Enaknya, Wayang atau Wifi
Lakon Wayang Dewa Ruci

Enaknya, Wayang atau Wifi

DITULIS USER

Abdul Rohman Aminaga
ngopiOPINI 01 Mar 2017 WIB

     Enaknya, Wayang atau Wifi

Ustadz Karimun, seorang ta’mir Masjid As Salam desa Mojo berbincang santai bersama jamaah sehabis shalat Maghrib. Ia berucap kegundahan perihal sepinya jamaah, “Lha gimana ya, Masjid udah renovasi, pengurus takmir juga udah jalan, kok tambah sepi aja jumlah jamaah pak tho”, tanya Ustadz karimun pada Pak Tho yang kelihatan cuek hiraukan si takmir.

Kang Dulamin, salah satu pengurus Remas, seperti biasanya langsung serobot aja perbincangan serius itu, “ Bikin aja Wifi gratis Ustadz, biar ramai, apalagi pemuda kampung udah kebanyakan punya Hp Android tho ??”, belum sempat Ustadz Karimun menimpali, Kang Shobari yang sedikit ragu mulai ikut nimbrung, “Wah, Ide bagus itu kang, sekalian aja dirikan warnet disini, ada kopinya, gorengan nget anget.”  Spontan gelak tawa terbahak-bahak, apalagi Ustadz Karimun disamping menjadi Dosen Kampus, ia juga owner driver dari bisnis cafe angkringan bagi kebanyakan anak muda di seberang kota, 5 kilo dari Desa. 

Kalau miturut Pak Tho Gimana ? melihat geliat nyeleneh Kang Dulamin ini, apa kita memang sudah jenuh ya dengan ketukan rebana, nyanyian shalawat, suara-suara sumbang ngajinya bocah-bocah itu ya Pak tho ? atau kesibukan tetangga kita hingga melalaikan apa itu Muroqobah, Mujahadah, Muhasabah, saya jadi kalut ini Pak Tho ? pinta serius seribu jurus Ustadz Karimun, barangkali pendapatnya dapat menggugah ujaran bijak dari seorang Petani, ya begitulah Pak Tho, kehidupan sehari-harinya terasa hangat dipandang, sejuk dikata, anak-anaknyapun udah melalang buana ke negeri Paman Sam, Negeri Anggur, Padang Pasir, Negeri Jiran nan jauh disana.

Tetap saja, Pak Tho asyik bersama diamnya sengaja tidak ikuti polemik ini, itu nya Ustadz Takmir. 5 menit berlangsung tanpa kata-kata, si Kacong, cucu pertama Pak Tho lari tergopoh-gopoh menghampiri kakeknya, “Kek, ayo pulang, saya belum makan ini, nggak enak kalau nggak ama kakeek, ayoo keek, udah ditunggu mbah uyut lho”, godaan bocah usia 4 tahunpun tak bisa ditelak, “Ustadz, Besok setelah shubuh kita sowan aja ke Mbah Kyai Ngalah  ya, kangen udah lama nggak kesana”, ucap menoleh Pak Tho disaat tangannya ditarik kuat cucu kesayangannya itu. Nggeeh, Berangkat Bapak !! Serempak jawaban singkat kang Dulamin, si Ustadz, dan Shobari.

Fajar pagi mulai tampak sombong menampakkan keanggunannya, Mbah Kyai Ngalah, diteras Rumah sederhana terlihat duduk santai sembari menunggu kopi buatan santri kesayangannya, “Assalamu’alaikum, Kulo Nuwun Pak Kyai,”  Ujar Pak Tho sungkem ta’dzim, menghaturkan segala niat untuk melepas rindu. “Monggo, Monggo kulo sumanggaaken Pak Tho, Istimewa nggeh kok rombongan gini silaturrahminya,” senyum lebar Kyai sambil suguhkan jajanan Nogosari plus Bothe Godokan.

“Pak Tho, Pak Doseeeen”, panggil gamblang pak Kyai memulai obrolan, “Urusan Masjid Ngonten, Jenengan adakan Pagelaran Wayang aja”. Usulan sang Kyai tidak mengherankan bagi Pak Tho, yang sejatinya sudah menjalin akrab lama sejak masa mendampingi Babat Pesantren bersama Pak Kyai.

Berbeda dengan Ustadz Karimun, “Nuwun sewu, apakah pantas mengadakan wayang di halaman masjid Pak Kyai ? tanyanya mantab.

