Kata PRIBUMI yang Dipelintir...

18 Oct 2017 11:21   ngopiOPINI
Kata PRIBUMI yang Dipelintir...

Kata "pribumi" tiba-tiba menjadi kata yang paling dibenci untuk digunakan, dan tidak sembarang orang boleh menggunakannya...

Kata "pribumi" menjadi sensitif diucapkan, layaknya menyebarkan ajaran partai terlarang. Terlarang diucapkan jika itu menyasar kelompok tertentu, etnis tertentu. Dan itu memang seharusnya terlarang.

Presiden kita, Pak Jokowi pun pada suatu kesempatan pernah juga melontarkan kata "pribumi". "Warga pribumi harus punya kesempatan kerja."...

Juga Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pun pernah melontarkan ucapan yang juga menyebut-nyebut kata pribumi, "Pemerintah akan bangun konglomerasi pribumi."

Tentu jika kita teruskan, masih banyak lagi pejabat yang melontarkan kata "pribumi", dan itu biasa-biasa saja.

Saat Presiden Jokowi dan menterinya itu mengucapkan kata "pribumi", tidak ada satu pun media yang keberatan apalagi menggorengnya menjadi berita headline berhari-hari...

Tapi saat Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta) mengucapkan kata "pribumi", meski itu  dalam konteks kolonialisme, dalam Pidato pertamanya sebagai gubernur terpilih, hampir semua media mainstream dan media online pun meresponsnya dengan nyinyir dan memelintirnya dengan membenturkan dengan kelompok etnis tertentu.

Asumsi dibuat dan dipelintir ke sana ke mari, dan mengundang penulis dan pengamat yang penuh "muatan" tertentu untuk berkomentar. Tentu ini tidak fair, dan keluar dari obyektivitas sebuah pemberitaan.

Tampak ada diskriminasi pada penggunaan kata "pribumi"... Siapa yang boleh dan tidak boleh menggunakan kata itu, meski menyebut kata "pribumi" itu dalam konteks kolonialisme, sebagaimana pidato pak Anies.

Apa yang salah dari ucapan gubernur Anies itu, dalam konteks kolonialisme, atas penggunaan kata "pribumi", tidak ada yang salah...

Membaca pemberitaan media dalam hari-hari ini, kita disuguhkan diskriminasi pada kata "pribumi", dan itu sudah di luar kewajaran.

Adalah salah besar jika menganggap masyarakat pembaca bisa dibodoh-bodohi memaknai kata "pribumi", yang pada satu pihak bersifat "halal" dan pihak lain bersifat "haram".

Masyarakat pembaca media sudah amat paham dengan makna tersurat dan tersirat dari sebuah pemberitaan. Masyarakat pembaca media sudah paham betul arah kebijakan sebuah media.

Jujur, bijak dan adil dalam pemberitaan mestinya menjadi acuan para pekerja media, meski itu hal yang tampaknya sulit dipenuhi, karena banyak sebab yang melatarbelakanginya.

Hari ini, kata "pribumi" bisa dipelintir ke sana ke mari, dan besok entah kata apa lagi...

Nasihat pada Pak Anies, bahwa ke depan haruslah berhati-hati dan bijak dalam menggunakan sebuah kata dalam ucapannya, jika tidak ingin menjadi bulan-bulanan pemberitaan, dan itu akan menghambat produktivitas kerja.

Selamat bertugas memimpin DKI Jaya, jaga amanah rakyat yang mengharapkan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik...*

Ady Amar