Koran, antara Dua Perspektif
Ilutrasi: greatfon.com

Koran, antara Dua Perspektif

DITULIS USER

Faiz Abdalla
ngopiOPINI 06 Apr 2017 WIB

Suatu hari, seorang ibu datang kepadaku.“Nak, aku mau beli koranmu.” Nampaknya ia tahu aku kolektor koran. “Korannya tidak aku jual, Bu.” Jawabku. Tanpa bertanya mengapa, si ibu langsung mengelurkan uang dari dompetnya. “Ayo Nak, koranmu ibu beli 100 ribu. Ayo gih,” ia mulai memaksa halus.

Aku bingung mau jawab apa. Jujur saja, aku iba. Ia telah gerakkan kakinya, datang kepadaku untuk suatu maksud: koran. Si ibu sehari-hari berjualan nasi bungkus di pasar. Tentu, koran yang hendak ia beli untuk bungkus nasinya. Terbayang kan, bagaimana kalau ia ibu kita? Tak sampai hati kalau tidak membantunya.

Namun, si ibu tidak tahu, mengapa aku bersusah payah koleksi koran-koran itu. Aku bukan penjual koran bekas. Kalaupun ada penjual koran bekas, aku jua yang beli. Ya intinya, koran-koran itu berharga buatku. Koran bukanlah sebatas kertas. Ia lebih dari itu.

***

Dari kecil, minat bacaku terhadap koran sudah tinggi. Mungkin karena lingkungan. Lulus SD, aku lanjut ke pesantren. Disana, tidak ada televisi, apalagi gadget. Pun handphone jadul, belum jamak dipegang orang. Dunia kecilku belum secanggih sekarang. Media yang aku nikmati, satu-satunya, ya surat kabar, koran. Dari situ, minat bacaku tumbuh.

Kalau ada lebih uang, aku sengaja nunggu penjual koran di depan gerbang pondok. Bapaknya naik sepeda onthel. Sepeda tua. Kebetulan, beberapa kantor di pondokku memang berlangganan koran. Si bapak selalu keliling pondok tiap pagi. Bila akhir bulan tiba, uangku menipis, ya terpaksa ngandalin koran yang dipajang di sekolah.

Seingatku, Jawa Pos yang sering aku beli. Menurutku, Jawa Pos memang membidik pembaca umum. Berbeda dengan Kompas atau Republika, yang membidik kalangan pembaca atas. Masa itu, aku masih kesulitan untuk mencerna Kompas dan Republika.

Namun masaku di pondok singkat. Setelah setahun, aku putuskan pindah sekolah. Koran-koranku yang kukumpulkan, aku boyong. Berdus-dus.

Aku pindah ke sekolah di rumah, di desaku sendiri. Kebiasaanku membaca koran tetap kujaga. Tiap pagi, sebelum pergi ke sekolah, aku beli koran SPBU terdekat. Disana jualan Koran. Tapi tidak setiap hari. Kadang ada, kadang tidak.

Dulu berita tidak sedijangkau sekarang. Aku pengagum AC Milan dan Gresik United. Untuk mengikuti kabar keduanya, hanya dua media yang tersedia: koran dan televisi. Itu pun terbatas. Lain sekarang. AC Milan miliki website resmi, juga channel televisi sendiri. Melalui internet, pendukung Milan dapat mengakses semua tentang Milan dari kedua sumber itu.

Di sekolah pun, aku sering bawa pulang koran milik kantor. Pikirku, daripada koran sekedar dibaca hari itu, lalu esoknya berserakan di gudang kantor, maka sebaiknya aku bawa pulang. Di rumah, aku tata rapi koran-koran itu. Aku tumpuk berdasarkan tanggalnya, dan mengelompokannya berdasarkan bulannya. Sudah semacam perpustakaan mini khusus koran. Siapa yang ingin membaca, tinggal pilih bulannya, lalu lihat tanggalnya, sesuai yang diinginkan.

Di daerahku, Panceng Gresik, minat pembaca koran tergolong rendah, bahkan sangat rendah. Mungkin bukan hanya koran, tapi minat membaca secara umum. Sejak aku SMP sampai kuliah, relatif hanya Jawa Pos yang beredar. Itu pun hanya bisa dibeli di sebuah kios yang terletak tidak jauh dari kantor kecamatan. Tidak ada Kompas atau Republika. Bila habis atau kios itu tutup, terpaksa aku membelinya di Paciran Lamongan.

Ketika merantau ke Jogja pun, kebiasaan membeli koran berlanjut. Bahkan semakin menjadi. Di awal-awal kuliah dulu, setiap sabtu malam aku pergi ke Malioboro. Bukan untuk belanja kaos, atau nongkrong di Nol Kilometer. Tapi untuk ke kios-kios koran dan majalah di sepanjang jalan menuju alun-alun utara. Kios-kios itu jualkan koran bekas seminggu itu. Jadi, koran dari hari senin sampai sabtu bisa dibeli di kios-kios itu. Esoknya, ahad, koran-koran itu dikembalikan ke agen.

Tentu, harganya lebih miring. Bisa sampai setengah harga biasa, bahkan seperempatnya. Itu pertimbangannya. Selain koran bekas, banyak juga majalah bekas. Majalah Tempo terutama. Harganya jauh lebih miring. Bila harga di bulan terbitnya sekitar 35 ribuan, di kios-kios itu hanya dijual 5 ribuan. Usia bekasnya baru sekitar 2-3 bulan. Belum selisih lama dengan masa terbitnya.

