Gelar Pelatihan Ruqyah, Ketua PCNU Surabaya: Jamiyah Ruqyah Aswaja ini bisa menjadi solusi NU Urban

06 Apr 2018 13:08   Khazanah
Gelar Pelatihan Ruqyah, Ketua PCNU Surabaya: Jamiyah Ruqyah Aswaja ini bisa menjadi solusi NU Urban
Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri saat memberikan sambutan

Surabaya - Jamaah Ruqyah Aswaja Surabaya (JRA) mengadakan Pelatihan Praktisi Ruqyah Aswaja Surabaya yang diikuti lintas badan otonom. Di antaranya banser, ansor dan masyarakat sekitar. Hadir dalam pelatihan tersebut Ketua PCNU Surabaya H. Muhibbin Zuhri dan Ketua PC GP Ansor Surabaya H. M. Farid Afif.

Dalam sambutannya, Muhibbin mengucapkan selamat datang di petilasan para auliya pendiri Nahdlatul Ulama. "Di tempat yang kalian duduki hari ini, dulunya juga diduduki Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab dan para ulama untuk bermusyawarah," kata Muhibbin di Kantor PCNU Surabaya (4/4).

Muhibbin mengatakan di sinilah kantor pertama NU dengan nama Hoofdbestuur Nahdatoel Oelama (HBNO) atau kantor pusat NU. Pada tahun 1956 kantor pusat NU pindah ke Jakarta. "Pelatihan Praktisi Ruqyah Aswaja digelar di Kantor PCNU Surabaya ini sangat tepat, saya yakin arwah para kiai dan ulama turut menyaksikan dan mendoakan kita semua," kata pria yang juga Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini. 

Ia menilai, abad ini adalah abad spiritualitas. Banyak masyarakat perkotaan diberbagai profesi mulai dokter, ilmuwan hingga masyarakat modern sudah mentok. Mereka haus akan spiritualitas. "Hal itu dibuktikan dengan banyaknya majelis dzikir di perkotaan seperti di Surabaya ini," terang pria yang akrab disapa Cak Hibbin itu.

Selain itu, saat masyarakat semakin tinggi gaya hidupnya dan ketika masyarakat semakin maju sesungguhnya mereka mengalami masalah batin. Mereka haus akan spiritualitas. "Dengan adanya Jamiyah Ruqyah Aswaja ini bisa menjadi solusi NU Urban," harap Muhibbin.

Sementara ditempat yang sama, Afif yang mengatasnamakan Ansor Banser mengucapkan terimakasih telah turut andil membesarkan ruqyah. "Menurut klaim wahabi, bahwa ruqyah adalah milik mereka, ruqyah tidak ada dikalangan NU Itu salah," kata Ketua GP Ansor Surabaya ini.

Menurut mantan Ketua PW IPNU Jatim ini, sejatinya ruqyah itu milik NU, namun bahasa yang akrab di telinga masyarakat adalah suwuk. "Para kiai sudah lama menerapkan suwuk itu, misalnya waktu perang melawan penjajah Belanda atau tentara Inggris. Para kiai memberikan ijazah atau suwuk kepada pasukan perang terutama di senjata yang mereka bawa," terang Afif.

Namun, para kiai dulu tidak mau dipublis atau muncul kepermukaan. Dulu, ketika ada orang mau disuwuk pasti datang ke rumah kiai, lalu diberi air suwuan, setelah itu pulang, tidak ada acara ramai-ramai. "Beda dulu dengan sekarang, sekarang pemuda NU berani tampil, seperti malam ini mengadakan pelatihan praktisi ruqyah," imbuh Afif.

Selain itu, Afif mengaku ruqyah ini bagian dari ansor dan banser, pasalnya ini untuk mempermudah gerakan ansor dan banser dalam menghadapi mereka yang anti pancasila. "Saya perang melawan mereka secara dhohir sedangkan kalian bersama Gus Ong perang dengan makhluk ghoib atau suwuk," jelas Afif.

Maka dari itu, mulai hari ini ansor, banser dan JRA bisa menyatukan misi visi untuk melawan mereka yang anti NKRI, Pancasila dan menthoghutkan demokrasi. "Kekuatan NKRI ada di ulama dan pemuda serta ada dua jalan kekuatan yaitu kekuatan secara dhohir dan kekuatan secara batin," pungkas Afif.

Untuk diketahui, dalam Pelatihan Praktisi Ruqyah Aswaja Surabaya ini menghadirkan Pendiri dan Pembina Ruqyah Aswaja Gus Allama A’lauddin Shiddiqy (Gus Amak), Ketua Jamaah Ruqyah Aswaja Mufrohul Walidein (Gus Ong). Pelatihan Praktisi Ruqyah Aswaja ini diikuti 130 peserta dari lembaga, banom NU dan masyarakat umum. (ATH)