Inilah Kader-Kader Golkar Yang Memutuskan Tidak Mendukung Ahok

Inilah Kader-Kader Golkar Yang Memutuskan Tidak Mendukung Ahok

DITULIS USER

Achmad Annama
ngopiOPINI 23 Mar 2017 WIB

Golkar tak solid memenangkan Ahok-Djarot di pilkada 2017. Benarkah? Pernyataan ini kembali mencuat berawal dari pertemuan anggota DPR dari Partai Golkar; Siti Hediati (Titiek) Soeharto dengan pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut 3; Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar ini menyatakan dukungannya secara pribadi kepada Anies-Sandi. “Saya tidak bawa atribut partai. Jadi saya tidak merasa melanggar keputusan partai” ungkap Titiek kepada media.

Titiek juga merasa lebih sreg dengan pasangan yang didukung Partai Gerindra dan PKS tersebut karena faktor agama Islam yang dianutnya. “Saya lebih takut kepada Tuhan daripada kepada partai” ujar Titiek berani. Putri Presiden Kedua Indonesia; H.M. Soeharto ini seakan siap dengan segala konsekuensi yang akan diterimanya, termasuk sanksi sebagaimana direkomendasikan Ketuanya di dewan Pakar; H.R. Agung Laksono. Keputusan Titiek Soeharto juga didukung adiknya, Mamiek Soeharto.

Jauh sebelum Titiek Soeharto, dua generasi muda Partai Golkar; Ahmad Doli Kurnia dan Indra J. Piliang sudah sejak beberapa bulan lalu mengungkapkan kegelisahannya. Doli, mantan Ketua Umum PP AMPG berkali-kali mengeluarkan pernyataan keras terkait Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mulai mengkritik dusta dan inkonsistensi ucapan Ahok hingga menyebutnya tokoh penyebab perpecahan di Indonesia. Doli bahkan menyebut keputusan Golkar mendukung Ahok keliru karena Ahok hanya akan membawa petaka bagi Golkar.

Berbeda dengan Doli, Indra J. Piliang sejak awal mengungkapkan keengganannya mendukung Ahok dan menyatakan dukungan terbuka kepada pasangan Anies-Sandi. Terlebih hasil survei Charta Politika kala itu, 46% pendukung Golkar memilih Anies-Sandi. “Suara Golkar Suara Rakyat!” Kata anggota Dewan Pakar Partai Golkar ini. Di putaran kedua, Indra pun lebih menegaskan dukungannya dengan membentuk relawan pemenangan Anies-Sandi bernama Sang Gerilyawan Batavia. Beberapa kader muda Golkar ditengarai ikut bergabung didalamnya.

Beberapa bulan lalu juga sempat muncul petisi pernyataan sikap dari kader-kader muda Partai Golkar yang dimotori dua mantan aktivis 98; Dedy Arianto (Oeoe) dan Khalid Zabidi. Ikut menandatangani beberapa kader senior seperti Ricky Rachmadi (mantan Pemimpin Redaksi Harian Umum Suara Karya), Andi Sinulingga (Ketua Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Partai Golkar), Indra Bambang Utoyo (Ketua Pemberdayaan Ekonomi DPP Partai Golkar), Samsul Hidayat (Tokoh Senior Kosgoro 1957 Jawa Barat) dan masih banyak lagi.

Petisi itu berisi 3 alasan utama menolak pencalonan Ahok oleh Golkar, yaitu: sentimen negatif umat Islam, tren elektabilitas yang terus menurun hingga sosok Ahok yang kutu loncat dan oportunis. Namun petisi itu tidak digubris baik oleh DPD I Partai Golkar yang bersama Nasdem dan Hanura tetap mengusung Ahok, sebelum PDI Perjuangan masuk di detik-detik terakhir. Oeoe pun konsisten dengan perjuangannya dan memilih mundur dari kepengurusan DPP Partai Golkar sebagai Ketua Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sedangkan Khalid Zabidi melanjutkan perjuangannya dengan menyatakan dukungan terbuka bagi pasangan yang didukung poros Cikeas (Demokrat, PAN, PKB, PPP), yaitu Agus Yudhoyono-Sylviana Murni. Mantan calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar dari dapil Bogor ini mengkoordinasikan segenap alumni ITB di Jakarta untuk mendulang suara bagi Agus-Sylvi. Pilihannya bulat, karena selain 3 alasan penolakan Ahok tadi, Dosen Paramadina ini memiliki beberapa alasan yang membuat dirinya menilai Anies Baswedan kurang pas untuk memimpin Jakarta.

Sirajuddin Abdul Wahab, Ketua Umum Barisan Muda Kosgoro (BMK) 1957 juga sejak awal memisahkan diri. Merekrut gerbong anak muda Golkar yang berasal dari ormas Trikarya; Kosgoro 1957, Siraj membentuk Agus Fans Club (AFC). AFC, sesuai namanya berafiliasi ke pasangan Agus-Sylvi. Selain itu, ada juga sosok Ketua Umum sayap SOKSI - Baladhika Karya; Nofel Saleh Hilabi. Sejak awal Nofel menyatakan dukungannya untuk Anies-Sandi. Bahkan untuk menunjukkan keseriusannya, Nofel mendirikan relawan Beringin Anies-Sandi (Brigass) untuk menampung aspirasi kader-kader muda Golkar yang tidak sejalan dengan elit partai mendukung Ahok.

Dan masih banyak kader-kader lain yang merasa keputusan Golkar mendukung Ahok keliru dan tentu saja ini sangat menggerogoti soliditas internal. Namun, butuh keberanian luar biasa untuk menyatakan sikap berlawanan secara terbuka seperti yang dilakukan Titiek, Indra, Doli, Oeoe, Khalid, Siraj dan Nofel. Apakah itu alasannya agama, ideologi hingga fakta-fakta lapangan. Apa yang mereka lakukan bukan hendak melawan partai, namun sekedar menyuarakan pilihan mereka di alam demokrasi. Dalam dada mereka saya yakin semangat beringin masih bergelora!

Penulis : Achmad Annama

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.