Yang menarik, tarif parkir di Malioboro ternyata lebih mahal dari harga koran Kedaulatan Rakyat (KR), koran lokal Jogja terbesar; atau lebih murah sedikit dari Jawa Pos dan Kompas. Bahkan untuk Sindo, Harian Jogja, dan Tribun sekalipun, semua di bawah harga parkir motor. Entah, apa hanya aku yang menyadari ini, atau ada orang lain yang juga berpikir demikian.

Maka setiap akhir pekan, tasku penuh dengan koran dan majalah bekas. Entah, susah nahan godaan setiap lihat koran atau majalah bekas berjejer. Bawaannya pengen borong. Apalagi tahu harganya sangat miring.

Sampai akhirnya, aku mulai berlangganan koran Kompas. Dari semua Koran yang aku baca, aku paling tertarik dengan Kompas. Aku putuskan berlangganan, karena di kios-kios koran bekas, sering ada edisi yang habis. Terutama bila koran memuat kasus-kasus besar. Belum siang, koran-koran hari itu sudah ludes. Padahal edisi itu yang aku inginkan.

Setiap pergi ke kampus, aku pun mampir ke kios koran tempatku berlangganan. Ibu pemilik kios, orang yang sangat baik dan jujur. Itu alasan mengapa aku berlangganan di kios miliknya. Biasanya kami terlibat obrolan ringan. Kebetulan ia punya seorang putri, bisa dibilang lumayan. Ya hitung-hitung cari perhatian.

Beberapa bulan berlangganan, si ibu tawarkan aku berlangganan harga pelajar. Harganya jauh di bawah langganan biasa. Aku iyakan tawarannya. Ia lalu minta fotokopi kartu mahasiswaku. Uang bulanan berlangganan koran pun, bisa aku alokasikan untuk beli koran tambahan. Kadang Republika, Jawa Pos atau Kedaulatan rakyat.

Dulu aku sekedar minati berita olahraga. Tidak terlalu suka dengan berita politik, hukum, atau isu sosial lainnya. Terlalu berat bagiku. Maklum saja, masa itu aku masih SMP. Lambat laun, minat bacaku bergeser. Dari berita olahraga ke berita politik. Bahkan sekarang, setiap membuka koran, aku dahulukan membaca kolom opini. Aku tandai, kira-kira mana yang bisa aku jadikan rujukan. Aku suka menulis opini dan penelitian hukum.

Dulu semasa di pondok, aku memiliki guru yang istimewa, yakni Gus Bisri Mustofa. Ia putra bungsu Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus). Ia guru yang asyik, yang terbuka. Suatu hari ia bercerita, ia kecil habiskan waktunya membaca komik. Katanya, untuk membangun minat membaca, mulailah dengan bacaan yang kamu sukai, yang kamu nikmati. Mulai komik, cerita pendek atau novel. Bukan buku-buku berbobot.

Benar, itu yang aku rasakan. Bermula dari yang ringan.

***

“Maaf, Bu,” aku bersikukuh menolak koranku dibeli. Berat sebetulnya untuk katakan itu. Tapi bagaimana, koran-koran itu sangat berharga buatku. Masa kumpulkannya, bukan satu-dua tahun, tapi bertahun-tahun. Aku pun beli dengan harga normal, bukan harga bekas. Jadi bila koran-koranku hanya dibeli 100 ribu, betapa ruginya aku. Sebulan saja, aku anggarkan uangku 100 ribu untuk berlangganan koran. Setahun, kira-kira 1,2 juta. Itu baru dari kacamata harga.

Selain itu, tentu kacamata isi. Bilapun koran itu dibeli dengan harga sesuai aku membelinya, aku tetap tidak menjualnya. Karena bagiku koran bukan sekedar kertas kosong. Koran memiliki ruh, nyawa, sehingga ia adalah konsep yang utuh. Nyawa itu adalah tulisan atau pesan yang tertulis di kertas itu.

Sama halnya dengan kitab suciku, Al Qur’an. Terpenting darinya bukanlah kertas atau sampulnya, melainkan isinya, yang kita baca, kita hayati, sebagai pesan kebaikan sejak diwahyukan sampai sekarang.

Ketika kita datang ke Gramedia, yang ada di hadapan kita adalah kumpulan jilidan kertas. Sekedar itu. Namun harganya puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. Mengapa? Karena isi daripada kertas itu. Isi-lah yang membedakan nilai kertas. Ia ruh dari sebuah kertas.

Bagi orang seperti ibu yang hendak beli koranku, apalah artinya. Seberarti apapun isi sebuah kertas, tetap saja sebuah kertas yang bisa ia gunakan untuk bungkus nasinya -tanpa bermaksud merendahkan si ibu dengan profesinya. Ini soal perspetif. Bahwa terhadap obyek yang sama, dimungkinkan dua perspektif atau lebih.

Melihat aku bersikukuh menolak, si ibu pun mulai kesal. “Itu loh koran-koran kamu, daripada nggak kamu pakai, buat aku saja. Ini uangnya. Di pasar harga koran sebanyak itu cuma 50 ribu,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk koran di sudut kamarku.

Aku makin bingung, bagaimana menjelaskannya. Aku jelaskan panjang lebar, rasanya percuma. Di mata dia, koran hanyalah kertas. Tidak dijelaskan, jadi salah paham. Tapi tetap saja, aku bersikukuh menolaknya. “Ngapunten, Bu. Tidak aku jual,” jawabku sekali lagi, tegas.

Akhirnya ia menyerah. Ia membalikkan badannya, berjalan meninggalkanku. Mukanya tampak kesal, kecewa. Usahanya tidak berhasil.

“Orang kok pelit. Barang koran saja kok. Aku ora njaluk tapi tuku,” kesalnya sambil berlalu.

 

Yogyakarta, 6 April 2017

 

Penulis : Faiz Abdalla

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.