KRITIK METODE FINAL PENDIDIKAN INDONESIA

KRITIK METODE FINAL PENDIDIKAN INDONESIA

DITULIS USER

Ahmad Sahal mahfudh
ngopiNEWS 02 Jun 2017 WIB

   KRITIK METODE FINAL PENDIDIKAN INDONESIA

(Oleh: Ahmad Sahal Mahfud)

   Pelajar tidak bisa dipisahkan yang namanya suatu sistem pendidikan, karena sejatinya pelajar itu adalah seseorang yang sedang menuntut ilmu baik itu secara formal maupun non-formal. Adapun pelajar terbagi menjadi 2 berdasarkan jenjang pendidikannya menurut saya, yaitu siswa dan mahasiswa. Siswa istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan menengah pertama dan menengah atas dan mahasiswa merupakan istilah bagi peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi yaitu perguruan tinggi ataupun sekolah tinggi.

     Pelajar adalah harapan oleh siapapun yang akan membangun kepemimpinan masa depan. Merekalah yang ada dibalik revolusi peradaban. Darinya kita sandarkan harapan – harapan kehidupan yang lebih menjanjikan. Padanya kita titpkan tongkat estafet perjuangan, pelajar sangat identik dengan kosa-kata pergerakan dan dari pergerakan lahirlah revolusi. Maka kesalahan yang tak termaafkan, bila kita mulai pura-pura tak melihat., tak mendengar, dan tak peduli terhadap realitas pelajar hari ini, karena segala pengalaman, wawasan, kesejahteraan, kesenjangan, penderitaan, pembodohan, dan kebahagiaan yang mereka lalui sekarang, menentukan arah kehidupan seperti apa yang akan kita alami nantinya.

     Sampai hari ini pelajar masih menjadi kelompok bisu, bahkan dibeberapa kesempatan terkadang pelajar menjadi komunitas yang sangat meresahkan. Pelajar belum memiliki posisi tawar yang cukup memadai untuk menggambar kehidupan mereka sendiri. Mereka masih sangat terpinggirkan secara sosial, ekonomi, maupun politik. Mereka dieksploitasi, dijual karena keserakahan para pemangku kebijakan, mereka terabaikan karena keluguan dan ketakberdayaan mereka. Mereka menjadi generasi yang frustasi dan bermasalah karena adanya konstribusi signifikan dari sistem, sistem dan kultur yang membuat mereka menjadi seperti sekarang.

     Seperti pada awal bacaan ini saya katakan bahwa pelajar tidak bisa terlepas dan bahkan erat kaitannya dengan pendidikan, yang seharusnya pendidikan itu bersifat memotifasi dan mendorong kreatifitas teman-teman pelajar untuk mampu mengekspresikan dirinya secara positif sehingga dia betul-betul mampu untuk menjadi sang penerus generasi. Akan tetapi pendidikan yang ada khususnya di Indonesia justru malah bertindak sebaliknya pendidikan yang saat ini yang dirasakan oleh pelajar adalah bagaikan sebuah penjara dan menjadi sebuah kosa-kata yang paling tidak mengenakkan di telinga para kaum pelajar. Sehingga motifasi dan dorongan para kaum pelajar itu semakin berkurang dan mengakibatkan kreatifitas mereka tidak mampu mereka kembangkan, tetapi malah sebaliknya yang terjadi karena suatu sistem pendidikan yang buruk kreatifitas mereka berbuah menjadi sebuah kenakalan yang biasa kita sebut dengan kenakalan remaja. Padahal seharusnya pelajar ini harus segera menyiapkan dirinya untuk menjadi penerus bangsa yang akan menggantikan estafet kepemimpinan kedepannya. Ada beberapa hal yang perlu saya tinjau ulang terkait dengan pendidikan yang ada di Indonesia secara universal yaitu Ujian Nasional (UN) yang saya katakan dengan tegas, adalah heroik pendidikan yang lucu.

