Membaca Anies-Sandi dalam Framing Media...

24 Oct 2017 06:02   ngopiOPINI
Membaca Anies-Sandi dalam Framing Media...

Framing itu makna asalnya adalah pembingkaian; kata asalnya frame yang bermakna bingkai...

Maka, framing media bisa dimaknai membingkai informasi atas suatu peristiwa, dan diharapkan akan terbentuk suatu opini tertentu, atau mempengaruhi opini publik. Itulah sekadar pengertian praktis tentang framing media.

Framing media, menyajikan peristiwa tidak dengan berbohong, tapi tidak dengan apa adanya...

Lewat sebuah pemberitaan, seseorang bisa diberitakan pada peristiwa yang sama tapi dengan penyampaian pemberitaan yang berbeda.

Artinya, jika Anda membuka pesawat televisi atau lembaran koran melihat pemberitaannya, maka yang tersaji adalah pemberitaan yang sama pada satu peristiwa, tapi beda dalam pengambilan sisi pemberitaannya...

Karenanya, framing media, dihadirkan dengan tidak berbohong namun bias dalam pemberitaannya. Dan semua itu tergantung dari arah kebijakan sebuah media, dan itu tidak terlepas dari si pemilik media bersangkutan. Itu biasanya menyangkut motif politik, ekonomi dan sebagainya.

Karenanya, publik kerap dibuat "geram", jika opini yang dikembangkan sebuah media yang ditemuinya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Semisal, Aksi 212, yang diikuti jutaan orang itu, diberitakan oleh sebuah stasiun televisi dengan hanya diikuti ratusan ribu orang saja.

Pemberitaan atas peristiwa yang terjadi, itu memang benar adanya, tapi mengecilkan jumlah peserta yang terlibat dalam Aksi tersebut.

Adalah hal biasa buat sebuah media membesar-kecilkan suatu peristiwa. Publik sedang "dimain-mainkan" oleh framing media. Itulah kenyataannya, suka atau tidak.

***

Anies-Sandi pun sudah mulai menjadi "bulan-bulanan" media yang terkooptasi oleh kepentingan-kepentingan yang melatarbelakanginya...

Di awal-awal menjabat sebagai Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jaya, keduanya sudah mulai diberitakan dengan pendekatan framing media.

Saat berpidato pada awal jabatan sebagai Gubernur, bang Anies mulai dihantam dengan satu kata "Pribumi", kata yang diucapkannya hanya sekali dalam pidatonya yang lumayan panjang. Meski kata Pribumi itu diucapkan dalam konteks kolonialis, tapi satu kata itu mampu digoreng ke sana ke mari, dengan durasi waktu yang tak terbatas.

Sedang narasi pidato yang panjang dan berkelas, itu tidak sedikit pun dibicarakan atau dibahas dengan semestinya. Ini tidak fair, kata sebagian publik yang belum begitu faham dengan framing media.

Begitu pula dengan bang Sandi, sebagai Wakil Gubernur, dia sudah mulai "diganggu" dengan pemberitaan yang "bias".

Sebuah media online yang sudah "berusia lanjut", memberitakan berita dengan judul demikian, "Teman Sandi Terlibat Penipuan, Bagaimana Nasib Sandi?" (Lebih kurang demikian judulnya, yang saya ingat)...

Teman Sandi yang dimaksud, itu tidak ada sedikit pun korelasi dengan bang Sandi dalam isi pemberitaan. Judul berita dibuat sedemikian rupa, agar orang bisa langsung menstigma buruk pada yang bersangkutan.

Tidak mustahil suatu ketika saat kucing bang Anies atau bang Sandi mati, karena entah sebab apa, maka tidaklah perlu terkejut jika kita temui judul pemberitaan yang absurd, "Kucing Kesayangan Anies/Sandi Mati, Tapi Sang Pemilik Tampak Cuek. Mungkinkah Kematiannya Tidak Wajar?"

Di era Gubernur DKI Jaya sebelumnya, hampir kita tidak jumpai media mainstream atau online membicarakan masalah Kemacetan dan Banjir dengan "benar".

Biasanya jika membicarakan kemacetan yang bahkan terbilang parah, mereka "mengecilkan" pemberitaan dengan misal, "Meski Kendaraan Padat, tapi Cepat Terurai"...

Dan bencana banjir dikecilkan dengan cuma, genangan air. Meski sekalipun "genangan air" yang ada tingginya lebih dari satu meter. Mereka menggunakan judul pemberitaannya dengan, "Air Genangan di Beberapa Titik Cepat Surut"...

Membesar-kecilkan sebuah peristiwa, tergantung di mana media itu berpihak. Tujuannya sekali lagi, untuk mengesankan pada publik, bahwa seorang pejabat itu gagal atau berhasil mengelola pemerintahannya.

Bang Anies dan bang Sandi akan masuk "pusaran" framing media sampai waktu yang tak terbatas. Dan publik mesti cerdas dalam "membaca" ke mana arah sebuah media itu berpihak...*

Ady Amar