Membaca Semiotika Via Vallen dalam Kabeh Sedulur Kabeh Makmur

Membaca Semiotika Via Vallen dalam Kabeh Sedulur Kabeh Makmur

DITULIS USER

Areev Mohammad
ngopiOPINI 23 Jan 2018 WIB

Judul di atas sengaja saya buat untuk paparan yang mengurai tentang jargon “Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur”. Hal itu sengaja sebagai bentuk apresiasi yang tinggi terhadap Via Vallen, penyanyi dangdut koplo Jawa Timur, yang mempopulerkan jargon tersebut dalam lagunya. Video klip lagu ini beredar di banyak Group Whatsapp. 

Jargon “Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur”  digunakan oleh pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno dalam perhelatan Pilkada 2018. 

Melalui Via Vallen, saya tertarik dengan jargon “Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur”, yang dibawakan dengan ritme beat enerjik, sangat renyah di telinga. Meski kurang terasa aroma dangdutnya, yang selama ini jadi cirri khas Via Vallen, akan tetapi tetap terasa seksi di telinga. 

Tapi bukan soal itu yang ingin saya sampaikan dalam paparan ini. Justru tentang jargon politik “Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur”, yang ada dalam lagu itu yang lebih menggelitik. 

Seperti pada helatan politik yang lain, baik Pilkada, Pileg, Pilpres, bahkan Pilkades, urusan jargon selalu menjadi strategi tersendiri bagi setiap kontestan. Tujuannya adalah mengenalkan diri berikut pasangannya kepada calon pemilih. Yang terjadi kemudian adalah upaya utak-atik inisial nama pasangan calon dengan menjadikannya akronim yang kadang utopis. 

Sebagai contoh, pada Pilihan Gubernur Jakarta tahun 2012, saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berpasasangan dengan Joko Widodo, maka jargon yang dipakai adalah Jakarta Baru disingkat JB yang justru dibentuk dari inisial Jokowi-Basuki. Begitu juga saat Ahok mulai memperkenalkan diri sebagai kontestan pada Pilgub berikutnya, sebelum ditetapkan dengan siapa hendak dipasangkan, maka dia membuat sebuah jargon dalam sebuah program Bersih Transparan Professional, disingkat BTP, merujuk pada Basuki Tjahaja Purnama.

Paradigma utak-atik inisial seperti ini yang justru tidak dipakai oleh pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno. Pilihan jargon  Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur adalah paparan ide yang tampak sebagai fakta dan cita-cita.

Kabeh Sedulur, dalam terjemahan Bahasa Indonesia adalah Semua Bersaudara. Bergandeng dengan frasa Kabeh Makmur, Semua Sejahtera. Dua hal ini, antara Sedulur dan Makmur, adalah dua ide besar tentang tatanan masyarakat yang ditawarkan oleh pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno.

Dengan jargon “Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur”,  yang dalam lagu diberi penekanan Sak Jawa Timur, menegaskan bahwa pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno ingin menafikan Jawa Timur sebagai sebuah wilayah geografis administratif. Akan tetapi sebuah bentuk masyarakat komunal. Artinya ada ikatan emosional antar semua warganya dalam sebuah kesepakatan paseduluran, ikatan persaudaraan. Dengan kata lain, tidak ada lagi pembagian demografi yang biasa kita kenal sebagai tiga wilayah Jawa Timur dalam Mataraman, Arek, dan Tapal Kuda. Ini adalah sebuah cita-cita luhur.

Cita-cita di atas dipertegas dengan frase kedua yaitu, Kabeh Makmur. Kata Makmur yang berarti sejahtera. Artinya setelah semua masyarakat Jawa Timur mengikatkan diri pada persaudaraan, maka kesejahteraan akam mudah diraih.

Akan tetapi, jika menilik latar belakang Saifullah Yusuf, atau biasa disapa Gus Ipul, yang Nahdliyin tulen dan memiliki garis keningratan pesantren, saya beranggapan bahwa ada pesan mendalam yang ingin disampaikan Gus Ipul melalui frase kedua, Kabeh Makmur. Bukan sekedar cita-cita bersama untuk hidup sejahtera.

Lebih dari itu Gus Ipul secara tersirat ingin memaparkan bahwa prasyarat terbentuknya masyarakat madani, welfare, sejahtera adalah menyadari perasaan bersaudara apapun agama maupun region wilayahnya. Kemudian bersepakat mengikatkan diri pada sebuah sistem kepemimpinan kolektif atau amir.

Mengingat kata Makmur, sebenarnya adalah bentukan dari bahasa Arab, dengan kata dasara Amaro, Ya’muru, Ma’muuran. Orang-orang yang mau dipimpin oleh sebuah sistem atau orang yang disebut Amir. 

Anggapan di atas tentu tidak berlebihan. Sebab pada lirik selanjutnya disebutkan bahwa untuk bisa sejahtera, makmur, Gus Ipul melalui Via Vallen member prasyarat tambahan yaitu, asal rakyat akur, pemimpinnya bertindak jujur.  

Dalam lirik ini, tampak Gus Ipul ingin meletakkan pola relasi setara antara rakyat dan pemimpinnya. Memiliki tanggungjawab yang sama dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Kedalaman makna lagu riang ini ditambah dengan sebuah pesan motivasi dan moral, yaitu Ayo Sedulur Maju Terus Pantang Kendur, Marang Gusti Allah berdoa dan bersyukur. Sebuah pesan moral untuk berjuang menghadapi kontestasi Pilgub yang tentu tidak ringan.

Lagu ditutup dengan berulangnya reff “Kabeh Sedulur, SakJawa Timur, Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur,” hingga beat yang menurun dan Via Vallen melambaikan tangan diiringi senyum khasnya. Saya berulang kali memutar ulang untuk menikmati bagian ini.

 

Penulis : Areev Mohammad

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.