Buku-buku Sebagai Tumpuhan Hidup Di Pasar Blauran

03 Oct 2019 10:07   Pendidikan
Buku-buku Sebagai Tumpuhan Hidup Di Pasar Blauran
Pedagang Buku di Pasar Blauran Surabaya

Buku selalu menjadi hal yang menarik untuk diulas, baik dalam konteks isi maupun latar belakang kehidupan penulis. Terlepas dari itu ada konteks lain yang tak kalah menarik, yaitu tentang kehidupan pedagang buku, terutama pedagang kecil yang telah mengamini buku-buku sebagai mata pencaharian dan tumpuhan ekonomi keluarga.

Pasar Blauran, di Jalan Kranggan. nama yang tidak asing lagi bagi masyarakat Surabaya. Selain menjadi salah satu pasar tertua. Pasar Blauran juga terkenal karena pedagang buku serta kelengkapan koleksi bukunya, baik buku bekas maupun baru semua tersedia. Bahkan mereka juga siap menerima pesanan buku dalam jumlah banyak, seperti buku-buku  kebutuhan perpustakaan.

Lokasi pedagang buku terletak diwilayah tengah pasar, keberadaanya terkoodinir dengan baik di bawah naungan pemerintah daerah. Wilayah kusus pedagang buku diisi oleh 62 stand, 42  pedagang lama dan 20 pedagang baru. Buku yang dijualkan cukup beragam, dari buku paket sekolah dasar sampai buku hasil penelitian para ilmuan. Menurut Hakim Muslim sebagai koordinator pedagang buku mengatakan "Dulu tahun 80'an pedagang buku berlapak didepan pasar, lalu pindah ke Jalan Semarang. Dan sekitar tahun 94, kami mulai masuk dan berlapak didalam pasar"

Untuk para pembeli, mereka datang dengan latar belakang dan kebutuhan yang bermacam-macam, mulai dari akademisi sampai kolektor buku, mereka relah hinggah larut malam berburu buku bagus yang ditulis oleh penulis idaman. Bahkan jika dihari itu mereka tidak menemukan buku yang mereka inginkan, bisa memesan terlebih dahulu lewat kontak langsung ke pedagang jika buku tersebut nantinya tersedia.

Mengulas para pedagang, pastinya akan mengulas mengenai kerugihan dan keuntungan yang diperoleh dari hasil berdagang. Namun tak seperti pedagang barang lainya, para pedagang buku di Pasar Blauran tidak bisa memastikan mengenai hal tesebut, terutama keuntungan berjualan buku yang menurut Hakim Muslim tidak stabil. Ia mengatakan bahwa buku juga memiliki musim, seperti untuk para akademisi ketika menjelang tahun ajaran baru, maka buku yang laris dicari adalah buku mengenai buku pembelajaran edisi atau terbitan terbaru.

Sedangakan mengenai persoalan-persoalan yang bisa mengakibatkan kerugihan, Hakim Muslim menjelaskan ada dua persoalan yang menjadi kendala bagi penjual buku di Pasar Blauran, terutama di era digital seperti saat ini. Yang pertama adalah penjual buku dimedia online, dan yang kedua adalah peran pemerintah.

Memang tidak bisa dipungkiri keunggulan era digital sekarang yang mampuh  mempermudah cara pemenuhan berbagai kebutuhan manusia. Tetapi tidak semudah itu bagi perhitungan para pedagang buku di Pasar Blauran.

“Kita bisa saja download berupa file, tetapi untuk harga cetak dan penjualan, pastinya tidak akan berimbang” Ujar Hakim Muslim.

Para pedagang buku di Pasar Blauran juga menyesalkan mengenai sikap pemerintah dan penerbit tentang adanya pedagang buku dimedia online. Bahkan mereka bisa memastikan pembeli tidak bisa benar-benar tau mana buku orisinil dan buku bajakan, karena iklan yang dibuat dimedia online dikemas begitu cantik, meskipun hanya beberapa buku dan tanpa adanya keterangan identitas penjual secara lengkap.

Hakim Muslim mengatakan, “Terutama kalo penjual dimedia online memberi harga lebih murah sekali dibawah harga buku yang sudah ditentuhkan penerbit, sudah saya pastikan itu bajakan. Tetapi jika kami yang memperjualkan buku bajakan kami pasti sudah digrebeg penerbit dan kepolisian dilokasi ini. Karena setiap tahun selalu di adakan controling oleh penerbit. Sedangkan penjualan buku di media online yang jelas sama-sama bajakanya, mereka aman-aman saja”

Berbicara mengenai peran pemerintah, bagi mereka pemerintah sama sekali tidak memfasilitasi penjual buku di Pasar Blauran. “Pemerintah membangun banyak sentra kuliner dengan bagus, bagi yang ingin berdagang tidak dipungut biaya sama sekali, tetapi untuk yang berada di pasar tradisional, yang lebih lama berdagang, peran pemerintah tidak ada” Ujar Hakim Muslim.

Pasar Blauran adalah pusat penjualan buku bekas dan baru terbesar di Surabaya. Sedangkan di jalan Semarang ataupun di wilayah Kampoeng Ilmu, mereka merupakan pecahan dari pedagang buku Pasar Blauran yang dulu berulang kali menjadi korban penggusuran.

Jika kita berkesempatan datang langsung ke lokasi dan memperhatikan proses penjualan maupun hubungan sesama pedagang buku di Pasar Blauran, mereka terlihat telah menjalin hubungan dengan sangat baik, perbedaan jenis buku yang diperjualkan setiap stand membuat mereka juga saling melengkapi, walaupun ada persaingan antara pedagang itu adalah hal yang lumrah dengan niat yang sama-sama mengamini buku sebagai tumpuhan hidup.