Saat Sepakbola Menjadi Media Kaderisasi NU
Foto saat PS Putra Buana latih tanding melawan Persema Malang di stadion Gajayana

Saat Sepakbola Menjadi Media Kaderisasi NU

DITULIS USER

Faiz Abdalla
ngopiBOLA 13 Apr 2018 WIB

Pada tahun 2013 di NU Online, saya pernah menulis berita tentang tim sepakbola PS Putra Buana Gresik yang diundang berlatih tanding melawan tim junior Persema di stadion Gajayana Malang. Saat itu Persema merupakan klub kasta tertinggi liga Indonesia dan diperkuat nama-nama besar seperti Irfan Bachdim dan Bima Sakti.

PS Putra Buana merupakan sebuah tim sepakbola yang dinaungi NU dan dikelola oleh GP Anshor ranting Banyutengah Gresik. Saat ini, tim tersebut terdaftar sebagai anggota resmi Askab PSSI Gresik dan berkiprah di kompetisi internal PSSI Gresik.

Prestasinya pun terbilang lumayan. Beberapa kali ia menjuarai kompetisi maupun turnamen untuk usia muda U-15 dan U-17 di tingkat Gresik. Beberapa pemain binaannya pun ada yang memperkuat tim sepakbola Gresik, baik di kejuaraan sepakbola pelajar antar kabupaten maupun di kompetisi resmi PSSI, seperti Persegres Putra Gresik yang berlaga di liga 3 PSSI.

Bahkan, bila anda pernah mendengar nama Ahmad Nur Hardianto, striker Timnas U-23 yang saat ini membela Arema FC, ia dulu juga sempat merasakan binaan di PS Putra Buana. Dari kompetisi internal PSSI Gresik, ia lalu direkrut Persegres Gresik United dan Persela Lamongan sebelum akhirnya dipanggil Luis Milla membela Timnas U-23.

Karena prestasi itulah, PS Putra Buana beberapa kali diundang berlatih tanding melawan tim muda klub-klub profesional. Selain pernah merumput di stadion Gajayana Malang, PS Putra Buana juga pernah merasakan atmosfer stadion Surajaya saat diundang berlatih melawan tim muda Persela Lamongan.

Saat berjayanya PS Petrokimia Gresik dulu, beberapa kali PS Putra Buana menjadi lawan berlatih PS Petrokimia Gresik di stadion Tridharma Gresik. Saat itu merupakan masa keemasan persepakbolaan Gresik dengan berhasilnya PS Petrokimia Gresik menjuarai liga Indonesia pada tahun 2002.

Namun yang tak kalah penting dari prestasi di atas lapangan itu, sesungguhnya tim sepakbola ini didirikan oleh NU Banyutengah untuk mewadahi para remaja dan pemuda mengisi kegiatan positif. Selain madrasah, masjid dan langgar, uniknya, NU Banyutengah juga memiliki klub sepakbola untuk menunjung perannya di masyarakat.

Artinya, pendirian tim sepakbola ini sedari awal memiliki fungsi sosiologis, terutama untuk mencegah kenakalan remaja. Hal itupun terbukti efektif. Kegemaran pada sepakbola ternyata mampu mendorong pola hidup sehat sehingga menghindarkan para remaja dan pemuda setempat semisal dari bahaya minum-minuman keras, balapan liar, atau bahkan narkoba.

Dalam pengelolaannya, PS Putra Buana telah memiliki kultur berlatih serta organisasi yang terbilang modern untuk ukuran tim sekelas desa. PS Putra Buana memiliki kelompok usia muda, mulai dari U-12, U-15, U-19, sampai senior. Hal itu tentu berbeda dengan kebanyakan tim di desa yang masih dikelola ala kadarnya.

Di samping itu, bila masih banyak ditemukan orang bermain sepakbola di lapangan desa tanpa alas sepatu, di PS Putra Buana, setiap pemain diwajibkan bersepatu serta beratribut latihan lengkap. Setiap kali latihan, mereka juga didampingi pelatih.

Karena itu, dari tahun ke tahun pembinaan pemain muda semakin menunjukkan hasilnya. Hal itu terbukti dengan berhasilnya beberapa pemain binaannya memperkuat tim sepakbola Gresik, baik di klub profesional yang berlaga di kompetisi resmi PSSI maupun di kejuaraan sepakbola pelajar antar kabupaten.

Diakui, untuk mengarah ke tim sepakbola profesional, PS Putra Buana memang masih memiliki banyak kekurangan, terutama dari segi finansial. Namun bila dilihat secara sosiologis, dengan pembinaan usia dini yang sudah teratur, dampak tim tersebut terhadap pencegahan kenakalan remaja dapat dibilang sangat signifikan.

Dari kecil atau sejak di madrasah ibtidaiyah, anak-anak sudah diarahkan melalui sepakbola. Tidak hanya berkaitan dengan fisik, melainkan juga psikis. Hal itu memudahkan NU setempat untuk membina mental dan perilaku mereka. Dari tim sepakbola inilah kemudian terbentuk komunitas remaja masjid, langgar, sampai IPNU.

Maka, ia tidak berhenti sebagai bagian dari pendidikan karakter, melainkan juga memainkan peran sebagai wadah kaderisasi NU setempat. Benar bahwa secara normatif, wadah kaderisasi NU adalah IPNU, IPPNU, Fatayat, atau Anshor. Tapi secara empirik, tim sepakbola pun terbukti mampu menjadi tempat dimulainya kaderisasi NU.

Sudah bukan rahasia, sepakbola merupakan olahraga paling digemari di Indonesia, bahkan dunia. Siapapun menikmati sepakbola baik dengan bermain maupun sekedar menontonnya. Hampir setiap desa atau kelurahan memiliki lapangan sepakbola, meski dengan ukuran dan kualitas rumput ala kadarnya.

Hal itu nampaknya dibaca baik oleh NU Banyutengah dengan mendirikan tim sepakbola. Bahkan sejak berdiri, semua kebutuhan tim dibiayainya, mulai dari bola, jaring gawang, kaos tim, serta segala atribut berlatih lain, dan semua perkakas lapangan. Sedangkan lapangan adalah milik desa.

Minat masyarakat yang tinggi pada sepakbola itulah, yang menjadi pintu masuk NU untuk melakukan kaderisasi. Pembinaan di bidang sepakbola secara pararel juga difungsikan untuk membina kader-kader muda NU. Dari situlah mereka lalu diarahkan untuk aktif di IPNU.

Tidak semua memang akhirnya dapat diajak untuk aktif di IPNU. Tapi setidaknya, melalui tim sepakbola, rasa memiliki NU dapat dibangun dan terjaga dari generasi ke generasi. Militansi itulah yang menjadi modal PS Putra Buana hingga sanggup bertahan sampai sekarang meski hanya mengandalkan swadaya masyarakat, terutama warga NU sendiri.

Achmad Faiz MN Abdalla (Kader IPNU Banyutengah Gresik)

Penulis : Faiz Abdalla

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.