      Ketika mendengar Ujian Nasional (UN) kita langsung membayangkan masa-masa sulit ketika di penghujung sekolah baik di kalangan SMP maupun di SMA. Bahkan begitu menakukannya momen yang disebut UN banyak pelajar-pelajar yang menyibukkan dirinya dengan belajar ekstra, les tambahan, bahkan membeli dan mempelajari setumpuk buku sampai-sampai kesehatan dan kewajibannya sebagai anak dan pelajar ditinggalkannya hanya untuk menghadapi sebuah moment yang sangat menakutkan bagi mereka, seakan akan ujian ini seperti halnya menghadapi kiamat yang kurang 2 hari .

     Permasalahannya pun tidak sampai disitu, selain para pelajar mengalami kondisi gangguan psikologis orang tua pun turut merasa khawatir akan apa yang dihadapi dan diderita oleh anak-anaknya. Apalagi jika pada saat pengumuman terdapat banyak pelajar-pelajar yang gagal dalam menghadapi UN dalam hal ini tidak lulus, maka banyak pelajar yang merasa putus asa bahkan sampai nekat untuk bunuh diri. Terlebih lagi dampaknya kepada orang tua, para orang tua harus menanggung malu atas penderitaan yang dihadapi oleh anaknya dan para pihak sekolah pun reputasinya akan menurun atas peristiwa tersebut karena telah dianggap gagal untuk mendidik siswa-siswanya.

     Karena pandangan saya UN bukanlah solusi yang baik untuk menentukan tingkat kelulusan peserta didik melainkan hanya adanya unsur “kepentingan” yang ada di dalamnya. Kenapa saya katakan seperti itu, karena indikator keberhasilan siswa tolak ukurnya bukan persoalan UN, bukan persoalan nilai, bukan persoalan instansi, tapi giman caranya Out come di lembaga tersebut terasa jelas, baik dari terstruktur, model, pelaksanaan, sehingga menghasilkan out put yang progress baik wawasan keagamaan, keekonomian, kebangsaan dan keummatan bukan selama out come 3 tahun di tentukan dengan 3 hari, yang lebih miris lagi secara prosesnya, baik secara pembelajaran maupun pengajaran begitupun model indeksnya yang tidak mempunyai variasi ataupun inovasi sehingga korban objecnya adalah peserta didik, terlihat jelas ketika UN representasi dari seluruh siswa yg mengikuti di katakan 99% lulus, sangat miris bagi generasi baru per-hari ini, sehingga melahirkan out put yang pragmatis.

      Terlalu rumit memang otak saya ngomong masalah UN di indonesia. UN ini sangat rumit untuk dilaksanakan, mengapa ? bisa kita kroscek sendiri, dari pengalaman saya, sebelum mengerjakan soal-soal Ujian kita di haruskan mengisi identitas dengan cara menghitamkan lingkaran dengan rapi, tidak boleh kurang ataupun lewat dari garis lingkaran, itu memakan waktu yang cukup lama brow. Ujian ini untuk apa, saya katakan itu adalah pembodohan generasi, dan pengeksploitasian kebebasan dalam berfikir dan bertindak akhirnya timbul kejumudan kaum pemuda lebih lebih peserta didik.

     Mau ujian atau berperang ? pengamanan yang begitu ketat pada saat Ujian Nasional berlangsung memang bisa kita lihat setiap tahun, bisa kita lihat di setiap sekolah di jaga oleh TNI atau POLISI, ini polisi gak ada kerjaan atau cari penghasilan baru. Ini sebenarnya membuat mental para siswa bakal down, karena ada beberapa siswa yang sangat takut dengan TNI atau POLISI dan itu membuat sisi psikologis mereka terganggu karena rasa takut itu. Selain itu, saya rasa sangat berlebihan karena sebenarnya yang kita awasi saat UN itu pelajar atau teroris ataukah lembaga instansi tersebut memang mencetak teroris.

