengan Paslon No. 1 itu. Instruksi untuk mengarahkan ke Paslon berbeda akan counter-productive.

Memberikan kebebasan bagi relawan dan simpatisan adalah opsi terbaik dan paling bijaksana. Keuntungan bagi Agus yang kini sedang membangun karir di masa depan adalah dengan posisi netral ini dia bisa melakukan komunikasi politik dengan semua pihak — termasuk pada partai dan kelompok kompetitornya — tanpa perlu melukai perasaan dari pihak manapun. Di lain pihak, tampaknya komunitas relawan dan simpatisan yang ikhlas tanpa imbalan sejak awal mendukungnya merasa nyaman dengan kepercayaan untuk memutuskan sendiri.

Memberikan kebebasan bukan berarti ‘melepas’ jaringan yang telah terbentuk alamiah selama empat bulan kampanye. Karena itu, relawan dan simpatisan adalah aset. Agus disarankan agar tetap memelihara komunikasi dan silaturahmi kepada mereka yang turut berjasa menjadikan Agus seperti sekarang.

Dengan posisi ini maka kedudukan pengimbang maupun penentu dengan modal suara pendukung 18-19 persen dapat dilaksanakan dengan sangat bijakana. Dan, opsi ini terbaik dan satu-satunya yang available bagi Agus-Silvi.

Apa agenda Agus Harimurti Yudhoyono ke depan?

Dalam empat bulan berpolitik, Agus boleh dikatakan “the rookie of the year” yang bisa membuat iri politisi lain yang telah menghabiskan puluhan tahun berkarir di politik tetapi nama mereka tetap tidak dikenal. Agus boleh disebut menjadi pemimpin nasional harapan post-Jokowi. Dia telah menjadi politisi terpopuler nasional setelah Jokowi. Ada potensi beliau sukses sekiranya berminat mencalonkan diri pada Pilpres 2019, meski ini masih spekulatif.

Ketika Agus maju mencalonkan diri banyak pihak menyesalkan keputusan ini. Saya juga demikian. Namun, setelah hitung-menghitung saya melihat ada merit jika Agus berpindah ke politik meninggalkan karir militer. Bagi Agus sendiri, keputusan pindah ke politik merupakan bentuk pengabdian lain kepada negeri yang tidak kalah mulia. Agus menganut politik santun yang dilandasi etika.

Menang? Ini harapan kita semua, tetapi perjuangan ini sangatlah berat. Sejak awal, Agus dan tim pendukung sadar bahwa mereka harus bekerja keras all out di tengah minimnya dana dan menghadapi pesaing-pesaing yang sudah berpengalaman di politik. Jika kalah? Ada hikmah, pelajaran dan pengalaman karena dunia militer sangat berbeda dengan dunia politik. Bagi politisi, contoh seperti Obama, kegagalan adalah modal untuk keberhasilan ke depan. Gagal dalam pemilihan di House of Representative, namun kemudian Obama memang menjadi Senator dan akhirnya menjadi presiden 2 periode. Tidak ada kata menyerah dalam perjuangan, kata politisi sejati.

Dari sisi ini, kegagalan di Pilkada DKI bukan the end of the story. Ini baru langkah awal. Bagi politisi muda berusia 38 tahun maka kita akan menyaksikan kiprah Agus sedikitnya sampai 30 tahun ke depan. Karena itu, meski kalah namun saya masih melihat Agus-lah ternyata bukan bermental pecundang. Dialah petarung sekaligus pemenang sejati. Pemenang untuk pertarungan di masa depan yang lebih besar. Tidak ada ruginya. Kalah itu hanya kalkulasi matematis.

Jelas, untuk pertarungan ke depan Agus telah memiliki investasi dan modal yang luar biasa. Generasi millennium kini menjadikan dia idola, sumber inspirasi dan harapan untuk membangun Republik ini sesuai dengan atribut dan kebesaran, kehormatan, dan kejayaannya ke depan. Agus memiliki kualifikasi itu dan sudah memulai secara dini, maju sendirian dan menonjol di antara generasi dia maupun beberapa generasi yang lebih senior.

Saya sedikit banyak meneliti tokoh muda ini. Pertama kali saya melihat presentasinya di depan diplomat muda Kemlu, ketika Agus saya undang untuk memberikan ceramah, atas permintaan para diplomat muda itu. Sejak memutuskan untuk berkarir di politik ada beberapa kali saya bertemu dan berbincang dengan beliau.

Apa opsi Agus selanjutnya?

Opsi pertama adalah di dunia akademis. Agus Harimurti Yudhoyono memiliki bakat akademis yang cemerlang. Pemegang tiga gelar master dari perguruan tinggi terkemuka dunia itu –termasuk dari The John F. Kennedy School of Government, Harvard University, juga pendiri Universitas Pertahanan (Defense University) yang berkampus di Sentul. Dia berbakat menjadi jenius sebagai politisi.

Agus telah terbebas dari dunia kemiliteran yang penuh disiplin itu. Kegagalan di Pilkada memberikan kesempatan baginya untuk mengeksplor dunia politik yang lebih luas. Dunia akademik tidak jelek untuk menjadi basis ke depan. Agus bisa fokus kembali mengajar di Unhan, berinteraksi dengan para mahasiwa bila dia memilih menjadi dosen. Dengan ‘back to campus’ Agus akan terdorong untuk menyelesaikan pendidikan S-3 nya, baik di dalam maupun di luar negeri.

