Anies dan Monoplay-nya Itu...

20 Oct 2017 11:08   ngopiOPINI
Anies dan Monoplay-nya Itu...

Drama Satu Babak yang mencengangkan... Bagaimana tidak, drama itu disampaikan dengan bahasa terukur dan intonasi terjaga. Tidak cukup sampai di situ...

Kisah drama itu ditulisnya sendiri, disutradarainya, dan dilakonkan seorang diri. Melakonkan seorang diri bak drama Monoplay... Satu orang di atas pentas, dan dalam kisah ini sang lakon bermain dengan tidak terlalu membutuhkan karakter dan perwatakan...

Tapi bicara apa adanya, bicara lurus-lurus saja pada apa-apa yang ditemuinya, dan itu disampaikan dengan penuh semangat bak ksatria di depan pasukannya, saat memenangkan satu episode peperangan, dan bersiap-siap akan memasuki episode peperangan berikutnya.

Dia bicara tentang merdeka, Pancasila, gotong royong,  persatuan, etos kerja, pembangunan... dan tidak lupa menyebut kotanya, Jakarta...

Kata-kata itu diulang-ulangnya, karena kisah yang sedang dimainkannya itu dibangun dari kata-kata yang berulang...

Tapi ada satu kata yang diucapkannya, yang menghunjam siapa saja yang menonton drama satu babak itu... Kata itu adalah Pribumi...

Setting cerita yang dibangunnya, saat melontarkan kata Pribumi itu, adalah Pribumi pada era penjajahan (kolonialis)...

Kisah yang dibangunnya itu memang di masa dan situasi kolonialis di bumi Batavia, yang di kemudian hari berubah menjadi Jayakarta, lalu Jakarta.

Satu kata itu menjadikan kehebohan tersendiri. Apa salah dari kata Pribumi itu, atau mungkin lebih tepat apa salah dari kisah di atas, saat menyebut kata itu...

Tuntutan cerita dengan setting zaman penjajahan, memang tidak terlepas dari kata Pribumi itu. Lalu siapa yang mesti disalahkan, jika sejarah kita memang demikian adanya...

Tidak boleh kita menghilangkan satu kata dari proses sebuah negara menuju kemerdekaannya. Dan para Pribumi itu adalah mereka yang membaktikan jiwa raganya untuk sebuah kehormatan bernama Merdeka...

Siapa sebenarnya Pribumi itu? Dan kenapa lalu kita akan menghilangkan jasa-jasa para Pribumi yang rela mati menghadapi musuh bernama kolonialis...

"Jangan pernah melupakan sejarah," kata Bung Karno.

Dan drama satu babak itu bisa jadi bagian dari ikhtiar untuk tidak melupakan sejarah masa lalu.

***

Merawat sejarah adalah tugas mulia. Dan itu sama mulianya dengan memotivasi orang kebanyakan untuk tahu harkat dan martabat dirinya...

Itu bukan perkara mudah. Menggelorakan semangat juang dalam era kemerdakaan adalah perkara yang amat sulit. Itu butuh kesabaran, kerja keras, dan keteladanan dari pemimpin yang baik, jujur dan bermoral.

Adalah Anies Baswedan, Gubernur DKI Jaya yang baru, mencoba memotivasi rakyat yang dipimpinnya dengan Pidato yang baik dan terukur.

Artinya, apa-apa yang dirasakan masyarakat coba dibedahnya, dan mengajak bekerja bersama-sama membangun kota Jakarta agar ke depan lebih baik.

Kata Pribumi, memang sudah "terlarang" diucapkan lagi di bumi Nusantara, dengan alasan yang sama-sama kita ketahui bersama. Saya sendiri lebih setuju saja jika kata Pribumi dihapuskan, tentu seharusnya disambur baik pula dari mereka yang selama ini sering "menghina", "mengolok-olok" dengan olokan yang keluar dari mulut-mulut kotor mereka...

Konsekuensi dari dihapuskannya kata Pribumi mestinya disyukuri semua pihak. Bukan malah kata Pribumi menjadi olokan yang menyakitkan, yang acap dilakukan etnis tertentu....

Jika tidak, maka tidak mustahil kata "Pribumi" akan muncul kembali, untuk membedakannya dengan etnis tertentu.

***

Anies Baswedan, dalam drama satu babaknya menyadarkan kita, bahwa "kemerdekaan" harus direbut dengan kerja keras dalam membangun  Jakarta.

Kita yang menonton drama itu, tentu memiliki kesimpulan sendiri-sendiri, dan bahkan memaknai cerita yang dibangun itu dengan tafsiran yang berbeda. Itu sah-sah saja...

Kaum bijak telah mengajarkan, Melihat apa saja itu tergantung pada isi kepala masing-masing... Maka nilai baik akan menjadi buruk di isi kepala orang yang buruk...

Kolonialistik suka atau tidak, tetap akan hadir di tengah-tengah kita dengan bajunya yang lain, meski sekalipun ia sudah "diresmikan" menjadi Pribumi...

Dan kita akan terus setia menunggu hadirnya episode-episode lanjutan, dari kerja-kerja besar yang akan dibangun Anies, juga Sandi...*

Ady Amar