Gawat, Indonesia Masuk Level Darurat Narkoba

04 Oct 2018 05:40   Kriminal
Gawat, Indonesia Masuk Level Darurat Narkoba

Indonesia saat ini telah menjadi salah satu negara dengan level status darurat narkoba. Pada level ini,  negara tersebut telah memiliki tingkat kerawanan tinggi terkait penyalahgunaan narkoba yang harus segera ditangani dengan intensif dan serius.

Sebab muasalnya ada beberapa, pertama Indonesia dianggap sebagai pasar besar yang potensial karena jumlah penduduknya yang besar, lebih dari 250 Juta jiwa, maka Indonesia menjadi bulan-bulanan sasaran jual mafia-mafia narkoba dunia.

Kedua,keunikan geografis Indonesia yang negara kepulauan dengan ragam kebhinnekaan budaya yang sangat kaya, sehingga bisa menjadikan peluang ragam penyamaran dan penyebaran titik tembus penyelundupan narkoba yang sangat luas dan bervariasi.

Ketiga, adanya penegakan hukum yang diberlakukan terhadap pelaku perdagangan dan sindikat penjualan narkoba juga terkesan kurang tegas dan masih ringan, sehingga efek jera dan takut dari para penjual maupun pengguna kurang terasa gregetnya. 

Kombes Pol Cahyo Budi Siswanto, Kabag Mitra Ro Penmas Divhumas Polri dalam sebuah forum Promoter bertajuk, "Menanggulangi Bahaya Narkoba Untuk Menyelamatkan Generasi Muda Indonesia" yang digelar di Hotel Amarossa Cosmo, Jakarta Selatan, Rabu (3/10) memaparkan, "Peredaran narkoba di Indonesia beraneka ragam modus dan caranya, mulai kasus permen narkoba yang sempat viral di masyarakat ternyata hanya hoax tapi memang perlu waspada sebab motifnya tidak hanya bisnis saja tapi untuk memperlemah generasi muda."

Menurut beliau, yang perlu lebih diwaspadai, sasaran peredaran dan penggunaan narkoba tersebut cenderung ditujukan kepada generasi muda. Secara massif dan sistematis dimaksudkan untuk memperlemah geneasi muda sehingga dapat mengancam masa depan sebuah negara.

Menanggapi hal tersebut, Dirtipidnarkoba Bareskrim Eko Daniyanto, memaparkan, sata ini strategi penanggulangan kejahatan narkoba yang dijalankan Polri memiliki tiga tahapan yaitu represif, preventif dan pre emtif yang kuncinya narkoba tersebut harus ditetapkan sebagai musuh bersama yang harus diperangi secara multi stakeholder.

Polri memiliki data yang memperlihatkan bahwa pengungkapan kasus narkoba trennya terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 saja,telah terungkap kasus narkoba sebanyak 47.767,  selanjutnya pada 2017 naik menjadi 50.474 kasus dan di 2018 sekarang, sampai saat ini sudah sebanyak 22.595 kasus.

 

"Namun begitu, potensinya akan terus bertambah lantaran jumlah tersangka yang masih berjalan kasusnya tahun 2018 sendiri tercatat sebanyak 28.755 kasus," jelasnya.

Keterlibatan warga negara asing (WNA) pada kasus narkoba ini juga mengkhawatirkan. Ada sebanyak 133 orang pada tahun 2016, meningkat menjadi 136 orang pada 2017 dan sementara pada 2018 sekarang sudah mencatatkan sekitar 60 orang. "WNA yang terlibat hampir merata dari berbagai negara di berbagai benua, namun yang terbanyak berasal dari negara - negara di kawasan Asia," paparnya. 

Tetty Helfery Sihombing, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM), yang juga menjadi pembicara di forum ini menyatakan kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia ini seperti fenomena gunung es. Yang telah terungkap ke publik hanya ujungnya yang masih sangat kecil dibandingkan jumlah yang belum terungkap.

Setidaknya tercatat ada sekitar 50 orang setiap harinya yang menurut data BPOM meninggal karena narkoba. Hanya ada sekitar 4,2 juta pengguna yang bisa direhabilitasim sedangkan sejumlah1,2 juta pengguna lainnya tidak dapat direhabilitasi.

 

"Akibat narkoba secara keekonomian kasus-kasus kejahatan internasional ini merugikan hingga Rp63,1 triliun," kata Tetty.

Adanya upaya bersama lintas sektoral berupa aksi nasional pemberantasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat terlarang, mrupakan langkah yang direkomendasikan Tetty. Juga diperlukan upaya pengembangan dan implementasi food defense sepanjang rantai pangan karena sekarang telah muncul isu bahwa narkoba telah dimasukkan dalam makanan atau minuman (snack) untuk anak-anak sekolah. (*)