Menjadi seorang intelektual adalah kesempatan untuk berkiprah membangun negeri. Sebagai intelektual, Agus akan bebas bergaul dengan ilmuwan dari berbagai disiplin lainnya, dan modal intelektual dan pengalaman ini merupakan kesempatan untuk mendalami bidang-bidang ilmu yang sesuai dengan bakat dan keinginan Agus. Bila dia meraih 3 gelar master yang erat kaitannya atau relevan untuk membangun karir di dunia militer, maka kini Agus bisa mendalami ilmu-ilmu lain yang relevan dalam membangun negeri, misalnya bidang ekonomi atau bahkan politik, termasuk diplomasi.

Dalam kaitan ini, Agus adalah pemikir militer yang pada dasarnya adalah multi-disiplin. Sebagai pemikir, Agus bisa berkiprah di dalam suatu kelompok think-tank, seperti Rand Corporation, atau Brookings Institute, atau yang sejenis CSIS yang mengobservasi perkembangan keamanan dunia dan kajian internasional. Dia memiliki segudang referensi di bidang kemiliteran. Kepakaran ini dibutuhkan tidak saja oleh Indonesia, tetapi dunia.

Agus juga seorang pembicara yang menarik. Setelah namanya ‘melambung’ ke tingkat nasional maka akan banyak tawaran baginya untuk menjadi pembicara, baik di dalam maupun di luar negeri. Jadwal ini tidak kurang padatnya. Selama empat bulan menjadi politisi, saya melihat transformasi yang luar biasa dalam diri Agus. Dia tidak kaku, dan bahasa yang digunakannya bukan bahasa militer. Fokus, logis, dan terstruktur dalam presentasi sudah terbiasa baginya. Tinggal mengisi struktur itu dalam pesan-pesan politik. Bilamana Agus memperkaya presentasinya dengan retorika maka dia akan menjadi orator yang hebat.

Opsi kedua, melanjutkan karir di partai. Tentu saja, Partai Demokrat yang menjadi salah satu partai pendukung dan Agus mengenal baik tokoh-tokohnya yang masih di lingkungan keluarga dan sahabat ayahnya merupakan tempat berkiprah yang pas. Melalui jalur PD, Agus bisa saja melanjutkan karir politiknya di dunia legislatif. Tahun 2019 adalah saat yang tepat untuk menceburkan diri di lembaga legislatif.

Memang ada ‘angin surga’ berbisik menggoda Agus untuk maju dalam Pilkada Gubernur di tempat lain. Tetapi menurut saya, menjadi calon gubernur DKI Jakarta sebagai ibukota negara sudah berskala nasional dan sangat prestisius. Kembali berkiprah di Pilkada adalah pengulangan dari apa yang telah dilakukan Agus di DKI Jakarta. Tidak ada yagng baru.

Bagaimana jika Agus ditawari posisi di kabinet? Wajar saja, kabinet memerlukan wajah dan pemikiran segar dan orisinal. Agus memiliki potensi dan bakat besar duduk di birokrasi. Namun, opsi ini mungkin bukan terlalu tepat. Pengalaman 4 bulan di politik itu perlu dieksplorasi ke bidang-bidang yang luas dan pergaulan di berbagai kalangan: eksekutif, legislative, akademik, media, LSM, dan sebagainya. Pengalaman mengelola birokrasi telah didapatnya dalam penugasan di struktur militer. Tidak ada yang baru dalam manajemen organisasi baginya.

Bagaimana kans di bisnis? Sepanjang pengamatan saya Agus bukan tipe bisnismen dan tidak pernah menggali karirnya di bidang usaha. Sebagai eksekutif di perusahaan tentu Agus akan cemerlang. Di berbagai negara saya tahu banyak pensiunan militer kemudian menjadi eksekutif di perusahaan-perusahaan besar. Banyak teori bisnis yang diadopsi dari teknik perang. Tetapi, menurut hemat saya menjadi businessman itu haruslah memiliki ‘instink dagang’ yang kuat, dengan kalkulasi untung-rugi. Ini bukan domain Agus.

Mungkin, domain beliau yang pas adalah di politik, dan ini adalah takdir yang tak pernah terbayangkan beliau bahwa akan meninggalkan dunia kemiliteran di usia muda.

Politics is an art and science, and a possibility karena itu menjadi ruang yang luas sekali. Adalah kesempatan bagi Agus untuk mengembangkan diri dan selanjutnya karir di dunia ini. Politik juga adalah alat pengabdian, asal saja memang niat awal untuk membangun negeri dan tidak terpancing dengan tindakan atau praktik politik yang kotor dan perilaku menang-menangan.

All options are on the table, dan Agus bebas memilih ke mana akan melangkah. Agus telah membangkitkan semangat dan harapan kita bahwa negeri ini harus berada di tangan yang tepat, dijalankan dengan kepemimpinan berintegritas penuh dan tetap fokus pada tujuan, seperti yang diamanatkan oleh pendiri negeri ini: untuk kemashlahatan rakyat sebagai pemilik dan pewaris negeri ini.

Mudah-mudahan telah lahir seorang pemimpin di masa depan. Dan waktu ini tidaklah lama.

 

Jakarta, 19 Februari 2017

Penulis : Hazairin Pohan

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.