Apakah Kapitayan itu Agama?

Apakah Kapitayan itu Agama?

DITULIS USER

Cak Room
Khazanah 07 Nov 2017 WIB
Apakah Kapitayan itu Agama?
 
Minggu ini kita bangsa Indonesia menantikan satu keputusan besar dari Mahkamah Konstitusi tentang kolom agama khususnya bagi ajaran yang dianggap asli Indonesia seperti Sunda Wiwitan dan atau Kapitayan. Banyak yang beragumen bila agama memiliki tiga variable. Pertama Memiliki Nabi atau penyebar utama. Kedua, memiliki Kitab Suci, Kitab yang menjabarkan isi ajaran dan nilai yang dianut. Ketiga, memiliki pengikut atau yang mempraktekkan ajarannya.
 
Banyak yang berpandangan bila agama nenek moyang Nusantara adalah animisme dan dinamisme, yang ditandai dengan penyembahan terhadap benda benda alam seperti batu, grumbul dan lain sebaginya. Padahal leluhur Nusantara di masa purba, telah memiliki keyakinan monotheisme, yang disebut “Ajaran Kapitayan”.
 
Mana bukti ajaran kapitayan itu monotheisme? Ajaran kapitayan itu memuja sesembahan utama yang disebut, “Sanghyang Taya” yang bermakna hampa atau kosong. Taya bermakna yang absolut, yang tidak bisa dipikirkan dan dibayang bayangkan, tidak bisa didekati dengan pancaindra. Sanghyang Taya juga digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat Ilahiah yang disebut Tu atau To yang bermakna “daya gaib”, tunggal dalam Dzat atau juga dikenal sebagai Sanghyang Tunggal.
 
Kedua bagiaman teknis ibadah ajaran kapitayan? apakah mereka melakukan gerakan gerakan tertentu dalam "mengkomunikasikan" diri sebagai hamba kepada Yang Serba Maha? Untuk beribadah kepada Sanghyang Tungga; ruhaniawan Kapitayan melangsungkan di suatu tempat yang bernama “sanggar”, yaitu bangunan persegi empat yang beratap tumpang dengan tutuk atau lubang ceruk di dinding sebagai lambang kehampaan sanghyang taya (Sunyoto 2016). Lebih lanjut dalam ritual sembahnyang, para ruhaniwan Kapitayan mula mula melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap tutuk dengan kedua tangan dangkat keatas dengan maksud menghadirkan Sanghyang Taya di dalam Tutu-d atau hati.. Setelah merasa Sanghyang Taya bersemayam di hati, kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat di hati. Posisi ini disebut sebagai swa-dikep (memegang keakuan diri pibadi). Proses Tu lajeg ini dilakukan dalam tempo relative lama. Setelah Tu lajeg selesai sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang kebawah) yang juga dilakukan dalam tempo yang relatif lama. Setelah Tu-ngkul proses selanjutnya disebut Tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Terakhir mereka melakukan To-ndem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya).
 
Ketiga, siapakah pembawa dakwah ajaran kapitayan? Dalam keyakinan penganut Kapitayan, leluhur yang pertama kali sebagai penyebar Kapitayan adalah Dang Hyang Semar putera Sang Hyang Wungkuham keturunan Sang Hyang Ismaya. Yang mengungsi ke Nusantara bersama saudaranya Sang Hantaga (Togog) akibat banjir besar di negara asalnya (ada yang menyebutnya Lemuria atau Swetadwipa) dan akhirnya Semar tinggal di Jawa dan Togog di luar Jawa. Sedangkan saudaranya yang lain yaitu Sang Hyang Manikmaya, menjadi penguasa alam ghaib kediaman para leluhur yang disebut Ka-Hyang-an. Silsilah Dang Hyang Semar dijelaskan dalam kitab kuno Pramayoga dan Pustakaraja Purwa. Secara umum kita mengenalnya sebagai kyai Semar. Bapak para punakawan, Gareng, Petruk, dan Bagong. Dalam cerita mahabarata versi Jawa, mereka adalah abdi dari Pandawa. Sedang dalam versi India, tidak dikenal parapunakawan ini. Sejarah banjir bandang di negerinya Dang Hyang semar ini juga ada yang mengkaitkan dengan sejarah bandir bandang jaman Nabih Nuh alaihisaalam. Dimana pasca peristiwa bencana di masa Nabi Nuh, ajaran monotheisme ini kemudian disebarluaskan oleh pengikut serta keluarga Nabi Nuh, ke seluruh penjuru dunia. Jejak ajaran Tauhid Nabi Nuh, nampaknya membekas kepada ajaran Kapitayan yang dianut oleh leluhur masyarakat Nusantara di masa Pra Sejarah.
 
Dari tiga kupasan ini bisa kita lihat apakah kapitayan ini ajaran agama atau sekedar animisme dan dinamisme semata? silahkan anda memberi penilaian sendiri

Penulis : Cak Room

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.