Berpolitik Pusing Ala Petugas Kerja.

14 Oct 2018 17:21   Politik
Berpolitik Pusing Ala Petugas Kerja.
Sumber: www.rmol.co

Defenisi politik, bila dibaca dalam berbagai literatur, maka akan muncul banyak rupa. Dan yang menarik dari defenisi politik adalah dua hal sederhana, seni dan ilmu hanya berdua. Kalau yang lain turunan dalam bentuk gaya.

Soal ilmu, maka ada pemaparan tentang politik oleh akademisi dari kampus. Sedangkan soal seni banyak tokoh yang bisa menjadi panutan. Mulai dari politisi senior, dan pemula.

Bicara politik memiliki seni. Sisi ini menarik bagaimana peran politisi berpolitik. Ada anggota dewan berpolitik lewat parpol. Ada Presiden berpolitik lewat Pilpres. Ada CEO berpolitik lewat usaha. Bangun perusahaan dengan investor pula.

Ada berpolitik dengan seni pusing. Setiap tindakan tak jelas ujung sampai pangkalnya. perbuatan tidak bertumu ucapan kata. Kebijakan datang baru datang, kemudian hilang. Sebab lupa membaca resume rapat semeja.

Sekretaris pun sibuk demikian rupa. Para pewarta juga ingin berita. Berita yang angkat trafik pembaca. Sebab pengiklan lihat alexa. Kalau tidak kita tidak saling menjaga.

Saling cela, lembar salah dan tak kesatria. Soal selesai nanti kasih jawaban enjoy saja. Sebab kamera dan kata-kata telah bisa di ajak kerjasama.

Ambil contoh petugas clening service saja. Ia akan pusing ketika banyak permintaan diluar tupoksinya. Tanggungjawabnya adalah memastikan ruangan bersih. Bersih sebelum datang para pegawai bekerja. Bersih ketika pulang.

Namun, ia juga punya gawean. Yakni sering bantu bebera pegawai terdesak kerja. Mulai dari membeli juz, makanan ringan. Sesekali juga mengetik laporan. Upahnya cukup untuk tambah beli pertamax yang naik tak berkira.

Di lain sisi, ia juga punya rekan kerja dan bos. Bos perusahaan alih daya. Bos perusahaan ia bekerja. Mesti ada dua bos yang dilayani. Bayaran datang dari bos tempat bekerja. Namun mesti berbagi dengan bos perusahaan alih daya.

Belum soal iri hati antar sesama. Ada yang suka bekerja. Ada yang suka bekerja ambil muka. Soal ini sering bikin ruwet bagi kerja.

Dirumahpun, beras dan semua mesti beli. Soal HP android terbaru mesti punya. Sebab beras dan kebutuhan dapur terkadang naik tak terkira. Hutang sama mpok kedai itu hal biasa. HP android pun nyicil, bayar gajian ada.

Soal tambah pendidikan jadi sarjana. Jauh dan sulit tergapai, sebab usia bertambah jua. Kuliah sabtu, minggu apalagi malam saja. Energi sudah habis untuk bekerja. Belajar cukup dari postingan teman dan Wa.

Soal pilihan partai dan presiden Indonesia, cukup menjadi penglihat saja. Sebab kebijakan buruh dan dunia kerja, hanya cerita kala demo bersama-sama. Sebab suara satu dan istri juga orang biasa.

Hanya bisa ngedumel lewat status saja. Atau curhat di grub Wa. Nanti teman-teman akan membuli saja, atau mendukung sambil tekan emoji tertawa.

Sesekali datang juga. Bersuara dalam demo teman senasib bersama. Atau tebar meme buatan entah siapa. Yang penting pusing ini mereda. Sering membuat status sebagai unjuk suara.

Bercerita tentang film terbaru dari amerika. Sebab film buatan anak bangsa, tidak mengena. Banyak soal cinta dan asmara. Sedikit soal berbangsa, pemerannya selalu anak muda leya-leya.

Terkadang juga marah keluar juga. Bikin sedikit nakal sedang saja. Butuh peralatan tambahan tuk kerja. Ternyata hanya janji semata. Sebab mesti koordinasi antara bos tempat bekerja. Sebab mereka sesekali berjumpa. Hanya soal ganti petugas yang tak patuh saja. Dan ambil uang upah kerja.

Menjadi petugas mesti banyak tertawa. Atau melakukan ‘konspirasi’ jumawa. Sekali-kali bikin suasana kerja tak sedap dipandang mata. Sebab si pegawai baru belum kenal dengan cara keja. Datang karena masuk lewat rekomendasi mitra usaha.

Kehendaknya banyak rupa. Dan ia juga tidak mau tanya. Soal bagaimana riuh bekerja. Bikin grub gossip lewat Wa. Atau karoke bersama.

Kemaren, ada pembantu bos berganti tergesa. Ceritanya ia menggelapkan uang proyek 15% saja. Untuk memperlancar usaha. Pembantu bos ini dulu suka bersuara. Sebab ia belum siapa-siapa.

Belum tahu bagaimana mengelola usaha. Bekerja dengan banyak karakter anak bangsa. Ia memainkan cara. Bikin grub untuk dukung gagasan hebat berslogan. Tapi tak tahu bagaimana turunan kerja.

Menghadirkan tim ahli dan konsultan dari negara tetangga. Katanya meningkatkan kesejahteraan pekerja. Namun, tidak tersentuh petugas yang semakin tua. Sejahtera bila hutang perusahaan bertambah, produksi bertambah, dan semua bertambah. Termasuk beban kerja.

Soal gaji dan bonus, itu nomor terakhir saja. Sebab, mesti ada penghematan sini sana. Karena pembantu bos dulu ada dusta.

Mau keluar kerja. Tak kuat berdagang seperti tetangga. Beli rumah atau buat rumah mesti berhutang lama. Gaji cukup mengontrak rumah petak sederhana. Sedangkan mesin cuci juga masih seri lama.

Biar juga keren di puja. Ikut juga lah gaya. Kasih janji perbaiki cara kerja. Asal diberi kepercayaan berkerja. Sebagai petugas yang sama. Dengan pembantu bos baru entah bisa kerja.

Inilah kita. Merdeka masih diatas kata. Bahagia hanya sebatas tawa. Yang penting masih bekerja. Sebab tetangga juga lebih kaya.