“Urusan Masjid Ngonten, Jenengan adakan Pagelaran Wayang aja”, kali kedua Kyai mengucapkan hal yang sama.

Kang Shobari, juga mulai gusar ingin bertanya lebih dalam, “Anu Pak Kyai, kenapa kok wayang sebagai media untuk meramaikan Masjid, apa hubungannya sholat dengan wayang Pak Kyai ?

“Hehe, Urusan Masjid Ngonten, Jenengan adakan Pagelaran Wayang aja”  kembali i’tiqad Sang Kyai memberi jawaban sama. “Di coba saja, namanya juga usaha meramaikan dakwah masjid tho.” Anggukan Pak Tho sekaligus jawaban aneh sang kyai menambah kebingungan Ustadz Karimun menjadi-jadi.

Di tengah Kabut malam, kemercik suara petikan gamelan, sesaknya pecinta wayang yang dipastikan ndelok mburine kelir (Layar Lebar Putih/bayang-bayang), goyang nada para sinden yang sarat dengan pesan tersirat, batang pisang, Cempala yang begitu artistik, melengkapi tawa-tawa serius Masyarakat Desa Mojo ketika mendengar lemparan lelucon hikmah Sang Dalang . Ya, begitulah adanya prosesi Pagelaran Wayang di Halaman Masjid As Salam, semalam suntuk Sang Dalang berbicara banyak tentang khazanah identitas orang Jawa, terlebih penjelasan gamblang Sang Dalang tentang Wayang Santri dihadapan 700 penonton.  

Celotehan Ayam berkokok pertanda Fajar Shodiq spontan mengingatkan Sang Dalang, memberi isyarat mendadak untuk diam sejenak, senjata Cempala ampuhnya tak dimainkan, “Yaaaaaaaa Ayyuhal Muddatsir, Qum Faandziiiiiiiiiirrrrrr... !! teriak gila sang Dalang, kepalanya tertunduk layu, sorot matanya mendidih, sekali ia menatap syahdu ke arah Lakon-Lakon Wayang.

“Masyarakat Mojo nopo beragama Islam sedanten ? Tanya Sang Dalang.

 Nggeeehhh.. serempak jawaban penonton penuh keheranan.

“Hahahahahaha....Dolor-dolor nopo tiyang Indonesia niki ? lantang suara Sang Dalang ditengah sumbang diamnya penonton.

Kira-kira apa maksudnya sang dalang ini Pak Tho ??? bisik Ustadz Karimun melihat kekompakan orang-orang menanggapi aktif pertanyaan Sang Dalang.

“Hahahahaha....” kembali sang Dalang tertawa membuat penasaran penonton.

“Ingkang meniko mbangun masjid As Salam sinten dolor- dolor ?? nopo Jin, Gendruwo, tiang edan, tiyang gendeng nopooo jenengan ingkang edan lan gendeng ?? hahahaha..”  ketawa Sang Dalang pun dimengerti langsung, hingga menggiring masyarakat diam tertikam tanpa ada petunjuk dari yang namanya promotor.

Sang Dalang melanjutkan “Masjid itu apa artinya ? Masjid niku panggone Sujud, panggone panjenengan rembukan, panggone Dolor-dolor ngamalaken pancasila nomer 3 nggeh niku Persatuan Indonesia, masjid itu tempat kita memahami sifat-sifat Gusti Allah ingkang welas asih, masjid ituuuu.... “  lagi-lagi diam terpana sang Dalang, tanpa diiringi gesekan gamelannya.

Masjid terbesar adalah ada di hatimu” ujar Sang Dalang sembari kedua tangannya berlabuh dada,  instrumen gendangpun sekaligus tabuhan nada Sunan Bonang mengakhiri pagelaran wayang, tepuk riuh penonton beriringan langsung dengan suara penabuh Jidor Kentongan, Gema Adzan Shubuh terlihat menjulang tinggi merobohkan dinding kalbu.

Ya Allaaah, selama 4 tahun terakhir, baru kali ini Engkau memberi nikmat Dendang Gemuruh shalawat para Jama’ah menjelang takbir sholat”. Isak tangis Si Takmir, terpaksa mencuri perhatian dari pelukan bijak Pak Tho.

Penulis : Abdul Rohman Aminaga

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.