Kepeleset Lidah Surkati, Jadilah RASJIDI...

12 Oct 2017 13:39   Khazanah
Kepeleset Lidah Surkati, Jadilah RASJIDI...
Syekh Ahmad Surkati (kiri) dan HM. Rasjidi (kanan)

Ia terlahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara keluarga Atmosudigdo. Lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915...

Ayahnya, Atmosudigdo, berasal dari latar belakang pedagang. Meskipun seorang muslim, tapi ia kurang menjalankan syariat agama secara baik...

Saridi, anak keduanya, itu memulai pendidikan Ongko Loro, setingkat Sekolah Dasar. Sekolah yang menggunakan pengantar bahasa Jawa...

Saat Persyarikatan Muhammadiyah di Kotagede membuka Sekolah Rendah, ia pindah ke sekolah itu...

Tamat dari Sekolah Rendah itu, Saridi melanjutkan ke Sekolah Guru (Kweekschool). Dia cuma sampai kelas tiga, berhenti sekolah karena terserang typhus...

Tapi semangat belajarnya tidak padam...

Saat menganggur itu, ia membaca tentang sosok Reformis Islam abad XX, Syekh Ahmad Surkati, yang membuka Perguruan Al-Irsyad, di Lawang, Jawa Timur...

Maka, Saridi memberanikan diri menyurati Surkati, menyatakan keinginannya untuk bisa menempuh pendidikan di Perguruan Al-Irsyad...

Syekh Ahmad Surkati membalas suratnya, mempersilahkan Saridi untuk datang ke Lawang...

Bahasa pengantar pada sekolah Perguruan Al-Irsyad menggunakan bahasa Arab. Awalnya Saridi mengalami kesulitan. Tapi tidak lama ia bisa mengikuti pelajaran dengan amat baik...

Ia tergolong murid yang pandai, dan karenanya Surkati memberikan tambahan pelajaran khusus padanya...

Dalam waktu singkat, Saridi sudah menguasai kitab gramatika bahasa Arab standar yang terdiri dari 1000 bait syair, Alfiyah Ibnu Malik. Saridi juga hafal dengan baik buku logika Aristoteles, Matan al-Sulam...

Betapa kagum Surkati pada Saridi atas kecerdasannya itu. Namun demikian, Surkati kesulitan menyebut nama Saridi dengan baik. Selalu Surkati kepeleset lidah, dengan memanggilnya Rasjidi (baca: Rasyidi)...

Saridi tidak pernah mengoreksi Surkati, atas penyebutan namanya yang salah itu. Diam-diam Saridi justru senang dengan penyebutan nama barunya itu, Rasjidi...

***

Setamat dari pendidikan di Perguruan Al-Irsyad, Lawang, Saridi melanjutkan pendidikannya di Kairo, Mesir, tahun 1931. Dia masuk Darul Ulum, dan mengikuti ujian persamaan sekolah menengah umum, dan lulus tahun 1934...

Lalu beliau melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Kairo, jurusan Filsafat. Dan lulus dengan prestasi cum laude, di tahun 1938...

Setelah itu, beliau menyempatkan diri melaksanakan ibadah Haji, dan di sanalah beliau mengukuhkan namanya menjadi Mohammad Rasjidi...

Itulah kemudian orang mengenal namanya dengan Mohammad Rasjidi, atau biasa disingkat HM. Rasjidi, atau nama pendeknya Rasjidi. Dalam perjalanan sejarahnya, dialah Menteri Agama RI Pertama, pada Kabinet Sjahrir II, tepatnya 3 Januari 1946...

Karir Rasjidi tidak hanya di Kementerian Agama saja, tetapi ia juga sebagai diplomat ulung yang dimiliki Kementerian Luar Negeri. Ia pernah menjabat sebagai Duta Besar pada Kerajaan Saudi Arabia merangkap Mesir...

Rasjidi pun menyelesaikan pendidikan Doktoralnya, di tahun 1956, di Universite de Paris. Disertasinya adalah kritik atas "Serat Centini", yang menyatukan ibadah dengan Mistik...

Rasjidi juga dikenal sebagai tokoh pendidikan. Ia adalah guru besar pada Fakultas Hukum, jurusan Hukum Islam, Universitas Indonesia. Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar itu, Rasjidi tidak lupa mengucap terima kasihnya pada beberapa orang yang telah membimbingnya selama ini, diantaranya...

Ahmad Ilhar, disebut namanya, yang ketika Rasjidi berumur 6-7 tahun, dialah yang setiap pagi selalu datang ke rumahnya di Kotagede, untuk mendengarkan bacaan al-Qur'annya...

Syekh Ahmad Surkati, pendiri dan ketua Jum'iyyah Al-Irsyad, disebutnya sebagai orang yang telah mengajarkan Islam dengan sebenarnya dan bahasa Arab dengan amat baik, saat usianya 16-17 tahun. Dan, Surkati disebutnya juga sebagai seorang yang memberi pendidikan, bahwa "Tidak semua yang ditulis di buku itu benar" ...

Mungkin itu sebuah pelajaran yang mengajarkan, agar sang murid tidak taklid pada satu pendapat yang termuat dari sebuah buku.

Rasjidi juga aktif menerjemahkan buku-buku bermutu, diantaranya Bibel, Qur'an dan Sains Modern, karya Dr. Maurice Bucaille, Janji-janji Islam, karya Roger Garaudy, Humanisme dalam Islam, karya Dr. Marcel Boisard, dan Persoalan Filsafat, karya Titus, cs.

Banyak pula tulisan lepasnya/opini, yang bersifat polemis dimuat di banyak media, diantaranya kritik tajamnya atas pikiran Nurcholish Majid (Cak Nur), tentang Islam Yes, Partai Islam No...

Nurcholish Majid menjuluki Rasjidi sebagai "The Guardian (Penjaga) dunia pemikiran Islam Indonesia, yang selalu merasa cemas bila melihat gejala 'penyimpangan' atau 'penyelewengan' dalam kegiatan intelektual."

***

Ia, yang bermula bernama Saridi, anak Kotagede, Yogyakarta, itu menjelma menjadi Rasjidi, yang bertabur prestasi yang sulit disamai...

Pribadi besar itu, Rasjidi, di setiap kesempatan selalu menyebut diri sebagai murid dari Sekolah Perguruan Al-Irsyad...

Ia juga salah satu yang terlibat dalam pendirian Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), bersama M. Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkoesasmito, Anwar Harjono, dan lain-lain. 

Mohammad Rasjidi, wafat di Jakarta, pada 30 Januari 2001, meninggalkan banyak karya besar...Sungguh pribadi yang sulit dicari pembandingnya...*

Ady Amar, pemerhati sosial dan keagamaan, tinggal di Surabaya