   Selain ujian nasional, ada juga beberapa sistem pendidikan di Indonesia ini yang sangat merugikan pelajar dan juga dapat membatasi kreatifitas para pelajar yaitu tekhnik pengajaran yang terlalu monoton para siswa dipaksa untuk menguasai seluruh bidang studi yang telah disepakati. Padahal kita semua telah mengetahui setiap orang mempunyai bakat yang berbeda-beda. Karena suatu sistem yang sangat memaksa tersebut sehingga bakat dan kreatifitas pelajar itu akan terkurung karena tidak pernah digali sejak dini sehingga kulitas pelajar yang ada di Indonesia dan di negara maju lainnya itu mempunyai perbedaan yang sangat besar. Itulah akibatnya jika suatu sistem pendidikan ini masih terdapat unsur kepentingan didalamnya dan selama sistem pendidikan yang ada di Indonesia ini masih terdapat unsur kepentingan didalamnya maka saya yakin generasi penerus ini tidak akan pernah menang dalam persaingan ilmu pengetahuan dan teknologi jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.

     Berdasarkan yang pernah saya baca di artikel yang diterbitkan 27 November 2012 pada website BBC, Sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia menurut tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson. Ranking ini memadukan hasil tes internasional dan data seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010. Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Dua kekuatan utama pendidikan, yaitu Finlandia dan Korea Selatan, diikuti kemudian oleh tiga negara di Asia, yaitu Hong Kong, Jepang dan Singapura.

     Manajemen sistem pendidikan tak ubahnya dengan manajemen proyek secara umum, yang terdiri atas sub-sub bagian seperti manajemen SDM, waktu, biaya, resiko, dan lain sebagainya yang saling berkaitan. Berikut beberapa catatan yang perlu dicermati terkait dengan sistem pendidikan Indonesia saat ini:

     Pendanaan. Anggaran untuk pendidikan di Indonesia memang terus ditingkatkan, akan tetapi hal tersebut masih harus juga digunakan untuk hal-hal yang tepat. Pendanaan BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang sedang diterapkan saat ini memang cukup membantu, akan tetapi perlu dicermati pula mengenai distribusi serta sasaran dari pendanaan tersebut. Di wilayah-wilayah tertentu seorang siswa (dari kalangan mana saja baik kaya maupun miskin) dapat terbebas dari uang SPP dari SD Negeri hingga SMA Negeri, namun di wilayah-wilayah lain hal tersebut masih belum dapat terlaksana.

   Manajemen Pendidikan. Wewenang untuk mengambil kebijakan prinsipil dalam bidang pendidikan di Indonesia masih dipegang oleh pemerintahan pusat. Artinya, pemerintahan daerah belum berani mengambil otoritas untuk menentukan masa pendidikan dasar atau corak seragam di sekolah formal. Dengan demikian standarisasi pendidikan di manapun di Indonesia seyogyanya adalah sama. Di lamongan atau di jakarta, semestinya standar pendidikan untuk tingkat sekolah dasar sama, Namun perlu dipertimbangkan bahwa akses pada dunia pendidikan di wilayah wilayah Indonesia adalah tidak sama.

     Salah satu upaya yang bisa dijadikan starting point bagi upaya perbaikan dan pengembangan sistem pendidikan Indonesia adalah dengan mengetahui kelemahan dan kelebihannya. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kaji banding dengan sistem negara lain yang lebih baik, sehingga bisa menjadi gambaran bagi kita, bagaimana kita bisa memperkuat yang menjadi kelebihan sistem pendidikan indonesia dan memperbaiki kekurangan yang ada. Melalui peningkatan kualitas sistem pendidikan Indoneisa, kelak Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dan berada di barisan terdepan dalam usaha mewujudkan dunia yang lebih baik lagi. Laporan diatas juga menekankan pentingnya guru berkualitas tinggi dan perlunya mencari cara untuk merekrut staf terbaik. Hal ini meliputi status dan rasa hormat serta besaran gaji yang pantas.

Penulis : Ahmad Sahal mahfudh

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.