TAKUT yang Sesungguhnya...

24 Oct 2017 21:59   Khazanah
TAKUT yang Sesungguhnya...

Takut pada Allah SWT (khauf) adalah takut yang sesungguhnya. Karenanya, setiap insan akan berlindung hanya kepada Allah dengan memperbanyak amalan-amalan kebaikan, dan menjauhi segala yang dilarang-Nya SWT. 

Inti dari khauf adalah taat.

Para Arifin menyebutkan, tiga hal yang akan memasukkan manusia ke Surga-Nya kelak: Mahabbah, Khauf dan Raja'.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengisahkan kisah dua orang, yang amat 'takut' pada Allah SWT, yang hidup pada abad pertama Hijriah. Dua orang yang karena pengaruh 'khaufnya' itu, menyebabkan mereka tidak pernah merasakan nikmatnya tidur malam.

Gerangan siapa mereka? Dua orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz, dan Imam Abu Hanifah.

Pertama, marilah sejenak kita tengok 'ke rumah' Umar bin Abdul Aziz, tentang keseharian beliau...

Fatimah, istri Umar bin Abdul Aziz, mengisahkan tentang suaminya. Begini kisahnya...

"Aku belum pernah melihat orang yang melakukan shalat dan berpuasa sebanyak suamiku, dan tidak seorang pun yang lebih takut kepada Allah SWT melebihi dirinya.

Pernah suatu ketika, setelah melakukan sholat isya', beliau tetap duduk di atas sajadah sambil menangis terisak, lalu tertidur, dan bangun dalam kondisi masih menangis. Lalu tertidur lagi karenanya...

Pada suatu malam, saat bersama denganku di peraduan, ia menceritakan tentang kehidupan akhirat. Namun tiba-tiba ia bangkit dari tempat tidur, bagaikan burung pipit yang mengepak-ngepakkan sayapnya karena terkena tetesan air hujan, ia duduk sambil menangis. Melihat itu, segera kusodorkan selimut padanya."

Ibnu Katsir mengisahkan episode itu dengan amat apiknya, dalam al-Bidayah wan Nihayah. Inilah salah satu buku monumental karya murid Ibnu Taimiyah, disamping tentunya karya tafsir, yang dinisbatkan pada namanya, Tafsir Ibnu Katsir.

Selanjutnya... marilah kita 'menjumpai' Imam Abu Hanifah, melihat satu episode dari kehidupan beliau, berkenaan dengan 'takutnya' pada Allah SWT.

Inilah kesaksian sang murid, Yazid bin Kumait, tentang sang guru...

"Imam Abu Hanifah, adalah seorang yang amat takut pada Allah. Suatu ketika di shalat isya', Ali bin Husain al-Muadzin, menjadi imamnya. Dia membacakan Surat Az-Zalzalah.

Tatkala shalat telah usai, dan para jamaah pun telah meninggalkan masjid, aku melihat Imam Abu Hanifah masih berdiam di masjid. Beliau duduk tafakur dengan nafas terengah-engah. Aku berkata dalam hati, sebaiknya beliau aku tinggalkan saja sendirian di masjid, bisa jadi ia ingin sendirian bersama Rabb-Nya. Sambil aku letakkan lentera di sampingnya, lentera yang minyaknya tinggal sedikit.

Dan menjelang fajar, aku lihat beliau masih di sana dalam keadaan khusyu'. Sengaja kedatanganku mengendap-endap, aku tidak ingin mengganggunya.

Sayup-sayup aku mendengar doanya, 'Ya Allah, Tuhan yang membalas kebaikan seberat atom dengan kebaikan... Ya Allah, Tuhan yang membalas keburukan seberat atom dengan keburukan... Selamatkanlah Nu'man ini dari api neraka dan segala keburukan, agar aku selalu dapat dekat denganmu. Masukkanlah hamba-Mu ini kepada rahmat-Mu yang Mahaluas.'

Maka setelah itu, aku kumandangan adzan shubuh. Tiba-tiba lampu minyak itu menyala kembali, dan Imam Abu Hanifah segera berdiri untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat.

Sebelum itu, kudekati beliau, ia bertanya padaku, 'Wahai Yazid, apakah engkau akan ambil lentera minyak ini?' 'Oh tidak,' jawabku. 'Hanya saja aku heran melihat lampu yang mati itu tiba-tiba menyala.' Maka beliau berkata, 'Rahasiakan apa yang kamu lihat.'

Setelah beliau melakukan shalat sunnah dua rakaat, aku kumandangan iqamat, dan beliau pun berdiri untuk shalat bersama kami."

Imam Abu Hanifah, memiliki nama lain Nu'man. Beliau salah satu Imam Madzhab yang Empat. Madzhabnya dikenal dgn madhab Hanafi.

Melihat rasa takut yang sesungguhnya (khauf) dari mereka itu, timbullah pertanyaan, Apa yang menyebabkan mereka itu memiliki rasa khauf yang tinggi?

Mungkin, Ibnu Sammak, bisa mewakili dalam menjawabnya, "Takutlah kepada Allah seolah-olah engkau tidak pernah taat kepada-Nya, dan mengharaplah atas rahmat-Nya seolah-olah engkau tidak pernah durhaka kepada-Nya."...

Wallahu A'lam...*

Ady Amar